Filsafat dalam Film The Truman Show (1998): Posmodernisme dan Matinya Subjek

Ditulis sebagai suplemen untuk kelas ”Filsafat dalam Film”
28 Juni 2012



The Truman Show adalah film yang disutradarai oleh Peter Weir. Wikipedia mengategorikan genre film ini ke dalam psychological-satirical-drama-comedy. Meski film ini dinominasikan di beberapa kontes seperti Academy Awards dan Golden Globe Awards –yang artinya, estetikanya memenuhi “standar” film pada umumnya-, namun yang justru lebih banyak disorot adalah kandungan filosofinya. Ada yang melihat The Truman Show sebagai eksternalisasi ide kristianitas, eksistensialisme, simulasi realitas, hingga kritik terhadap acara-acara reality show di televisi. Bahkan secara dampak, dalam psikologi ada yang disebut sebagai The Truman Show Delusion, yakni kasus yang menimpa orang-orang yang merasa mereka hidup di dunia hasil konstruksi, oleh sebab mereka meyakini dirinya adalah bintang televisi seperti halnya Truman Burbank. The Truman Show, menariknya, bisa dinikmati dalam berbagai lapisan. Tidak seperti misalnya film Ingmar Bergman atau David Lynch yang  mensyaratkan suatu pemahaman filosofis, film Peter Weir ini bisa dinikmati sebagai hiburan.

Analogi Gua Plato

“I have given Truman the chance to lead a normal life. The world, the place you live in is the sick place” - Christof

Penonton tidak pernah tahu apa yang terjadi pada Truman Burbank setelah dia pergi dari Seaheaven untuk kemudian kembali ke kehidupan ‘nyata’ yang non-televisi. Namun Christof, sang sutradara, berkali-kali mengatakan bahwa kehidupan Seaheaven yang ia ciptakan adalah jauh lebih baik dari kehidupan di luar sana.

Plato, dalam bukunya The Republic, pernah menuliskan sesuatu tentang orang-orang di gua. Kata Plato, yang dalam buku tersebut digambarkan tengah berbincang dengan Glaucon, bayangkanlah umat manusia hidup di dalam gua bawah tanah dengan jalan masuk lebar yang sangat terbuka untuk cahaya. Ada sebarisan narapidana yang menatap kea rah dinding, membelakangi pintu masuk. Kaki dan tangan mereka terikat rantai, leher mereka dipasung, sehingga praktis mereka tidak dapat menggerakkan kepala. Yang dapat mereka lihat hanyalah dinding di hadapan mereka saja.

Di belakang punggung mereka ada api unggun yang bernyala terang. Tanpa mereka ketahui, terdapat sebuah dinding setinggi kepala di antara api unggun dan mereka. Di seberang dinding terdapat orang-orang yang hilir mudik mengangkut barang di atas kepala. Bayangan dari benda-benda itu tampak pada dinding di hadapan para narapidana akibat cahaya api dan gema suara orang-orang yang mengangkut barang terpantulkan oleh dinding gua ke telinga para narapidana. Yang dilihat mereka, kata Plato, seumur hidupnya hanyalah bayangan-bayang serta gema suara-suara. Seperti dalam kasus Truman, wajar kalau ia mengasumsikan bahwa bayangan dan gema itu adalah satu-satunya realitas yang ada.

Lalu, sebagaimana dilanjutkan oleh Plato, bayangkan bila salah seorang narapidana dapat melepaskan diri dari rantainya. Seandainya ia dipaksa keluar dari gua itu ke dunia yang terang benderang dengan sinar matahari, ia akan buta untuk sesaat dan kebingungan. Perlu waktu lama sebelum akhirnya dia bisa mampu memandang atau memahami apa yang ada.

