Filsafat dalam Film Blue Velvet (1986): Voyeurism dan Kenikmatan Mengobjekkan


Ditulis sebagai suplemen untuk kelas ”Filsafat dalam Film” 7 Juni 2012


Blue Velvet adalah film yang dibuat oleh sutradara spesialis film-film noir dan sureal yaitu David Lynch. Film tahun 1986 itu cukup sering dipilih sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa di genre misteri. Filmnya sendiri, meskipun tampak memiliki jalan cerita cukup jelas, namun menyisakan pertanyaan-pertanyaan. Banyak adegan yang sebetulnya agak ganjil dan cukup aneh. Hal tersebut bisa jadi tidak terlalu mengherankan jika mengingat Lynch yang memang sangat tipikal membuat film-film berbau “kemimpi-mimpian”. Meski bisa dipandang dari sudut pandang estetika, namun film-film Lynch bisa juga dibedah secara semiotika. Ada banyak simbol yang demikian menarik jika dibahas, terutama di film Blue Velvet ini.

Alur Cerita

Cerita dimulai dari penggambaran suasana kota kecil bernama Lumberton yang begitu psikedelik diiringi lagu Blue Velvet karya Angelo Badalamonti. Inilah kota yang membuat Jeffrey Beaumont (Kyle MacLachlan) harus tinggal beberapa saat, meninggalkan kuliah untuk sementara setelah mengetahui ayahnya terserang stroke. Dalam perjalanan pulang ke rumah, ia menemukan potongan kuping manusia. Kuping tersebut ia bawa ke seorang detektif bernama John Williams (George Dickerson). Tak lama setelah menyerahkan kuping tersebut, anak gadis si detektif yang bernama Sandy (Laura Dern) menghampiri Jeffrey dan berkata kemungkinan bahwa ia tahu darimana asal muasal kuping tersebut.

Sandy curiga bahwa ini berasal dari wanita bernama Dorothy Vallons (Isabella Rossellini) yang berada di sebuah apartemen tidak jauh dari tempat tinggalnya. Karena penasaran, Jeffrey bertekad untuk mengintip kegiatan wanita yang juga berprofesi sebagai penyanyi bar tersebut. Menyamar sebagai penyemprot hama, Jeffrey masuk ke kamar Dorothy dan sukses mencuri kunci kamarnya dan berniat untuk menyelinap esok harinya.

Jeffrey kemudian betul-betul menjalankan rencananya. Ia masuk ke rumah Dorothy ketika dirinya tidak ada. Namun Jeffrey terkejut karena Dorothy tak lama kemudian masuk dan mengetahui keberadaan anak itu di balik lemari bajunya. Perdebatan keduanya tak berlangsung lama karena juga, tak lama kemudian, Frank Booth (Dennis Hopper) masuk ke kamar Dorothy tersebut. Jeffrey, atas dorongan Dorothy, diminta bersembunyi kembali di lemari baju. Otomatis, Jeffrey menyaksikan seluruh kejadian antara Dorothy dan Frank dari balik lemari tersebut. Ada unsur seksualitas, ada juga unsur kekerasan.

Adegan voyeurism oleh Jeffrey Beaumont.
Petualangan aneh yang diperolehnya dalam semalam tersebut mendorong Jeffrey untuk bertindak lebih jauh. Ia ingin lebih mengamati kehidupan Dorothy, selain juga didorong oleh hasrat terselubungnya pada wanita tersebut. Dalam suatu malam setelah Jeffrey dan Dorothy bercinta, Frank memergokinya. Frank dan kawan-kawannya kemudian membawa Dorothy dan Jeffrey ke rumah seseorang bernama Ben, kawan Frank yang diduga tempatnya dipakai untuk menyekap anak-anak Dorothy.  Di tempat ini, terdapat adegan cukup terkenal yaitu ketika Ben menyanyikan lagu In Dreams dengan gaya yang cukup surealistik. Tujuan Frank mengajak Jeffrey ke rumah tersebut, agaknya hanya untuk menunjukkan bahwa ia memang menyekap anak-anak dari Dorothy. Disamping mau mempertemukan untuk sementara antara Dorothy dan anak-anaknya tersebut, untuk kemudian dipisahkan kembali. Dalam perjalanan pulang, Jeffrey dipukuli Frank dan kawan-kawan lantas dicampakkan di jalanan.

