Pembukaan Kelas Filsafat Martil

Jumat, 11 Mei 2012


Garasi 10 membuka kembali kelas ajaran baru. Kali ini kelas Filsafat Martil menjadi materi pengajaran tersebut. Jumat sebelas Mei adalah hari dimana pembukaan kelas, lewat pukul tujuh malam Rosihan Fahmi (pemateri) mengimami dengan memperkenalkan diri terlebih dahulu dilanjut kedelapan peserta. Dalam sela-sela peserta yang memperkenalkan diri, hadir lagi dua orang secara bergantian, maka sesuailah dengan sepuluh absensi seperti yang disediakan. 

Masih dalam obrolan santai namun cukup memberi kesan sepi, lebih tepatnya masih kaku. Mungkin karena belum saling kenal atau belum ada ketertarikan lain hal yang sama. Atau memang sedang serius mempersiapkan diri untuk sebuah kajian yang tidak mudah dipahami, atau bahkan terpukau oleh suara-suara Ami (panggilan dari Rosihan Fahmi-red). Hal tersebut dimanfaatkan masing-masing peserta untuk menyimak khotbah Ami mengenai pemikiran tentang kefilsafatannya, salah satunya ialah buat apa pikiran jika hanya melayang-layang dicakrawala tanpa pernah hinggap sedikitpun di atap dunia, dipaparkannya mengalir hingga masuk dalam cerita pengalaman-pengalamannya saat ini yang menjadi seorang filsuf keliling. Mungkin karena alasan itulah Ami bersedia mengajar di Garasi 10. 

Pemaparan Ami merupakan pengantar menuju presentasinya tentang silabus Filsafat Martil. Ya, filsafat martil merupakan nama lain dari filsafat Nietzsche. Mengapa martil? konon karena setelah menyelami pemikiran Nietzsche, pada umumnya akan berkesan seperti mendapat hempasan martil!

 “Membuat orang gelisah adalah tugas saya.” 

Itulah bait dari Nietzsche yang ditampilkan pada slide mengawali penjelasan silabus Ami. Alur dari setiap pertemuan digambarkan secara sekilas beserta teknisnya. Lantas dalam setiap pertemuan ia memberi tugas berupa pertanyaan-pertanyaan guna membantu peserta memahami materi melalui pencarian jawaban personal. Selain itu, tugas tersebut diharapkan memunculkan pertanyaan atau problem baru yang ditangani peserta masing-masing. Ami mencoba memicu agar peserta mendapat pemahamannya secara sadar, reflektif, dan maksimal yang nanti akan menjadi sebuah output tertentu. 

Tugas pertemuan pertama adalah: 
  1. Membaca buku sebanyak-banyaknya tentang Nietzsche dan buah karyanya, ini berguna mempermudah memahami secara mandiri dan saling cek ulang barangkali ada yang terlewat, kurang paham/jelas, lebih fatalnya salah memaparkan. Ami memberi rekomendasi buku yang cukup bagus sebagai pengantar yakni buku berjudul “Nietzsche” karangan asli St. Sunardi penerbit LKiS 
  2. Tugas berikutnya mengajak berpikir reflektif dengan pertanyaan ‘Dalam Situasi zaman macam ini, hal apa yang membuatmu “tampak sensitif”? Lalu untuk saat ini bagaimana kamu menyikapinya?’ 
  3. ‘Apa yang menjadi faktor pemicu hidupmu, sehingga hidupmu senantiasa bergairah?’ 
  4. ‘Bagaimana cara kamu menghadapi hidup?’ 

 Setelah menjelaskan maksud dari pertemuan pertama dan pertanyaan-pertanyaan yang seolah memberi wanti-wanti kepada peserta. Berikutnya ke pertemuan kedua dengan diawali bait Nietzsche: 

“Jika engkau haus akan kedamain jiwa dan kebahagiaan, percayalah. Jika engkau ingin murid kebenaran, Carilah!” 