Analogi tersebut bisa disandingkan dengan tragedi Truman yang hampir seumur hidupnya tinggal di dunia yang ia yakini sebagai riil. Ketika ia keluar dari dunia televisi dan berbaur dengan dunia di luar sana, akankah ia merasa “buta sesaat”? Akankah ia merasakan apa yang disebut Christof sebagai “dunia yang kebohongannya juga sama saja”? Maka mana yang kemudian Truman pilih, tinggal di luar gua dengan kenyataan yang sama sekali asing, atau kembali ke dalam gua, menghadapi kenyataan yang sudah ia akrabi hampir seumur hidupnya?

Analogi Plato tersebut bisa direlevansikan secara luas melampaui The Truman Show sendiri. Selalu ada pertanyaan besar tentang realitas mana yang kita mesti percayai. Facebook misalnya, tentu saja bukan realitas. Namun demikian, ada orang-orang yang memilih untuk mendekam di sana dan menganggapnya sebagai kenyataan, ketimbang berinteraksi secara langsung wajah ke wajah. Ada anggapan, Facebook adalah dunia yang lebih mudah karena kita bisa interaksi dengan ribuan hanya dengan melihat layar. Sedangkan dalam keseharian, untuk menghadapi satu wajah manusia saja, kita butuh bekerja keras. Dualisme realitas ini menjadi tema cukup populer hari ini, terutama sejak perkembangan dunia maya yang semakin “nyata”. Bagi Plato, hal tersebut sudah ia suarakan sejak dahulu lewat analogi gua.

Reality Show

“We've become bored with watching actors give us phony emotions. We are tired of pyrotechnics and special effects. While the world he inhabits is, in some respects, counterfeit, there's nothing fake about Truman himself. No scripts, no cue cards. It isn't always Shakespeare, but it's genuine. It's a life.”- Christof

Reality show mengalami rating mengagumkan di Indonesia sejak misalnya Termehek-mehek, Playboy Kabel, Indonesian Idol, yang semuanya dipelopori oleh acara kontes menyanyi cukup legendaris: Asia Bagus. Dalam pembahasan sebelumnya –di film Blue Velvet- tentang voyeurism, reality show bisa dipahami sebagai gejala alamiah kesukaan orang-orang terhadap kegiatan mengintip. Maksudnya, mengintip adalah suatu kenikmatan tersendiri ketika melihat segala sesuatu berada dalam “kondisi yang tanpa rekayasa”. Kondisi yang disebut Sartre sebagai kondisi tanpa diobjekkan oleh tatapan kita.

Mari kembali ke film The Truman Show: Mengapa banyak orang begitu menikmati tayangan tersebut? Atau tanyakan pada diri kita, jika betul-betul ada acara semacam itu, akankah kita menikmatinya? Jika ya, maka tentu saja ini bagian dari gejala voyeurism. Bahwa kita semua memang sangat suka mengintip. Hal tersebut ditunjukkan setidaknya dari acara The Truman Show sendiri yang mengamati Truman Burbank 24 jam dari mulai bangun tidur hingga kembali tidur.

Ada suatu kenikmatan ketika melihat sesuatu dalam kondisi tanpa rekayasa. Atau setidaknya, kita membayangkannya tanpa rekayasa. Film sendiri tentu saja merupakan rekayasa karena ada aktor, skenario, serta sutradara yang memberi arahan alias prakonsepsi sehingga film itu sendiri bisa dikatakan “sudah diatur”. Sedangkan dalam reality show, pelbagai kondisi adalah tanpa aktor, skenario, serta sutradara (dalam kasus tertentu, ada ketiganya, tapi perannya tidak otoritatif seperti dalam film) sehingga yang dipertontonkan justru adalah ekspresi-ekspresi spontan yang apa-adanya -kurang lebih bisa kita bandingkan dengan film Man with a Movie Camera-nya Dziga Vertov-.

