Mengintip potongan telinga ‘Blue Velvet’ (1986)

Kamis, 7 Juni 2012

Penemuan potongan sebelah telinga busuk tak bertuan di sebidang rumput kosong oleh pemuda bernama Jeffrey Beaumont (Kyle MacLachlan) tentu sangat mengagetkan sekaligus menimbulkan rasa heran. Penasaran akan telinga siapa dan mengapa bisa sampai terjadi, kemudian ia mencari informasi pada ahli forensik serta detektif. Belum terungkap, lantas ia bertemu putri detektif yang memberi informasi perihal kecurigaan-nya akan salah satu kamar apartemen yang diduga berhubungan dengan telinga itu. Penghuni kamar itu bernama Dorothy Vallons (Isabella Rossellini) seorang penyanyi bar. Suatu malam ketika Dorothy diketahui sedang tampil, Jeffrey nekad masuk kamarnya dengan kunci yang dicuri siang hari-nya saat menyamar sebagai petugas pestisida. Belum juga selesai tiba-tiba Dorothy terdengar membuka pintu apartemennya, spontan Jeffrey bersembunyi dalam lemari pakaian. Disinilah aktivitas Dorothy diketahui dengan ‘mengintip’ melalui celah-celah lemari pakaian. Tak lama Jefrey kepergok dan diancam dengan pisau. Sempat terjadi ketegangan, lalu cair begitu saja setelah Jeffrey mengungkapkan alasan dan apa saja yang telah dilihat tadi. Si perempuan justru minta bergantian ingin menyaksikan si laki-laki mengudari seluruh pakaiannya karena sebelumnya Jeffrey lah yang menyaksikan Dorothy melepas pakaian. Birahi menyambut. Belum juga making love tiba-tiba terdengar seseorang datang mengetuk pintu dan mendadak Jeffrey disuruh masuk lagi kedalam lemari. Orang tersebut adalah Frank Booth (Dennis Hopper). Adegan Mengintipnya dilancarkan kembali, melihat Dorothy pasrah dengan perlakuan frank yang kasar namun juga ada unsur ‘seksualitas yang tidak dilakukannya dengan bersetubuh’. Sangat dimanjakan mata Jeffrey, membuatya bernafsu hingga suatu waktu setelah malam itu Jeffrey kembali lagi menyambangi Dorothy dan menerima ajakan percintaan dari Dorothy sebelumnya. Dorothy ternyata memiliki hasrat yang luar biasa dengan meminta untuk diperlakukan secara kasar, sempat kaku karena itu adalah kali pertama Jeffrey bercinta, akhirnya ia mengerti dan memberikan kepuasaan kasar dengan diiringi backsound auman harimau. 

Sekelumit cerita diatas adalah plot dari film Blue Velvet karya David Lynch. Seorang sutradara spesialis film-film Sureal dimana ia sebelumnya adalah seorang pelukis. Cukup Sureal memang jika memperhatikan ending: setelah Jeffrey menembak kepala frank kemudian berganti scene pada pekarangan rumah dimana Jeffrey sedang tiduran seolah-olah yang diceritakan sebelumnya adalah kejadian kemarin-kemarin. Lantas Jeffrey masuk ke rumah dan melihat burung memakan serangga di jendela kemudian berpindah lagi pada slide-slide nggak nyambung salah satunya mobil pemadam kebakaran. 

Kata kunci dan bagian yang disoroti dalam film tersebut adalah adegan ‘mengintip’-nya, diistilahkan Voyeurism. Dalam diskusi kelas filsafat dalam film kali ini hadir pemateri tamu yakni Reza (kolektor Komik, Musik, Film yang tidak biasa)—perekomendasi film tersebut—. Setelah menonton bersama, Reza kemudian memberi penjelasan mengenai film beserta sutradara. Tanya-jawab pun bergulir. 

 Pertanyaan yang paling umum dan kasar adalah: Mengapa jika dalam film yang disoroti bagian mengintip namun dasar cerita berasal dari telinga? Dipersempit, bagaimana hubungan antara telinga dengan mata? Barangkali sama saja kiranya antara mengintip dan menguping, sama-sama sebuah kegiatan dimana kita melihat atau mendengar tanpa izin, atau malah diizinkan secara tidak langsung. Kegiatan dimana yang awalnya Subjek, ketika diintip/dikuping sudahlah menjadi Objek karena ada Subjek baru. 

Van Gogh memotong telinganya karena ia sudah tak mau peduli dan menerima suara-suara menyangkut dirinya, keputusan tepat. Andaikan Van Gogh mencongkel matanya apa yang terjadi? Jelas Van Gogh tidak bisa berkarya lagi, selain itu mungkin sedikit banyak ia masih tetap mendapat kritikkan. Bambang Sapto menilai bahwa telinga memiliki sebuah jalur atau alur layaknya labirin, berkelok-kelok tak keruan. Barangkali labirin dalam telinga itulah jalur kebebasan sebebas-bebasnya. 

Dalam mengintip atau Voyeurism merupakan suatu naluri alamiah, kodrati, bukan perihal etis atau tidak. Namun bila diperhitungkan pada nilai penting atau tidak, bisa bermacam-macam jawaban. Nyontek, mengintip orang mandi, mengintip antrean, mengintip orang bersetubuh (film bokep), mengintip lewat sms, YM, twitter, facebook dan lain sebagainya adalah dalam koridor pentingkah atau tidak dan butuhkah atau tidak? Terlepas merupakan suatu hiburan, kebiasaan, keharusan, atau keisengan belaka. Tantangan-nya seberapa teliti, ulet, tekun kah manusia hari ini untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan yang begitu bertebaran jika itu saja sudah bias, privasi saja sudah menjadi bias, ketika mengintip juga menjadi bias karena objek intipan terbuka lebar, mudah, dan bebas. Serta pengintip sudah semakin berjamaah. 

Kembali kepada cerita Blue Velvet saat Jeffrey mengintip Dorothy terlentang dan mendapat perlakuan kasar semi seksualitas oleh Frank, sebelumnya Frank sempat mendongakkan kepala Dorothy keatas supaya tidak melihatnya, kemudian berkata: 

“Don’t You Fucking Look at Me” 

Benny Apriariska
Previous
Next Post »