Filsafat dalam Film The Seventh Seal (1957): Tuhan, Mengapa Kau Selalu Diam?


Ditulis sebagai suplemen untuk kelas ”Filsafat dalam Film” 21 Juni 2012

 
 The Seventh Seal adalah film karya Ingmar Bergman yang memiliki kesamaan tema dengan banyak filmnya yang lain, yaitu tentang: God’s Silence. Bergman, sutradara asal Swedia tersebut, senang sekali menyinggung tentang Tuhan yang selalu diam, meski Ia melihat bahwa kehidupan ini penuh dengan absurditas, kejahatan, dan penderitaan. Hal tersebut terlihat dari karya-karya lainnya seperti The Virgin Spring (1960), Through The Glass Darkly (1961), Winter Light (1962), dan The Silence (1963).

Abad Pertengahan sebagai Latar

The Seventh Seal mengambil latar Abad Pertengahan yaitu abad ke-14. Tidak diketahui mengapa Bergman mengambil periode yang sering disindir sebagai “Abad Kegelapan” ini untuk merepresentasikan pikirannya. Film setelahnya, yakni The Virgin Spring, juga dilatari oleh periode yang sama. Namun barangkali bisa ditafsirkan alasan-alasan Bergman, jika mengacu pada aspek historis Abad Pertengahan itu sendiri.

Abad Pertengahan adalah abad yang terbentang sekitar seribu tahun di Eropa, yang berada di antara Classical (Antiquity) Period dan Modern Period. Disebut “pertengahan” itu sendiri konon merupakan sindiran, seolah-olah Abad Pertengahan berada diantara dua jaman yang disebut-sebut paling beradab dan rasional. Mengapa begitu? Abad Pertengahan adalah era dimana gereja amat berkuasa. Hal tersebut dipicu oleh bangkitnya Kristianitas yang pernah tertekan begitu hebat di era kekuasaan Romawi. Ketika salah satu kaisar Romawi, yakni Konstantin, memeluk agama Kristen, maka kekuasaan Romawi pelan-pelan runtuh. Hal itu dimutlakkan juga oleh serangan kaum Barbar dari utara seperti Visigoth dan Vandal.

Kristianitas ini menjadi kental setelah dirumuskan oleh para pendahulu di Era Patristik seperti Agustinus. Era Patristik menandai dimulainya dogma Kristen yang beberapa diantaranya ditafsir ulang dari perkataan Yesus, murid-muridnya, ataupun Perjanjian Lama. Sejak itu, Kristianitas menjadi “wabah” yang melanda Eropa. Ia tidak hanya mencakup wilayah keagamaan, tapi juga filsafat, sains, dan politik. Filsafat misalnya, ia mesti menjadi hamba dari teologi. Artinya, segala kegiatan nalar disetujui selama ia sejalan dengan dogma gereja (Misal: Pemikiran-pemikiran St. Thomas Aquinas). Sains juga demikian, buah pikir semisal heliosentris dianggap bertentangan dengan gereja yang masa itu percaya bahwa bumi adalah pusat alam semesta atau geosentris.

Abad Pertengahan juga mengandung di dalamnya bencana-bencana yakni perang dan wabah pes. Perang yang mahsyur tentu saja adalah Perang Salib yang berlangsung beberapa edisi. Perang yang di belakangnya termuat beberapa motif, namun yang terkenal adalah isu Kota Yerusalem tersebut, sering disebut sebagai Perang Agama yang melibatkan Islam dan Kristen. Perang Salib disebut-sebut sebagai perang paling berdarah sepanjang sejarah, yang juga merupakan salah satu faktor mengapa Abad Pertengahan sering dipelesetkan jadi “Abad Kegelapan”. Selain Perang Salib, wabah pes juga muncul di periode tersebut. Yang menjadi sorotan dalam film The Seventh Seal, bukanlah wabah pes itu sendiri, tapi bagaimana gereja merespon wabah tersebut. Ada anggapan bahwa wabah pes tersebut adalah hukuman dari Tuhan, oleh sebab masih banyaknya “kezaliman” di dunia. Kezaliman tersebut biasanya ditafsirkan dengan melihat bahwa masih ada kelompok-kelompok tertentu di desa-desa yang “belum dikristenkan”. Sehingga prajurit yang diutus oleh gereja biasanya datang ke desa-desa tersebut dan mengristenkan mereka, kadang-kadang dengan alat siksaan, dengan dalih menghilangkan wabah pes. Antonius Block, protagonis dalam film The Seventh Seal, berada pada dua isu tersebut: Ia baru pulang dari medan pertempuran Perang Salib, dan ketika kembali ke kampung halamannya, Swedia, ia berhadapan dengan wabah pes.