Kalimat tersebut akan mengantar pada pertemuan yang akan membahas "Riwayat Hidup & Metode Filsafat Nietzsche". Tafsirkan teks Nietzsche diatas bahwa ketika kamu membutuhkan sebuah kedamaian dan kebahagiaan jiwa maka percayalah bahwa itu ada dan percayalah sedang bersama dirimu, percayalah. Dan bila kamu selalu membutuhkan dan mencari kebenaran dalam segala hal maka carilah terus dan terus. Kesadaran Nietzsche akan pengetahuannya didapat melalui pengunyahan tekstual (pengalaman -red) bahwa dia berasal dari keluarga yang taat beragama dan ketika ia dewasa orang tuanya menginkan menjadi seorang pendeta. Dari kisah itulah kiranya sebuah awalan materi menelisik dan menyelami cikal bakal pemikiran-pemikirannya. 

Saat kuliahnya pada teologi, Nietzsche malah membelot dan menemukan kesenangan sesungguhnya pada filologi. Dengan memperdalam filologinya, ia menguasai bahasa Latin dan Yunani, kemudian ia menciptakan kelompok kajian filologi. Salah satu hasil dari kajian tersebut adalah penemuan aforisme. Aforisme adalah pernyataan padat ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum. Seperti contoh Aforisme berikut: 

 “…Kita sudah membakar jembatan dibelakang kita!―dan lagi, kita sudah menghanguskan daratan dibelakang kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil!...” 

 Itulah Aforisme Nietzsche dalam slide pertemuan ketiga yang akan membahas Nihilisme. Namun aforisme tetaplah aforisme. Tak semua orang mau, mampu dan berhasil menjalankan apa yang dinyatakan. Pun sama halnya Nietzsche. Seperti sebuah kisah hidupnya ini. Ia mencintai seorang perempuan, lantas dijalinlah sebuah hubungan sepasang manusia. Namun kekasihnya tersebut memiliki hubungan dengan lelaki lain. Karena sudah kadung cinta mati dengan kekasihnya, maka ia tidak begitu saja mau jika harus berpisah dan rela hidup bertiga dengan ‘pacar kekasihnya’. Karena komitmennyalah ia harus merealisasikannya. Belum juga terlaksana adik Nietzsche ternyata mengetahui hal tersebut dan segera memberi tahukan kepada ibunya. Sang ibu melarang. Nietzsche pun tentu menurut karena hanya kepada-nyalah ia patuh, karena ibunya adalah orang yang paling disayangi. Kisah cinta itupun kandas. 

Berasal dari kisah yang muncul itulah pertemuan kelas ketiga akan membongkar tentang gagasan Nihilisme. Gagasan dimana menurut Ami yang mampu membuat situasi hidup semacam bernafas dalam lumpur. Hidup dalam bahaya, nihilisme bagian darinya. Nihilisme adalah salah satu cara mencari otentisitas diri. 

Di pertemuan keempat metode pengajaran akan lain cara, yakni "Mendengarkan Filsafat Nietzsche melalui karya musik Richard Strauss". Lebih santai daripada materi sebelum atau sesudahnya yang akan serius, cara lain ini adalah usulan Syarif diyakini untuk memberi suasana segar. Dijelaskan oleh Diecky, bahwa pertemannan Nietzsche dan Wagner yang saling mengagumi akan karyanya, sama halnya seperti Strauss yang sangat mengagumi Nietzsche. Lantas menafsir ulang pemahamannya dalam sebuah karya musik berjudul “Also Sprach Zarathustra”. Jika Filsafat Nietzsche masih dianggap sebuah usaha tidak mudah untuk paham, peserta nanti malah dituntut atau ditodong menafsir dua karya berbada bahan hanya melalui suara saja. 

Dua pertemuan selanjutnya sangat berhubungan dengan nihilisme. Pertemuan kelima membahas "Kehendak untuk Berkuasa". Pertemuan tersebut menelisik perihal dorongan hidup manusia dalam membangun peradaban dan kebudayaan. Seperti aforisme kehendak berkuasa Nietzsche yakni, "Jadilah orang yang berpengaruh dan kalau bisa pengaruhilah orang lain." Dari sanalah Hitler dengan Nazi-nya menafsirkan dengan cara lain dan atas itu pula beberapa orang menyalahkan bahwa ulah Hitler itulah akibat pemikiran Nietzsche. 