Singkat cerita, Jeffrey mencurigai ada yang tidak beres dengan rekan detektif Williams. Jeffrey menyebutnya sebagai The Yellow Man, orang yang ia pikir terlibat dalam pembunuhan yang melibatkan kuping yang dipotong tersebut. Kecurigaan itu adalah hasil dari pengamatannya berhari-hari terhadap apartemen Dorothy. Atas dasar itu, ia memaksa Sandy untuk mengirim ayahnya ke apartemen Dorothy untuk mengecek. Sambil menantikan, Jeffrey tetap pergi ke apartemen tersebut seorang diri dan menemukan mayat The Yellow Man dan seorang lagi yang tanpa kuping. Jeffrey yang ketakutan, mengambil pistol dan bersembunyi di lemari baju tepat sebelum Frank menemukannya. Jeffrey dengan cepat menembak kepala Frank hingga tewas. Tak lama kemudian Sandy dan detektif Williams tiba di tempat dan mengatakan bahwa segalanya sudah berakhir. Akhir cerita, Jeffrey terbangun di pekarangan rumahnya dan menghampiri Sandy di dapur, menunjukkan bahwa mereka telah tinggal bersama.  

Voyeurism

Voyeurism atau aktivitas mengintip, punya folklore-nya sendiri. Adalah kisah tentang Lady Godiva yang mengelilingi jalanan di kota Coventry menaiki kuda sambil telanjang. Suami Lady Godiva yang agaknya semacam walikota, menaikkan pajak penduduk kota. Lady Godiva tidak setuju pajak dinaikkan dan ia memohon syarat apapun dari suaminya asal pajak itu diturunkan. Suaminya mensyaratkan istrinya untuk naik kuda keliling kota tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Lady Godiva mau, tapi kemudian ia menyuruh penduduk kota untuk tidak keluar rumah, mengunci diri, dan tidak menengok ke jalanan. Namun ketika Lady Godiva mulai berkendara, ada seorang bernama Tom yang mengintip lewat lubang kecil di pintu rumahnya -Itu sebabnya, seorang pengintip sering dijuluki sebagai “peeping tom”-. Akhir cerita, Tom terserang kebutaan dan suami Lady Godiva menepati janjinya untuk menurunkan pajak.

Mengintip bukanlah terbatas pada cara melihat melalui lubang kecil. Esensi mengintip adalah “melihat secara diam-diam”  atau “melihat tanpa sepengetahuan si objek”. Jika memang berdasarkan esensinya, maka kita semua sesungguhnya sedang berada dalam dunia dimana voyeurism sedang berjaya. Televisi, Facebook, Twitter atau jejaring sosial lainnya, memberikan kesempatan bagi para peeping tom untuk memuaskan hasratnya.

Dari mana sesungguhnya asal muasal kenikmatan mengintip? Sebelum masuk ke Blue Velvet, mari masuk dari dua film yang mengandung unsur voyeurism di dalamnya yaitu Peeping Tom (1960) dan Psycho (1960). Peeping Tom berkisah tentang seseorang bernama Mark yang suka membawa kamera kecil untuk merekam di sakunya. Target intipan dia adalah wajah ketakutan yang alamiah. Psycho punya sedikit adegan mengintip, yaitu ketika Norman Bates melihat Marion Crane berganti baju. Ia agaknya sedang mengamati gerak gerik calon korban sebelum kemudian ditikamnya dengan pisau dapur.