Tujuh Materai

The Seventh Seal diartikan sebagai Materai Ketujuh. Sangat jelas bahwa apa yang dimaksud dengan Materai Ketujuh ini diambil dari Kitab Wahyu (Perjanjian Baru). Hal tersebut sesuai dengan kalimat pembuka dalam film ini yang dibacakan oleh narator yang memang dikutip dari kitab tersebut:

“And when the Lamb opened the seventh seal, there was silence in heaven about the space of half an hour. And when the seven angels which had the seven trumpets prepared themselves to sound.”

Ada beberapa tafsir tentang materai yang pertama hingga ketujuh ini. Misalnya, ketika empat materai pertama dibuka, ada empat penunggang kuda yang menunggang kuda dengan warna kulit yang berbeda-beda. Dalam buku Seminar Wahyu yang disusun oleh Williams Budhiharto, segel per segel itu ditafsirkan secara historis maupun simbolis. Misalnya, kuda pertama yang ditunggangi oleh seseorang yang membawa panah dan bermahkota, menggambarkan periode abad kesatu Masehi. Hal tersebut secara simbolik juga diartikan sebagai jemaat Elesus.

Namun yang dikutip oleh Bergman agaknya tidak seluruh segel, ia hanya berbicara tentang segel ketujuh. Bergman berbicara tentang “silence in heaven” dan menafsirkannya sebagai “diamnya Tuhan”, atau suatu kondisi “tanpa Tuhan” –seperti tema-tema yang kerapkali ia kemukakan di film lainnya-. Meskipun dalam buku Seminar Wahyu, sunyi senyap di surga ini diartikan sebagai kedatangan Yesus yang kedua, “Sunyi senyap di surga oleh sebab seluruh malaikat datang bersama Yesus pada kedatangan-Nya yang kedua.”

Teodisea

Antonius Block : “What have you done to the child?
Death : Will you never stop asking questions?”
Antonius Block: “No, never.”
Death: “But you get no answer.”

Perbincangan antara Block, seorang prajurit Perang Salib, dan Death atau simbol kematian ini, adalah bentuk dari kepenasaranan Block atas serangkaian penderitaan yang ia lihat. Ia melontarkan pertanyaan tersebut menjelang dibakarnya seorang perempuan muda atas tuduhan penyebaran wabah pes. Bagi kehidupan Block, serangkaian hidupnya yang diwarnai Perang Salib, wabah pes, dan eksekusi-eksekusi terhadap yang tidak bersalah, membuatnya kerap mempertanyakan, “Dimanakah Tuhan?”

Kenyataan bahwa di dunia ini ada penderitaan –dan juga kejahatan-, disebut oleh Franz Magnis Suseno dalam bukunya, Menalar Tuhan, dianggap tantangan terbesar bagi orang yang percaya akan adanya Tuhan. Oleh filosof Jerman, Gottfried Wilhelm Leibniz, masalah ini disebut dengan teodisea atau pembenaran Allah. Yang dimaksud adalah bahwa adanya kejahatan dan penderitaan kelihatan sedemikian bertentangan dengan eksistensi Allah yang Mahatahu, Mahakuasa dan Mahabaik, sehingga Allah seakan-akan perlu dibenarkan. Manusia seakan-akan mengajukan protes (sebagaimana Block): Bagaimana Engkau, Allah yang adil dan mahabaik, dapat mengizinkan keadaan seperti ini berlangsung?

