Memahami Uebermensch

Jumat, 29 Juni 2012

Gambar diambil dari sini.


Kelas Filsafat Martil memasuki pertemuannya yang keenam. Kali ini, Rosihan Fahmi alias Kang Ami mengajak pesertanya untuk memasuki alam pikir Friedrich Nietzsche yang paling subtil, yaitu tentang manusia super: Uebermensch.

Kang Ami memulainya dengan mengulang kembali konsepsi khas Nietzsche, yaitu tentang dua macam manusia, yang satu adalah manusia budak atau manusia kawanan, satu lagi adalah manusia tuan atau manusia super. Setelah itu Kang Ami menayangkan tulisan berikut secara besar-besar via power point:

"Lihatlah, aku mengajarkan Uebermensch kepadamu! Uebermensch adalah makna dunia ini. Biarkanlah kehendakmu berseru: Hendaknya Uebermensch menjadi makna dunia ini." -Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra

Sebelum memasuki apa itu Uebermensch sendiri, Kang Ami terlebih dahulu mengajak diskusi para peserta -seperti biasa- untuk mengungkap apa yang tersirat di benaknya segera setelah pemaparan pembuka tadi. Ping memulai pendapatnya, "Benar, salah, masalah, konflik, bukankah itu ada karena ada orang lain?" Sedangkan Faishal melanjutkan dengan pertanyaan, "Bagaimana mempraktekkan kehendak untuk berkuasa? Dan bagaimana Uebermensch bisa berhubungan dengan liyan?" Kang Ami memaparkannya dengan mengatakan bahwa keliru ketika kita menganggap Uebermensch adalah agresif dalam arti "suka menampar sesama". Uebermensch adalah mereka yang "kokoh di medan perang", karena hidup ini sudah pada dasarnya adalah peperangan: Hadapi sendirian, berdiri di atas kakimu sendirian, tidak usah berkelompok karena yang demikian akan menenggelamkanmu jadi manusia kawanan!

Slide berikutnya Kang Ami menampilkan cuplikan dari buku Thus Spoke Zarathustra, tentang tiga metamorfosis ruh, yaitu unta, lalu singa, lalu anak kecil. Tahap unta adalah mereka manusia yang masih menanggung beban, entah maksudnya dogma atau idola terhadap orang lain, sehingga manusia itu tidak punya prinsip yang kokoh. Tahap singa adalah mereka manusia yang dari aku menerima apapun ("aku harus"), menjadi aku ingin, aku berhendak, dan melawan nilai-nilai moralitas yang ada. Namun Nietzsche tidak menutup metamorfosisnya di tahap singa, tapi di tahap anak kecil. Katanya, anak kecil adalah dimulainya roda baru: Satu Ya Suci. Anak kecil adalah tahap pemaknaan ulang, kebebasan, permainan, dan kegembiraan.

Setelah panjang lebar, barulah Kang Ami membahas perihal terminologi Uebermensch itu sendiri. 
  • Uebermensch: Ueber - (di atas) Mensch (manusia)
  • Oscar Levy, seorang penulis dan R.J. Hollingdale seorang pengarang menerjemahkan Uebermensch dalam bahasa Inggris dengan istilah Superman.
  • Sementera Kaufmann menerjemahkan Uebermensch dalam Bahasa Inggris dengan istilah Overman.
Lalu Kang Ami masuk ke pengertian Uebermensch. Apa itu Uebermensch?
  • Ajaran Nietzsche tentang Uebermensch diperkenalkan lewat tokoh Zarathustra, dari bukunya  Thus Spoke Zarathustra.
  • Uebermensch adalah cara manusia memberikan nilai pada dirinya sendiri tanpa berpaling dari dunia dan menengok ke seberang dunia. 
  • Nietzsche melalui tokoh Zarathustra, mengajarkan nilai tanpa jaminan kepada semua orang.
  • Dengan cara penilaian ini, Nietzsche tidak lagi menaruh kepercayaan setiap bentuk nilai adikodrati dari manusia dan dunia.
  • Manusia harus turun ke dunia dan mengakui dunia serta dirinya sebagai sumber nilai.
 Slide berikutnya, Kang Ami memaparkan ajaran Uebermensch:
  • Satu-satunya penghargaan akan hidup adalah dengan berkata "Ya" pada hidup itu.
  • Uebermensch itu seperti air laut, yang selalu siap menerima air sungai manapun walau penuh dengan polusi. Ia tetap air laut.
  • Orang yang memaknai dunia lewat Uebermensch tidak gentar menghadapi dorongan hidupnya yang dahsyat.
  • Penolakan hidup tidak hanya karena orang berhadapan dengan penderitaan yang menakutkan. Penolakan juga dapat terjadi karena orang merasakan mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat. Orang tidak berani mengakui bahwa dirinya adalah penyebab pengalaman ini. Kemudian ia menggantikan penyebab sebenarnya dengan pribadi yang palsu yang dianggapnya jauh lebih kuat, yaitu yang ilahi.
  • Dengan nilai Uebermensch, orang menjadi kerasan tinggal di dunia.
  • Karena pada dasarnya, Uebermensch adalah ajakan untuk mengafirmasi hidup tanpa membiarkan sedikitpun sisa untuk ditolak.
Setelah itu muncul beberapa diskusi seru. Salah satunya datang dari Kape yang ingin mengetahui dengan tegas dikotomi Barat dan Timur: Apakah ada logika Barat dan Timur? Apakah ada matematika Barat dan TImur? Kang Ami selalu bertanya balik dengan metode Sokratik: Peta apa yang kamu gunakan dalam membagi Barat dan Timur? Sikap atau geografis? Kang Ami memaparkan bahwa menurut Nietzsche, klaim universalitas adalah kekuasaan: Barat dan Timur adalah suatu dikotomi kekuasaan.

Di akhir pertemuan, dalam kegalauan Kape yang amat gelap, Kang Ami menutupnya dengan slide:

"Kebebasan manusia adalah bahwa ia merupakan jembatan dan bukan merupakan tujuan (Zweck); yang menyenangkan dalam diri manusia adalah bahwa ia selalu ada dalam gerak ke depan dan gerak belakang." - F. Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra

Previous
Next Post »