Maka ketahuan bahwa voyeurism berpusat pada ”natural settings”. Melihat segalanya secara alamiah, dalam kondisi yang ”seharusnya”. Jean Paul Sartre pernah mengungkapkan filsafat yang kurang lebih mengacu pada natural settings tersebut. Katanya, jika seseorang berada di dalam kamar sendirian, maka ia bebas melakukan apapun yang ia mau. Ia merdeka. Namun ketika orang tersebut mengetahui dirinya diintip dari lubang kunci, maka seketika ia berubah. Ia berubah menjadi seseorang yang ”dimaui” oleh orang yang mengintip. Ia yang tadinya menjadi subjek, berubah menjadi objek bagi orang yang melihat. Sartre sebetulnya tidak menjadikan filsafat ini persis sebagai pijakan voyeurism. Ia mau menjelaskan tentang keberadaan Tuhan yang mestinya tidak ada. Kalau Tuhan ada, pasti manusia tidak bebas karena terus menerus diintip. Sedangkan secara faktual, manusia adalah bebas, menurut Sartre. Man are condemned to be free. ”Sehingga,” tambahnya, ”Tuhan pasti tidak ada, karena kita selalu sendirian di kamar.”

Pada dasarnya, masih kata Sartre, tatapan manusia adalah selalu saling mengobjekkan. Ketika kita berinteraksi, sesungguhnya kita ingin “dia jadi seperti yang saya mau”, pun sebaliknya. Sehingga Sartre menyimpulkan bahwa “Neraka adalah orang lain,” karena interaksi adalah selalu tentang “saling mengalahkan”, tentang siapa yang “sanggup mengubah seseorang menjadi siapa”. Maka itu tidak semua orang senang dengan “medan pertarungan sosial” ini. Dalam voyeurism, yang demikian tidak terjadi. Voyeurism adalah tentang cara pandang searah yang tidak perlu membuat kita tereduksi oleh cara pandang orang lain terhadap kita. Justru dalam voyeurism, seorang peeping tom mempunyai kebebasan berfantasi (dalam arti mengembangkan imajinasi) atau mereduksi, atau apapun mengenai orang yang diintipnya. Barangkali inilah yang bisa menjadi cikal bakal kenikmatan mengintip berdasarkan filsafat Sartre: Kenyamanan mengobjekkan tanpa diobjekkan.

Kasus Jeffrey Beaumont dalam Blue Velvet agaknya menjadi cukup jelas jika ditinjau dari sudut pandang voyeurism. Adegan Jeffrey Beaumont yang mengintip Dorothy Vallons bercinta dengan Frank Booth, adalah juga mengandung kenikmatan serupa. Bahkan bisa diinterpretasikan, bahwa hampir keseluruhan film Blue Velvet sebetulnya berpusat pada kegiatan mengintip Jeffrey. Bahwa yang terjadi berikutnya sesungguhnya adalah imajinasi Jeffrey yang berkembang dari natural settings yang ia dapat dari hubungan Dorothy dan Frank.  Hal tersebut terlihat dari akhir film dimana ditunjukkan Jeffrey bangun dari tidur, seolah-olah ia hanya bermimpi tentang kejadian kemarin-kemarin.