Dikutip dari buku yang sama yang ditulis oleh Franz Magnis-Suseno, protes itu barangkali paling tajam diteriakkan oleh Ayub: “Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku… Aku berseru minta tolong kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri menanti, tetapi Engkau tidak menghiraukan aku… Anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap pada tubuhku.. Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: Yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya.” (Ayub 10,1;30,28;4;9,22). Tak dapat diragukan: Penderitaan orang yang tidak bersalah adalah scandalum, batu sandungan paling gawat, bagi orang yang mau percaya pada Allah.

Pertanyaan tentang bagaimana Allah bisa mengijinkan penderitaan terjadi, pernah dijawab oleh Epikuros dua ribu tahun yang lalu. Ada empat kemungkinan, katanya:

  • Allah mau menghapus keburukan di dunia, tetapi tidak mampu;
  • Allah mampu, tetapi tetapi ia tidak mau;
  • Allah tidak mau dan tidak mampu;
  • Allah mau dan mampu;

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu diajukan secara implisit oleh Block dalam perjalanan spiritualnya pasca kedatangannya kembali ke Swedia, yang terutama dipicu oleh Perang Salib dan Wabah Pes. Teologi agama-agama Abrahamistik mencoba menjawab persoalan penderitaan dengan beberapa jawaban yang diringkas oleh Franz Magnis-Suseno:

  • Penderitaan adalah hukuman Allah atas dosa-dosa orang yang bersangkutan.
  • Penderitaan akan diimbangi oleh ganjaran di surga.
  • Melalui penderitaan, Allah mencobai mutu manusia; hanya manusia yang bertahan dalam penderitaan pantas untuk menerima kebahagiaan abadi di surga.
  • Penderitaan memurnikan hati, jadi bernilai secara moral.
  • Dilihat sebagai keseluruhan, dunia yang ada penderitaannya adalah lebih baik daripada yang tidak ada penderitaannya.
  • Manusia tidak seimbang dengan Allah; karena itu ia tinggal menerima saja segala apa yang terjadi sebagai kehendak Allah dengan tak perlu bertanya, apalagi berprotes.

Pernyataan-pernyataan tersebut tentu saja bukan dalam rangka menjawab pertanyaan besar dalam film ini –walaupun bisa saja-. Namun titik beratnya adalah sikap dan cara berpikir Block yang sepertinya tidak puas oleh penjelasan-penjelasan di atas. Pada akhirnya, dalam interpretasi Bergman, seolah-olah manusia hanya bisa menerima kenyataan bahwa “Tuhan diam”, atau dalam bahasa teologis (poin terakhir), “Ia tidak mau bicara pada manusia karena manusia tidak seimbang, ia harusnya cuma menerima saja.”

Simbol-Simbol Lainnya

  • Kematian

Al-Ghazali pernah berkata, “Apakah yang paling jauh dari kita? Jawabnya adalah: Masa lalu. Apakah yang paling dekat dengan kita? Jawabnya: Kematian.”

Tokoh personifikasi dari kematian dalam film The Seventh Seal muncul beberapa kali dengan tampilan cukup menarik perhatian. Ia hadir bermain catur, berpura-pura menjadi pendeta, hingga menebang pohon. Namun yang paling fenomenal tentu saja bagian-bagian dimana Block dan Kematian itu beberapa kali ditampilkan bermain catur. Catur disini adalah simbol permainan. Antara manusia dan kematian hubungannya adalah murni terikat dalam satu papan yang keduanya memainkan bidak-bidak. Hanya saja, sebagaimana yang digambarkan dalam film, Kematian ujung-ujungnya pasti akan menang. Manusia, diwakili oleh Block, hanyalah bisa memperlambat kematiannya. Atau kata Chairil Anwar, “Hidup hanyalah menunda kekalahan.”