Lebih dari itu, reality show juga menampilkan apa yang Edmund Husserl sebagai dunia apa adanya atau dunia keseharian (lebenswelt). Husserl mengritik cara pandang terhadap dunia yang seringkali sudah diberi kerangka dalam kepala kita. Misalnya, ada seorang bermuka tampan dengan menggunakan perisai dan pedang, ia harus pergi melawan penyihir buruk rupa. Dalam suatu pemahaman prakonsepsi kita, sudah seyogianya yang tampan menang melawan buruk rupa. Tapi dalam lebenswelt, lebih banyak lagi kemungkinan yang bisa terjadi, yang justru pengalaman tersebut sama sekali tidak memiliki pola yang ajeg. Keasyikannya justru terletak pada kenyataan bahwa  kemampuan manusia dalam memaknai fenomena adalah lebih berharga daripada upaya untuk melihat fenomena sebagai pola keberulangan.

Reality show sebenarnya menyuguhkan kemungkinan-kemungkinan kita untuk turut serta dalam pemaknaan tersebut secara aktif, seperti halnya adegan-adegan satpam dan pelayan bar yang terus menerus berbicara tentang apa yang akan dilakukan Truman berikutnya. Pada titik tertentu, ini sekaligus menunjukkan bahwa reality show sama sekali bukan acara utopis yang membawa kita lari dari keseharian (sinetron misalnya), melainkan suatu kenyataan yang ditampilkan “apa adanya” sebagai upaya merefleksi diri. Meski demikian, tentu saja tidak semua reality show punya lapisan cukup dalam untuk membuat kita berkaca. Kebanyakan reality show di Indonesia belakangan diisukan telah banyak direkayasa dan diintervensi terlalu banyak oleh aktor, skenario, dan sutradara.

Kematian Subjek

Era modern pasca Abad Pertengahan adalah sebuah era baru yang menandai perubahan dari teosentris menjadi antroposentris. Subjek menjadi pusat segala sesuatu. Esensi dunia bukan lagi diberikan oleh Tuhan ataupun gereja, melainkan manusia itu sendiri. Kehendak bebas menjadi tema utama periode modern, yang kemudian dikokohkan oleh filsafat eksistensialisme. Eksistensialisme mengatakan bahwa eksistensi manusia adalah mendahului esensi segala sesuatu. Manusia adalah makhluk yang menentukan dirinya sendiri sekaligus yang lain. Pemikiran eksistensialisme ini ditentang keras oleh kaum posmodern yang mempertanyakan: Masih adakah subjek yang otentik hari ini?

Mari kembali ke film The Truman Show. Truman Burbank merasa bahwa ia hidup dalam dunia yang ia maknai sendiri. Ia merasa berkehendak bebas atas segala sesuatu: Ia adalah subjek yang otentik. Rumah, pekerjaan, istri, serta gerak-geriknya, adalah buah dari usaha kerasnya dalam –apa yang disebut Sartre sebagai- bertanggungjawab atas pilihan-pilihannya. Namun apa yang terjadi? Ia mengetahui kemudian bahwa hidupnya adalah hasil konstruksi kekuasaan. Kekuasaan yang dibangun oleh Christof sang sutradara beserta produser. Bahkan Christof sendiri di film tersebut mengakui bahwa The Truman Show sulit sekali dijalankan tanpa adanya iklan komersil. Artinya, Christof sendiri dikendalikan oleh kekuasaan korporasi. Korporasi itulah -yang mewujud dalam bentuk rumah, makanan, baju, dan lain-lain- yang mengisi dunia yang dihuni oleh Truman.

