‘Membaca’ film bisu tak berplot ‘Man With a Movie Camera’ (1929)

Moh. Syafari Firdaus sebagai narasumber (kanan).

Kamis, 14 Juni 2012

Bilamana dunia perfilman hari ini sudah semakin canggih dari yang sudah canggih menyajikan berbagai macam gaya tutur, melodramatic efek dan mewadahi segala kemauan penonton. Maka bagaimana jadinya jika ada film yang jauh dari itu pada konteks hari ini. Film hitam putih, tanpa alur cerita dan tanpa suara. Bagi yang belum pernah menonton-nya cobalah untuk membayangkan, bagi yang sudah coba ingat kembali bagaimana pertama kali menontonnya. Bisa jadi malah mengolok-olok, merasa tidak menghibur, buang-buang waktu dan tidak bermanfaat. Namun tidaklah hal-nya bila kita mau mengesampingkan kebiasaan itu dan mencoba membaca serta mengkaitkan. 

Seperti pada Kelas Filsafat dalam Film pertemuan ke-5, film yang diputar adalah documentary film berjudul Man With a Movie Camera / ‘Chelovek s Kinoapparatom’ (1929) dibuat oleh Dziga Vertov. Tentu saja seperti disebut awal tadi: hitam putih, tanpa alur cerita, hanya diiringi musik. Sangat cocok disebut sebuah video klip musik bukan suatu film yang berdurasi 66 menit itu. Hanya footage (rekaman) yang menggambarkan suasan sehari-hari saat itu di Soviet, biasa banget pokoknya. Nggak ada adegan berkelahi, dimarahin ibu tiri, ketemu kecengan ditempat kerja atau besuk saudara di rumah sakit karena kecelakaan. Sekali lagi hanya footage seperti: keramain orang, perempuan menjahit, pasangan mempersiapkan pernikahan, kereta api, penambang, rumah susun, dan paling banyak memperlihatkan gerak mesin, industri dan orang. Cukup popular saat ini sekaligus juga meng-absurdkan (bisa jadi karena tidak ada narator atau alur cerita). 

 Ketika berdiskusi, pemateri undangan kedua kelas itu adalah M. Syafari Firdaus (Sastrawan, Filmmaker, kritikus) yang juga pemilih film, dengan segera mengupas sosok seorang Vertov asal muasalnya hingga kemunculan film-nya yang dianggap ‘meaningless’ oleh para kritikus saat itu. Barulah pada 1950-1960an Man With a Movie Camera dibicarakan dan dipandang fenomenal setelah diputar secara luas di Eropa dan Amerika. 

Dilihat dari pemakaian teknik editing film, untuk tahun itu—1929— hingga saat ini cukup nyengir-lah saja (luar biasa —Pen). Yang paling kentara adalah penggunaan teknik stop motion pada sebuah kamera dengan stand-nya yang bergerak terpatah-patah seperti robot. Bayangkan saja bagaimana pembuatannya saat itu, sangat manual dan membutuhkan keuletan pengambilan gambar berkali-kali, memotongnya lalu menyusun hingga seolah-olah hidup. Bandingkan dengan cara pembuatan stop motion saat ini, sangat berbeda bukan? Sudah semakin canggih dan instan. Belum lagi penggunaan teknik lain yang meyakinkan bahwa sebenarnya pada tahun segitu sudah lebih canggih ketimbang hari ini.  

Man With a Movie Camera juga digolongkan kategori film eksperimental, sangat terlihat dari gambar-gambarnya yang konyol nggak nyambung. Tapi dari sanalah pula sebuah benang merah bisa didapatkan (Manusia, Mesin, Kehidupan), dan sisanya adalah tanda menunggu untuk di-arti/kait-kan. Tentu saja film tersebut sangat-lah politis, propagandis, ideologis mengusung Marxis-Leninis, namun dikemas secara renyah, ringan, halus dan puitik. 

Mesin erat hubungannya dengan industri. Sebuah mesin dan perindustrian di jalankan oleh manusia. Sangat banyak hal/aktivitas lain (didalam, diluar dan yang bersinggungan) dengan sistem kerja seperti di industri. Dan semua itu adalah suasana dari kehidupan yang ditampilkan. Kental jelas pendikotomian setiap bagian-bagian jika dirangkaikan misal: kereta api-kereta kuda, perempuan mencuci-perempuan pedicure, pekerja pabrik-bertamasya. Seolah-olah Vertov disini memang sedang dalam rangka mempropagandakan kaum proletarian untuk mendapat empati dari penonton ketimbang borjuis. 

 Ide Vertov hanyalah ingin menunjukkan apa yang ada dan terjadi memang begitu, real tanpa ada skenario sebelumnya. Seperti salah satu produk televise lokal, sebut Termehek-mehek, acara tersebut diangggap mencuri ide Vertov yakni ingin ‘menampilkan keadaan apa adanya’, pun jika itulah kesamaan antara Vertov dengan reality show tersebut, tapi tetap ada perbedaannya yakni pada Termehek-mehek menggunakan skenerio untuk sebuah keadaan riil. 

 Penjelasan Daus sangat banyak memberi informasi yang detail dari siapakah Vertov hingga Man With A Movie Camera-nya yang membuat perseteruan antara futuristik Avant-Garde dengan penganut formalis di Soviet menjadi bias. Jika film ini sangat ‘ideologis’, Bambang Sapto disana berpendapat bahwa, “Sebenarnya ideologi-nya adalah ketika para penonton mulai membaca dengan cara lain karena tidak adanya alur”. Dan dikomentari oleh Syarif bahwa, “Justru film tersebut tidaklah ideologis. Karena jika film Vertov sangat Marxis-Leninis, pertanyaan mengapa justru penonton tidak dibuat satu arah dalam pemaknaan? malah dibiarkan secara bebas mengartikannya.” Film yang dibuat berpuluh-puluh tahun lalu jika dianggap tidak cocok dengan hari ini yang serba ‘cling’, sebenarnya sangatlah cocok. Gaya tutur yang bisa jadi “post-post-post-post modernis” Vertov mengasumsikan ketidak jelasan, tumpang-tindih, ketidak ingin tahuan, keterasingan, keterpisahan yang nyaris tidak beralur pada zaman sekarang. .Terlihat dalam film ada sesosok kameramen kesana kemari membawa kamera tak tentu arah. [ ] 

 * Awalnya —1929—film ini tanpa suara, baru pada tahun 1995 film diperbarui dengan hanya ditambah alunan musik yang dibuat secara live (tidak mengambil dari lagu yang sudah jadi).

Benny Apriariska
Previous
Next Post »