Pertemuan keenam akan mengenai "Ubermensch". Ubermensch adalah arti lain dari Superman atau manusia super. Ubermensech diartikan pula makna dunia ini. Dari situlah pertemuan nanti akan menapaki kisah hidup manusia yang sangat berbeda-beda, senang, sedih, malas, putus asa, percaya diri, tak jarang juga hadir situasi tidak betah untuk tetap hidup didunia ini. Nietzsche ingin mengajak kita untuk tetap menari dengan riang gembira bersama kehidupan ini. Itulah mengapa sebelum mempunyai kehendak berkuasa dan menjadi ubermensch, nihilisme memiliki sesuatu cara yang unik untuk menghubungkannya. Mengawali suatu hal untuk suatu hal lagi kalau boleh dikatakan, radikal ekstrimis. Seperti tidak pernah tenang dalam keadaan aman dan terus menerus mencari bahkan menciptakan musuh. 

Pertemuan ketujuh akan membahas "Kembalinya Segala Sesuatu & Pengaruh Filsafat Martil Nietzsche". Konsep “kembalinya segala sesuatu” diutarakannya melalui segala peristiwa yang ada, atau apa saja yang ada pada hidup ini merupakan pengulangan dirinya sendiri dari yang pernah terjadi. Dengan keadaan yang ringkih mengakibatkan kondisi tubuhnya lambat laun menurun, menular pada kerja otak, dipenghujung hidupnya ia dianggap gila. Tapi sebenarnya ia tak pernah mati, ia menjelma pada siapa saja yang menginginkannya. Karena banyak sekali faktor yang bisa dikaji dan jadikan rumusan baru bagi pemikir setelahnya, saat ini dan masa berikutnya. Dari sanalah nanti akan dipaparkan pemikiran filsuf-filsuf yang telah menelan karya dan dirasuki Nietzsche seperti Karl Jasper, Martin Heidegger, Michael Foucault, Derrida, Muhammad Iqbal.

Dari sekian penjelasan dari Ami selalu diberikan pertanyaan-pertanyaan pamungkas. Guna tadi, yakni memicu semua peserta untuk sebuah output dalam bentuk tulisan bebas. Itulah goal dari pemateri, merekam jejak pemikiran secara sadar, titik dimana menjadi hal lebih baik ketimbang pemikiran yang tak jarang sama persis bakal ada, begitu saja menguap. Kumpulan tulisan-tulisan dari peserta yang akan diterbitkan dalam bentuk buku, dimana cover-nya telah dibuat dan menunggu tulisan dimuat oleh Ami. 

Sedikit labih berbaur dan mengalir, forum berjalan lebih santai tidak terlalu tegang seperti saat presentasi Ami, padahal Ami belum memberikan materi secara mendetail dan mendalam, namun terlihat audiens khusuk dan membuat perasaan tidak karuan bergejolak antara mengerti dan tidak mengerti dalam memahaminnya. Entah didasari apa motif masing-masing peserta mengikuti kelas tersebut. Apapun alasannya motif itu diungkapkannya lain, dengan rasa penasaran, dengan bertanya pada pemateri. Sesi formal ditutup pukul sembilan tiga puluh, namun tetap saja masing-masing peserta masih saling berganti tanya berkenaan dengan Nietzsche khususnya dan filsafat umumnya. 

*** 

Untuk persiapan saja, pemateri hanya menggambarkan, jika anda seorang petualang yang haus tantangan pemacu adrenalin, maka cocoklah mempelajari pemikiran Nietzsche. Namun sebaliknya bila anda nyaman-nyaman saja dalam keadaan yang tenang damai tak perlu ada gejolak, dirasa itu hanya akan meresahkan. Selamat belajar! 

Benny Apriariska
Previous
Next Post »