Menebar Samskara, Menuai Karma

Kamis, 3 Mei 2012


Apa yang membedakan manusia yang hidup dan yang mati?

Pertanyaan yang keluar dari mulut sang guru, Dada Liilananda tersebut mengawali presentasinya tentang "Hidup, Mati, dan Karma" selama kurang lebih satu jam. Pertanyaan tersebut memancing topik untuk berkembang ke arah paralelisasi antara tubuh dan jiwa. Yang hidup, kata Dada, adalah manusia yang tubuh dan jiwanya masih berjalan beriringan, masih berinteraksi dan bersinggungan. Namun jiwa tidak pernah mati, ia membawa benih-benih reaksi atas segala aksi yang kita lakukan semasa hidup. Benih-benih reaksi tersebut dinamakan dengan samskara.
 
Dada Liilananda di Garasi 10
Samskara adalah bagaikan kolam yang dilempari batu. Meski batunya kerikil, namun riak yang ditimbulkan bisa bergelombang. "Reaksi," kata Dada, "Selalu lebih besar daripada aksi." Samskara ini, ketika ditimbulkan lewat aksi yang buruk, akan menimbulkan karma. Karma belum tentu datang langsung setelah samskara ditebar, ia seringkali butuh waktu sebelum tumbuh dan berkembang. Atau dalam bahasa Dada: Express itself. Artinya, hasil dari perbuatan buruk kita bisa saja datang sepuluh tahun kemudian, atau bahkan di keturunan ataupun kehidupan kita berikutnya. Dengan demikian, Dada tidak percaya adanya ko-insiden. "Segalanya insiden, bahkan nasib seseorang apakah dia jadi pengemis ataupun raja, amat ditentukan oleh samskara. Tidak ada yang kebetulan," tuturnya.

Apa yang baik tentu saja tidak mudah untuk dirumuskan, jika pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana cara menciptakan benih reaksi yang baik? Namun Dada memberi solusi: Good intention. Niat baik akan menebar benih reaksi yang baik. Meski, katanya, hasil baik tidak akan langsung diperoleh, karena kita bersinggungan dengan banyak samskara lainnya. Tapi yang terpenting, itulah kenapa disebut benih, karena suatu hari nanti akan ada kebaikan yang datang ketika samskara itu sendiri express itself.

Pertanyaan berikutnya: Bagaimana mengetahui good intention? Bukankah tidak semua orang sadar betul bahwa niat baiknya adalah betul-betul mengandung kebaikan? Sebagai contoh, bagaimana jika orang membohongi polisi untuk menyembunyikan kawannya yang habis mencuri. Apakah itu sebuah contoh niat baik? Dada rupanya mengembalikan pertanyaan ini pada diri masing-masing. Ini menjadi semacam etika Sokrates, bahwa pengetahuan terbaik datang dari dalam. Untuk mengetahui kebaikan, seseorang harus punya pengetahuan, atau secara lebih dasar, orang mesti mempunyai keutamaan atau virtue. Seseorang melakukan kebaikan bukan karena peraturan ataupun konsekuensi, tapi karena ia tahu apa yang baik.

Syarif Maulana

Previous
Next Post »