Kaum posmodern percaya bahwa subjek telah mati. Bahwa dunia adalah konstruksi kekuasaan. Bahwa apa-apa yang kita percayai sebagai kehendak bebas, adalah tidak lebih dari sebentuk determinisme gaya baru: determinisme pasar, industri, dan korporasi. Kita boleh saja misalnya memilih Blackberry ketimbang I-Phone dengan segala macam argumentasi logisnya. Namun pada kenyataannya kita tetap terpenjara pada konstruksi bahwa dunia hari ini membutuhkan smartphone. Slogan-slogan komersil yang seringkali bombastis, memandang produk sebagai solusi kehidupan dan representasi citra yang maksimal (Nokia: Teknologi yang mengerti anda, Top: Kopinya orang Indonesia). Dorongan untuk membeli dan membeli, meyakinkan bahwa manusia membutuhkan ini dan itu, menunjukkan bahwa kebebasan manusia yang digadang eksistensialisme tidak lagi relevan.

Ketika penonton menyaksikan Truman Burbank dalam dunianya, sesungguhnya seperti seorang posmodernis melihat dunia yang kita tinggali. Ada semacam kegelian karena melihat manusia mengalami ilusi otentik dan kehendak bebas, padahal dari sejak lahir kita sudah dimaknai oleh kekuasaan. Truman, yang disebut-sebut sebagai bayi pertama di dunia yang diambil oleh korporasi sejak lahir, sebetulnya terjadi pada kita-kita juga. Sejak kita lahir, para orangtua menoleh ke komoditi, mencari produk-produk bayi yang sudah diiklankan dan dijadikan komoditi. Bayi-bayi menjadi objek, menjadi sasaran empuk. Mereka bahkan dijadikan model-model untuk menjual berbagai produk!

Catatan Penutup: Hubungan Bebas

Ada pertanyaan-pertanyaan seputar posmodernisme yang sebetulnya pada titik tertentu tidak memberikan suatu solusi terhadap keterjebakan manusia: Apa yang bisa kita lakukan? Apa yang tersisa dari manusia jika segalanya sudah dikonstruksi sedemikian rupa? Truman Burbank sendirilah yang menjawabnya. Meski Christof sudah membuatkan dunia yang sempurna baginya, yang sudah dianggap sebagai realitas tanpa cela, tetap saja Truman mencari keotentikan dirinya. Ia bahkan bisa mengelabui ribuan kamera di sekelilingnya untuk kabur berlayar. Bisa saja hal tersebut dirangsang oleh rasa penasarannya terhadap wanita bernama Sylvia, namun apapun itu, tetap saja ada cara bagi kita untuk tetap “waras” dalam berhadapan dengan raksasa-raksasa kekuasaan di sekelilingnya.

Bambang Sugiharto mengatakan, bahwa manusia itu, kalaupun memang iya ada konstruksi kekuasaan yang mengepungnya, tetap mempunyai cara yang unik untuk mengolahnya menjadi output yang unik pula. Jika mengacu pada psikologi behaviorisme, maka tidak mungkin Truman bisa mempunyai kesadaran untuk berubah sedangkan dalam lingkungan tiada satupun yang mendukungnya untuk berubah. Kecerdikan Truman mengajarkan pada kita bahwa manusia masih bisa sadar dengan cara menganggap hubungan ia dan kekuasaan adalah sebagai hubungan bebas. Ketergantungan kita dengan ponsel misalnya, seringkali dianggap banyak orang sebagai ketergantungan yang akut: “Tidak bisa hidup tanpa ponsel”. Namun ada pula orang yang menganggap hubungan ia dan ponsel sebagai hubungan bebas: “Gak ada ponsel juga gak apa-apa, malah enak, bebas!” Film The Truman Show lewat tokohnya, Truman Burbank, memberi penekanan ini di bagian akhir filmnya: “Bisa saja kamu, Christof, mengamatiku hingga alat kelamin. Tapi kamu tak punya kamera di dalam kepalaku.”
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Andra
AUTHOR
5 Agustus 2013 06.33 delete

selamat malam, bung.. bisakah tulisan mengenai film dalam blog ini saya posting juga di blog saya. terimakasih banyak. tabik.

Reply
avatar
Light
AUTHOR
14 Juni 2017 01.06 delete

di kaji dalam bidang filsafat ni film keren gan

Reply
avatar