Psycho (1960): Ketika Semua Bermula dari Jiwa

Kamis, 17 Mei 2012



Hubungan laki-laki perempuan yang terikat kuat memang bisa saja membutakan segala hal yang menghalanginya. Mereka dengan berani mengumbar mesra pada khayalak luas, berani mengumbar cerita yang dijalinnya. Adapula bersembunyi serahasia-rahasianya. Ceritanya yakni sang perempuan rela berbuat apapun demi mempertahankan hubungannya. Hingga ia rela mencuri uang dan minggat menjauhi kotanya untuk bertemu sang pujaan hati. Tentu saja perasaan bersalah setia menemani perjalanan, perjalanan yang bermil-mil dilalui dengan risalah hati, bergejolak dan berakhir pada lelah. Penginapan adalah pemberhentian selanjutnya, apalagi keadaan malam yang hujan menguatkan niat bermaksud menenangkan diri. Setelah memesan motel, makan malam bersama seorang penjaganya sembari saling mengakrabkan diri, setelah itu ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Suara percikan shower di bathub dalam keheningan setelah hujan, dalam keheningan pinggir jalan, dalam kawasan sepi penduduk. Hanya berdirilah rumah terdekat di belakang motel, dihuni penjaga itu bersama ibunya. Begitu ia sedang menikmati air dan tiba-tiba dibukalah pintu kamar mandi yang tak dikunci, masuklah seorang perempuan paruh baya membawa pisau segera menikam padanya. Begitu mengagetkan dan cepat. Nyawa pun melayang menyusul kepergiannya. Penjaga motel datang berperan sebagai pahlawan kesiangan, lantas membersihkan mayat dan membuang ke rawa bersama mobilnya. 

Pertanyaan atas cerita diatas adalah…. “Siapakah pembunuh perempuan yang bernama Marion Crane tersebut? jika rumah terdekat hanyalah rumah penjaga itu dan tak ada lagi pengunjung yang datang atau lewat!”. Asumsinya hanya ada tiga: 
1. Polisi/mata-mata/detektif atau siapapun yang mengetahui bahwa Marion adalah perampok 
2. Penjaga Motel bernama Norman Bates 
3. Ibu dari Norman Bates. 

Pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah mungkin orang yang baru beberapa menit kenal membunuh orang dengan sengaja? ---> mungkin saja. Dan apakah mungkin orang yang tidak bertemu langsung, hanya tahu melalui kabar anaknya bisa membunuh dengan sengaja? ---> mungkin juga. 

Dan pembunuhnya adalah Norman Bates!

Mengapa Norman Bates membunuh? 
Dan Apakah Norman Bates bersalah? 

Cerita di atas adalah sekelumit film Psycho (1960) karya Alfred Hitchcock. Film thriller pada eranya yang konon, adegan Bathub adalah titik yang sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja dengan menutup memakai jari. Kasus penjaga motel yang membunuh perempun, kemudian membunuh detektif yang datang mencari perempuan tersebut berakhir dengan asumsi seorang psikiater yang mencoba menjelaskan pada polisi setelah Norman tertangkap. Siapapun tidak mudah menjelaskan. Itu bukan pembunuhan biasa, namun ada sebab tidak biasa pada Norman Bates. 

Dalam rangka Kelas Filsafat dalam Film Garasi10 film Psycho dipilih untuk mengawali delapan pertemuan kedepan. Peserta yang dari awal menonton cukup serius mencari-cari hubungannya, berpikir saat film tersebut barjalan, memahami versi setiap plot untuk kemudian didiskusikan. Sebelum film ditayangkan, Syarif memberikan tulisan sebagai bentuk pengantar akan filmnya. Kemudian menjelasankan ulang secara lisan setelah film ditayangkan apa yang dituliskannya. Bahwa Norman memiliki permasalah kejiwaan. Norman membawa kepribadian orang lain pada dirinya (Introjeksi), terlihat jelas pada akhir cerita, Norman hanya duduk dengan suara percakapan ia dan ibunya terus menggema dalam raut wajahnya. 

Saat diskusi awalnya Esoy (peserta) berkomentar atas rasa penasarannya tentang kengapa harus nomor satu? di nomor itulah Marion Crane tewas. karena saat check-in Norman memberi kunci kamar tersebut dengan alasan kalau ada apa-apa supaya dekat dengan kantor. Kemudian Bambang Sapto (peserta) ikut sumbang pendapat, katanya dia tidak perduli dengan narasi, penokohan, dan hal-hal yang berhubungan dengan sinematografi. Karena baginya dia datang bahwa hari itu adalah kelas filsafat, namun hanya medianya saja melalui film, maka dari itu sedikit banyak tentunya berhubungan dengan filsafat. Film Psycho memang masih berwarna hitam dan putih, dan itulah yang disukainya, pak Bambang melihat itu seperti halnya yin-yang. Bersifat seimbang. Hitam dan putih. Seperti halnya hidup ini yang selalu ada dikotomi. Peserta lain, bang Tobing dari Layar Kita ikut menambahkan, bawasannya dalam film ini Hitchcock sepertinya hanya menginginkan agar penonton fokus pada sebuah maksud lain. Bagaimana jika film ini berwarn-warni? Darah Marion saat muncrat mungkin nampak sekali kengeriaannya, tapi sekali lagi bang Tobing menekankan nampaknya Hitchcock sedang tidak menginginkannya. 

