Filsafat dalam Film Psycho (1960): Dari Mekanisme Pertahanan Ego hingga Krisis Oedipal

Ditulis sebagai suplemen untuk kelas ”Filsafat dalam Film” 17 Mei 2012 

 


Psycho adalah film tahun 1960 yang digarap oleh sutradara spesialis genre thriller yakni Alfred Hitchcock. Film ini termasuk salah satu yang terbaik bukan hanya di genre-nya, tapi juga dalam pandangan kritikus secara umum. Plot yang tidak biasa, musik yang mencekam, tidak ada pahlawan di akhir cerita, efek ketakutan psikologis terhadap bathtub yang cukup masif kala itu, hingga pesan-pesan psikoanalisa yang kuat, membuat Psycho sering disebut sebagai karya terbaik Hitchcock selain Vertigo.



Alur Cerita

Tokoh sentral dalam Psycho awalnya adalah Marion Crane (diperankan oleh Janet Leigh). Ia mencuri $ 40.000 dari salah satu klien perusahaannya untuk membantu menyelesaikan masalah kekasihnya sekaligus juga uang itu digunakan agar mereka berdua bisa hidup bersama. Setelah mencuri, Marion pergi ke luar kota bermil-mil jauhnya untuk menemui sang pacar yang diselingi penggantian mobil di tengah-tengah perjalanan untuk menghilangkan jejak.

Setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, di suatu malam Marion memutuskan untuk bermalam sejenak di sebuah motel bernama Bates Motel. Di belakang motel tersebut, terdapat rumah cukup besar dimana sang pemilik motel bernama Norman Bates (Anthony Perkins) tinggal. Setelah mengobrol sejenak dengan Norman, Marion akhirnya disuguhi kunci kamar nomor 1 di motel tersebut. Marion yang mengaku lapar, kemudian diajak Norman untuk makan malam bersama di kantornya.

Setelah makan malam, Marion mandi dengan menggunakan shower di bathtub-nya, dan kemudian terjadi penikaman oleh seseorang yang berpakaian seperti wanita. Marion pun mati di kamar mandi tersebut bersimbah darah. Norman yang datang terlambat, terkejut dengan kejadian tersebut dan akhirnya memutuskan untuk membersihkan jejak-jejak kematian Marion dengan membuang mayat, mobil, dan barang-barangnya di rawa (termasuk di dalamnya uang hasil curian $ 40.000).

Adegan penikaman di bathtub oleh “sang ibu”.




 



Kematian Marion ini membuat tokoh sentral beralih menjadi Norman yang terus menerus terdengar adu argumen dengan sang ibu di rumah belakang motel. Pertanyaan berikutnya masih tersisa: Siapa sesungguhnya yang membunuh Marion? Jawaban baru terkuak ketika Sam, kekasih Marion dan Lila, adik Marion memburu fakta ke Bates Motel. Ketika Norman menolak untuk mengakui keberadaan Marion, Sam dan Lila yang curiga kemudian melumpuhkan Norman dan menyelidiki rumah di belakang motel tersebut. Lila ke lantai atas dan menemukan kamar sang ibu. Kemudian ia melanjutkan pencariannya ke basement dan menemukan mayat sang ibu dengan pakaian lengkap! Setelah penemuan itu, tak lama kemudian Norman masuk membawa pisau hendak menikam Lila, namun penikaman tidak terjadi karena Sam keburu menyelamatkannya.


Akhir cerita, Norman ditangkap oleh polisi. Seorang psikiater kemudian menjelaskan bahwa dalam diri Norman juga hidup ibu Norman, dan mereka berperan bergantian dan menciptakan semacam alter-ego. Yang suka membunuh, kata sang psikiater, adalah “ibunya” yang cemburu, kira-kira oleh sebab rasa sayang yang berlebihan pada anaknya. Adegan pamungkas adalah Norman yang duduk termenung sendirian di sel dengan suara dari sang ibu yang menggaung di kepalanya.