Dalam film tersebut seolah ingin menegaskan, bahwa kematian itu jauh lebih dekat dan nyata daripada Tuhan. Setelah kematian, -sebagaimana dipertanyakan oleh Block- apa yang kita temukan? Tuhan? Malaikat? Setan? Atau malah emptiness? Kawan Block menyahut dengan jawaban, “Emptiness.” Kematian menjadi penegas, seperti yang dikatakan Albert Camus, bahwa hidup ini absurd dan meaningless. Ketika kita membayangkan bahwa pasca kematian yang ada adalah emptiness, maka kehidupan ini sendiri menjadi nirmakna, penuh teror dan ketakutan. Block mengatakannya dalam sebuah pengakuan, “Karena takut itu, kita menciptakan ‘idola’ yang kita sebut sebagai Tuhan.” Sederhananya: Tuhan adalah jalan keluar bagi mereka yang ketakutan bahwa hidup itu sebetulnya tidak ada apa-apa kecuali menunggu gong kematian.

  • Hutan

Block kemudian bertemu kereta kuda yang isinya suami istri berprofesi sebagai aktor dan komedian. Block mengajak mereka pergi lewat hutan, karena jalan yang mau mereka tempuh sebelumnya, sudah terimbas wabah pes. Hutan ini bisa diartikan sebagai simbol kehidupan itu sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh istri sang komedian, “Di hutan terdapat banyak pencuri dan hantu.” Atau interpretasi ketika sang komedian dan istrinya berkendara di hutan, keduanya selalu tak sepakat, sang istri mengatakan: “What a queer light.” Sang komedian berkata, “It’s a thunderstorm.” Istrinya berkata lagi, “No, it’s something terrible, do you hear the roar?” kata sang komedian, “It’s only the rain.”

Bagi para eksistensialis ateis seperti Jean Paul Sartre atau Camus, kehidupan itu sendiri seperti manusia yang dilepas ke tengah hutan belantara. Manusia hadir tanpa tedeng aling-aling dan mesti bersusah payah memaknai kehidupannya yang carut marut. Hidup tidak punya arti sama sekali, kita lah -sebagaimana pasangan komedian tersebut- yang memberinya interpretasi-interpretasi sesuka hati. Hidup, bagi Sartre, adalah bagai bepergian lewat kereta tanpa membawa tiket. Ia berkejar-kejaran menghindari kondektur, namun tahu bahwa di ujung stasiun tidak ada seorangpun menantinya.

Catatan-Catatan Penutup

Tak pelak lagi, The Seventh Seal adalah film dengan kandungan gizi cukup tinggi. Bergman mengambil sari-sari pemikiran eksistensialisme, teodisea, teologi, hingga sejarah untuk kemudian diramu menjadi satu film yang cukup estetis sekaligus juga fenomenal. Bergman juga merupakan contoh sutradara yang mempunyai “proyek filosofis” yang konsisten. Ia terus menerus menggaungkan isu God’s Silence dalam banyak filmnya, namun dengan kemasan yang berbeda-beda. Ini adalah suatu contoh sangat baik bagaimana meniupkan isu-isu keimanan dalam balutan estetika secara cantik dan tidak vulgar.

Akhir kata, menonton The Seventh Seal adalah berarti pula mencoba memahami bagaimana pandangan masyarakat modern di Barat terhadap religiusitas terutama sejak Renaisans. Bergman mengajukan suatu pertanyaan besar yang memang sedang menggalaukan Eropa saat itu, tentang: “Mengapa Tuhan diam dan membiarkan?” Reaksi umat beragama dalam menyikapi pertanyaan semacam ini diharapkan tidak terlalu reaksioner. Sebagaimana diungkap oleh Franz Magnis-Suseno, justru tugas umat beragama menghadapi hal semacam itu adalah melawannya dengan rasionalitas yang seimbang. Meski iman, pada akhirnya, punya jalannya sendiri.
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
neko Sugoi
AUTHOR
7 Agustus 2015 01.35 delete

min, ini yg dia ngajak malaikat kematian buat main catur bukan?

Reply
avatar