Menurut Analisis Syarif peran Norman berawal dari Mekanisme Pertahanan Ego. Perlu diketahui bahwa setiap manusia memiliki id, ego, superego. Id adalah tingkatan manusia yang paling bawah (barangkali mendasar) dan agak kebinatangan sehingga disebut sebagai triebe yang diterjemahkan menjadi insting/nafsu. Ego adalah yang menghubungkan id tersebut agar terpenuhi dalam dunia sadar realitas. Superego adalah hal-hal yang bisa menghalangi atau mendukung pe-realisasi-an sebuah keinginan tersebut (misal norma-naorma/aturan). 

Untuk menjelaskan lebih lanjut ada contoh dari cendikiawan asal Slovakia bernama Slavoj Zizek. Ia menganalogikan pada rumah Norman Bates dengan membagi menjadi tiga lantai. Superego (lt. atas), ego (lt. dasar), Id (basemant). Lantai atas adalah Kamar sang ibu, tempat Norman dan Ibunya berdebat, seperti superego yang mana pada kamar tersebut berisikan larangan dan aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Lantai dasar adalah lantai dimana ia melakukan aktivitasnya menjaga hotel, bisa diartikan sebagai aktivitas kenyataan. Basement adalah tempat ketika ia memindahkan ibunya, tempat dimana ia menempatkan sang ibu pada hasrat dan instingnya. Menurut pak Bambang (peserta) itu sama halnya dengan langit dan bumi yang ditengah-tengahnya adalah tempat dimana manusia melakukan aktivitasnya. 

Kemudian sangat diasumsikan bahwa Norman mempunyai insting Oedipal (ketertarikan seksual pada sang Ibu). Krisis Oedipal diambil dari metode Freudian lewat mitologi raja Oedipus sebagai berikut. Objek cinta kita yang pertama adalah pada Ibu. Rahar (peserta kelas) menyepakati, ia yakin teman baik anak laki-laki adalah ibunya. Kemudian Freud menganalisa bahwa kita saat bayi sangat-sangat butuh perhatian, kasih sayang, belaian. Namun kita menginginkan semua dalam pengertian seksual secara luas, misal oral ketika menyusu pada ibu adalah seks (dalam arti luas) pertama kali. Dan saingan (khusunya) bayi laki-laki adalah ayah. Ayah adalah sosok yang lebih kuat, besar dan pintar sehingga sang bayipun tak bias berbuat apa-apa. Lambat laun bayi tumbuh, kecintaan pada ibunya bias jadi luntur, tergantikan oleh perempuan remaja dan dewasa. 

Tidak sepertinya pada Norman. Kasus cinta Norman terhadap ibunya memang sangat kuat. Setelah ayahnya meninggal ia sangat leluasa melampiaskan kasih sayangnya, namun ketika seorang lelaki yang mendekati ibunya kecemburuan mulai timbul. Tak kuasa karena ia dicampakkan, akhirnya ia menghabisi lelaki tersebut beserta ibunya. Setelah dibunuh tentu saja ia merasa bersalah, maka disinilah mekanisme pertahanan ego muncul guna mencairkan sesuatu yang dianggap mengancam. Dengan introjeksi tadi diyakininya bahwa akan menyelesaikan masalah perasaan yang mengganggu. Ketakutan diakalinya dengan menyamakan persis pakaian, kebiasaan, suara hingga hal-hal yang disuka dan tidak suka ibunya. Kesamaan sebab pada Ed Gein dan Norman Bates atas pengaruhnya menjadi membunuh dijelaskan oleh Rahar bahwa, dimana ibu Ed Gein yang seorang Lutheran taat berpendapat bahwa bila terjadi suatu perceraian maka perempuan tersebut amatlah sangat menjijikan di dunia ini. Pada Norman pun sama, saat ia 'berperan’ sebagai ibu yang berdebat dengan dirinya sendiri di rumah ketika Marion baru tiba, ia masih memegang bentuk ketidak sukaan ibunya akan perempuan, dimana Marion saat itu diajaknya makan malam di rumahnya tapi ‘ibu’ norman bersikukuh menolak perempuan masuk kerumahnya. 

Bentuk mekanisme pertahanan ego lainnya adalah Norman rela menggantikan ibunya yang hidup dengan ibunya yang sudah diawetkan. Cintanya dengan sang ibu yang sekaligus diperankan olehnya. Mengobrol gaya beliau untuk menyalurkan hasratnya, ia bias bertanya dan menjawab sendiri semaunya. Tentu saja pada posisi id, jika pada lantai atas ia sudah barang tentu dengan secara sadar akan mangingat norma-norma ibunya. Dan memang benar, posisi tata letak kamar ibunya dibiarkan saja apa adanya. Itu dipercaya agar menyimpan memori kenangan akan ibunya. 

Kritik terhadap film-film atau riil pembunuhan yang dianggap tidak normal selalu menimbulkan bidang kajian tersendiri, dari sanalah kiranya tidak mudah juga untuk menentukan Norman Bates bersalah atau tidak, Ed Gein dikarantina atau dipenjara, Dahmer dihukum gantung atau dibiarkan saja. Dari kasus-kasus tersebut kita juga bisa tinjau ulang, bila seorang pembunuh memang dalam alam bawah sadar membunuh, pertanyaannya yang tidak sadar itu apakah dia orang yang bebas? Bahkan super ketertarikannya akan seorang ibu kandung. Hubungan laki-laki perempuan yang terikat kuat memang bisa saja membutakan segala hal yang menghalanginya.

Bemmy Apriariska
Previous
Next Post »