Psikoanalisis

Psikoanalisis sering disebut sebagai generasi kedua dalam perkembangan ilmu psikologi. Generasi pertamanya adalah behaviorisme, sebuah psikologi yang “paling tidak psikologis” karena mengingkari keluhuran jiwa. Behaviorisme, yang salah satu tokohnya bernama B.F. Skinner, menyatakan bahwa manusia tidak lebih daripada merespon lingkungannya. Behaviorisme percaya bahwa manusia bisa dibentuk, dilatih, dikontrol, selama lingkungan menginginkan demikian.

Psikoanalisis yang digagas oleh Sigmund Freud melihat bahwa behaviorisme terlalu melakukan simplifikasi. Struktur jiwa manusia itu seperti gunung es dimana yang muncul ke permukaan, yakni yang sadar, justru merupakan bagian yang kecil. Bagian dasar gunung yaitu alam bawah sadarnya, justru dalam, gelap, tapi juga sekaligus besar. Hal tersebut sekaligus mengubah cara pandang psikologi terhadap jiwa itu sendiri. Alam bawah sadar dianggap punya banyak penjelasan terhadap kegiatan-kegiatan sadar yang kita lakukan.

Misalnya, dalam kasus film Psycho, perbuatan membunuh Norman Bates tidak bisa disederhanakan dengan hanya mengacu pada “stimulus lingkungan” ala behaviorisme. Perbuatan Norman jauh lebih kompleks, dalam pandangan Freud, terkait dengan alam bawah sadar seperti latar belakang masa kecil plus hasrat-hasratnya yang tidak terpenuhi. Meskipun di akhir cerita Psycho ada psikiater yang memberikan penjelasan tentang perilaku Norman, namun hal tersebut dianggap analis film Rob Ager sebagai “hal yang jangan terlalu dianggap menyelesaikan semuanya”. Ager menganggap masih banyak hal yang bisa digali dari film lebih daripada apa yang dijelaskan psikiater.


  1. Id, Ego, dan Superego

Salah satu konsep penting psikoanalisis Freudian adalah aparatus dalam jiwa yaitu id, ego, dan superego. Id adalah yang paling dasar dan dalam, berisikan hasrat-hasrat manusia yang agaknya kebinatangan. Disebut sebagai triebe, yang dapat diterjemahkan menjadi insting atau nafsu. Freud juga menyebutnya dengan kebutuhan.

Id bekerja dengan prinsip-prinsip kenikmatan, yang bisa dipahami sebagai dorongan untuk selalu memenuhi kebutuhan dengan serta merta. Lihatlah seorang bayi yang sedang lapar, dia akan menangis sejadi-jadinya. Si bayi tidak “tahu” apa yang dia inginkan dalam pengertian orang dewasa; dia hanya tahu bahwa dia menginginkannya dan itu harus dipenuhi saat itu juga. Dalam pandangan Freudian, bayi itu adalah id yang murni, atau lebih tepatnya nyaris murni. Id sebenarnya merupakan representasi psikis kebutuhan-kebutuhan biologis.

Sedangkan ego menghubungkan organisme dengan realitas dunia melalui alam sadar yang dia tempati, dan dia mencari objek-objek untuk memuaskan keinginan dan nafsu yang dimunculkan id untuk merepresentasikan apa yang dibutuhkan organisme. Tidak seperti halnya id, ego berfungsi berdasarkan prinsip-prinsip realitas, artinya dia memenuhi kebutuhan organisme berdasarkan objek-objek yang sesuai dan dapat ditemukan dalam kenyataan.