“Keluarga” Jeffrey

Beberapa tafsir yang berkembang seperti kata psikoanalis Laura Mulvey dan Martin Atkinson, Blue Velvet mengandung unsur hubungan keluarga. Di awal-awal film, terdapat adegan dimana ayah dari Jeffrey mengalami stroke dan kemudian lumpuh, terbaring kaku di rumah sakit. Adegan ini dianggap janggal karena tidak pernah diungkit-ungkit lagi dalam film. Seolah-olah hanya sebagai tempelan belaka. Namun kejadian terbaringnya sang ayah yang lumpuh di rumah sakit bisa dikaitkan dengan keseluruhan film tersebut:
  • Mari menganggap Jeffrey sebagai anak, Dorothy sebagai ibu, dan Frank sebagai ayah. Argumen ini tidak terlalu mengada-ada karena ada adegan ketika Dorothy memang dikira sebagai ibu dari Jeffrey oleh kekasih Sandy.
  • Frank adalah sisi “kuat” dari ayah Jeffrey yang tergolek lemah di rumah sakit. Argumen ini juga tidak terlalu mengada-ada karena ada kemiripan fisik antara ayah Jeffrey dan Frank!
  • Jika memang demikian adanya, maka sesungguhnya apa yang diintip oleh Jeffrey adalah hubungan seksual antara ayah dan ibunya. Ia menikmati hal tersebut, termasuk ketika cara bercinta mereka yang dibumbui baku hantam. Jeffrey juga menikmati ketika ia bisa merebut kesempatan sesekali bercinta dengan ibunya, ketika ayahnya sedang tidak ada.
  • Ini bukan sesederhana intrik antara pria-wanita pada umumnya. Ini tidak sesimpel melihat Dorothy sebagai femme fatale. Kecurigaan akan adanya krisis oedipal terlihat dari “tidak jelasnya” hubungan Frank dan Dorothy yang diceritakan dalam film. Dikisahkan bahwa Frank adalah orang jahat yang menyekap anak-anak Dorothy, namun agaknya Dorothy di sisi lain menikmati seks keras yang disajikan Frank. Ini juga adalah simbol sisi keibuan Dorothy, bahwa di satu sisi ia merasa suami kerapkali “menyekap” anak, di sisi lain suami itu juga memiliki kemampuan untuk memberi kepuasan.
  • Adegan awal ketika Jeffrey menengok ayahnya yang sedang tak berdaya membawanya pada imaji yang paling liar: Kesempatan merebut sang ibu dari ayah yang “sekarat”. Namun Jeffrey tidak mau perjuanganya terlalu mudah, ia menciptakan sosok Frank yang perkasa, seolah-olah ayahnya masih jaya dan sukar untuk ditaklukkan. Disinilah kemenangan Jeffrey menjadi sempurna.

Catatan Penutup

Mari merenungkan kembali kejayaan voyeurism hari ini. Bukankah kita semua adalah para pengintip? Facebook misalnya, kita begitu girang melihat privasi seseorang. Yang sebetulnya sedemikian ganjil karena yang dinamakan privasi itu sendiri sudah semakin ilusi. Karena apa yang dimaksud privasi hari ini adalah “suatu keadaan yang seolah-olah natural settings, namun aku sediakan lubang kunci untuk mengintipnya”. Fenomena infotainment juga bukan semata-mata persoalan ekploitasi media terhadap “privasi”, namun bisa juga dilihat sebagai gejala kegemaran massal akan kenikmatan mengintip.

Mengintip, dalam definisi yang lebih berkembang, berarti melihat kepada sesuatu “yang tidak mau diperlihatkan”. Ketika kita berbicara dengan seorang wanita, alih-alih memerhatikan pesan yang disampaikan, kita malah memperhatikan buah dadanya, adalah juga semacam mengintip. Ketika dosen berbicara di depan kelas, kita mengamati retsletingnya yang terbuka. Kenikmatan semacam itu rasanya bukan sesuatu yang abnormal. Nyatanya banyak, atau bahkan semua orang pada dasarnya adalah peeping tom. Peeping tom bukan pendosa, ia hanya mau membiarkan dirinya melihat secara integral “beyond communication”. Faktanya, segala sesuatu berbicara melampaui apa-apa yang hendak dikomunikasikannya. Maka itu, Martin Heidegger menawarkan solusi bagi manusia agar dapat memahami sesuatu secara menyeluruh. Jangan memperhatikan satu bagian secara detail, -jangan okularsentrisme ala Yunani- tapi lihatlah keseluruhan secara integral baik yang dikomunikasikan atau tidak. Intinya: Intiplah!

Daftar Pustaka 

http://en.wikipedia.org/wiki/Lady_Godiva
http://en.wikipedia.org/wiki/Voyeurism
http://en.wikipedia.org/wiki/Blue_Velvet_%28film%29 
Previous
Next Post »