Ketika ego berusaha membuat id (atau organisme) tetap senang, di sisi lain dia juga mengalami hambatan yang ada di dunia nyata. Sering dia menemukan objek-objek yang menghalanginya mencapai tujuan. Ego akan tetap mencatat apa-apa yang menghalangi dan sekaligus mengingat apa-apa yang memuluskan jalannya mencapai tujuan. Kembali ke contoh bayi tadi, ego si bayi akan melacak apa yang membuat dia mendapat pujian dan hukuman dari dua objek dunia nyata yang paling dekat dengannya saat itu, yaitu papa dan mamanya. Catatan tentang segala objek dunia nyata yang menghalangi dan mendukungnya inilah yang kemudian menjadi superego.

Ilustrasi id, ego, dan superego.




 



Dalam Psycho, pertentangan ketiga ini ditunjukkan mula-mula lewat kegelisahan Marion Crane setelah ia membawa pergi uang $ 40.000 untuk melanjutkan hidup bersama Sam, kekasihnya. Adegan pembuka yaitu kemesraan antara Sam dan Marion di ranjang menunjukkan setidaknya diantara keduanya terkandung libido, bahasa Latin untuk “aku berhasrat”. Untuk memenuhi kebutuhan instingtifnya, Marion membutuhkan realitas, yaitu uang itu tadi. Namun cara seperti itu mengusik kesadarannya terus menerus karena superegonya terus menerus bicara, membuat perasaan-perasaan bersalah kerap timbul.

Sambil menyetir, Marion mendengar superego mengusik dirinya.





 
 




Slavoj Zizek, filsuf Slovakia yang juga ahli psikoanalisis, melakukan pembacaan terhadap film ini lewat film dokumenter The Pervert’s Guide to Cinema. Ia melihat struktur id, ego, dan superego terlihat lewat rumah Norman Bates. Rumah Norman dibagi atas tiga tingkat, yaitu lantai dasar, atas, dan basement. Kata Zizek, ini mewakili struktur ego (lt. dasar), superego (lt. atas) dan id (basement). Lantai dasar adalah tempat Norman melakukan aktivitas sebagai penjaga hotel, yang mana dapat diartikan sebagai aktivitas riilnya. Ia melaksanakan prinsip realitas sebagaimana seharusnya ego bekerja. Lantai atas adalah kamar ibunya, kamar tempat Norman dan “sang ibu” berdebat, seolah berprinsip sama dengan superego yang berisikan larangan dan hukuman, tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan si anak. Namun untuk mengatasi dominasi superego sang ibu, Norman menggotongnya ke basement. Menempatkan sang ibu pada hasrat dan instingnya. Membawa ia pada triebe yang paling dasar. Juga bukan tidak mungkin ini merupakan bentuk insting Oedipal, yakni ketertarikan seksual sang anak pada ibu, sebelum “dipisahkan” oleh superego tentang mana yang boleh dan tidak boleh untuk dihasrati.


Rumah Bates yang terdiri dari tiga tingkat. Dianggap Zizek mewakili id, ego, dan superego.


  1. Mekanisme Pertahanan Ego

Ketika terjadi konflik di antara kekuatan-kekuatan dahsyat seperti realitas dan masyarakat, ego merasa terjepit dan terancam. Perasaan tersebut disebut kecemasan (anxiety). Namun ketika kecemasan begitu menguasai, ego harus berusaha mempertahankan diri. Secara tidak sadar, dia akan bertahan dengan cara memblokir seluruh dorongan atau dengan menciutkan dorongan-dorongan tersebut menjadi wujud yang lebih diterima dan tidak terlalu mengancam. Cara ini disebut mekanisme pertahanan ego, yang akan dipaparkan beberapa berikut ini:

-        Penolakan dilakukan dengan cara memblokir peristiwa-peristiwa dari luar kesadaran.
-      Represi yaitu ketidakmampuan untuk mengingat kembali situasi, orang, atau peristiwa yang menakutkan.
-          Penggantian (displacement) yaitu mengalihkan arah dorongan ke target pengganti.
-        Proyeksi yaitu penggantian ke arah luar. Mekanisme ini merupakan kebalikan dari melawan diri sendiri.
-         Pembentukan Reaksi yaitu ”percaya pada hal sebaliknya”.
-     Introjeksi yaitu membawa kepribadian orang lain masuk dalam diri, karena dengan begitu dapat menyelesaikan masalah perasaan yang mengganggu.
-        Regresi adalah kembali ke masa-masa di mana seseorang mengalami tekanan psikologis.
-      Rasionalisasi adalah pendistorsian kognitif terhadap “kenyataan” dengan tujuan tersebut tidak lagi memberi kesan menakutkan.
-    Sublimasi adalah mengubah berbagai rangsangan yang tidak diterima, apakah itu dalam bentuk seks, kemarahan, ketakutan atau bentuk lainnya, ke dalam bentuk-bentuk yang bisa diterima secara sosial.

Mekanisme pertahanan ego ini dibutuhkan untuk menjelaskan mengapa Norman mengawetkan mayat ibunya. Meskipun yang satu ini sudah cukup jelas diungkap oleh sang psikiater di akhir cerita, namun akan lebih menarik jika dilengkapi oleh psikoanalisis Freudian (untuk urusan mekanisme pertahanan ego di atas, putrinya, Anna Freud melengkapi banyak). Dalam film Psycho, penjelasan tentang gelagat Norman tersebut agaknya lebih dekat ke introjeksi. Dalam buku General Psychology yang ditulis George Boeree, contoh dari introjeksi ini adalah sebagai berikut:

”Setelah suaminya meninggal, tetangga saya mulai memakai pakaian suaminya, yang tentu saja tidak pantas untuknya. Dia pun mulai mengerjakan kebiasaan-kebiasaan mendiang suaminya ketika hidup, seperti merokok dengan cangklong. Walaupun para tetangga telah mengatakan tingkahnya ini agak aneh dan harus dihentikan, dia terus saja berusaha menjadi ”perempuan kelaki-lakian”, bahkan dia tidak terganggu oleh kerancuan identitas seksual akibat kelakuannya ini.”

Introjeksi tentu saja dapat menjelaskan mengapa Norman berpakaian seperti wanita dan memasukkan kepribadian sang ibu pada dirinya. Rupanya agar kehadirannya tetap dapat dirasakan sekaligus mengurangi perasaan-perasaan bersalah karena pernah membunuh sang ibu. Namun kejiwaan Norman tidak bisa dengan sederhana dimasukkan ke dalam satu kategori mekanisme pertahanan saja, ada beberapa yang juga cocok. Misalnya displacement, yaitu mengganti sasaran hasrat pada orang lain atau benda lain yang dijadikan target simbolik. Ini jika diasumsikan Norman takut oleh sang ibu alih-alih menghasratinya. Karena mustahil untuk melawan kekuasaan sang ibu, ia menggantinya dengan mayat yang diawetkan dan mengisinya dengan suara yang dibuat oleh Norman sendiri. Contoh dari General Psychology bagi displacement adalah sebagai berikut:

”Orang yang tidak punya kesempatan mencintai orang lain mungkin akan menggantinya dengan anjing atau kucing kesayangan. Orang yang tidak merasa nyaman dengan hasrat seksualnya dengan manusia nyata mungkin akan menukarnya dengan boneka atau benda lain.”

Pengawetan mayat sang ibu. Dimungkinkan sebagai upaya Norman untuk mengganti ketakutannya terhadap sang ibu dengan target lain yang lebih “lemah”.







 
 



c. Krisis Oedipal

Hal yang membutuhkan penjelasan berikutnya adalah, bagaimana menjelaskan kejanggalan hubungan Norman dan “sang ibu”? Psikoanalisis Freudian menjawabnya lewat mitologi tentang Raja Oedipus yang membunuh ayahnya dan menikahi ibu kandungnya. Cara kerja krisis Oedipal adalah sebagai berikut: Objek cinta kita yang pertama adalah ibu kita. Kita butuh perhatian, kasih sayang, dan belaiannya. Namun, kita menginginkan itu semua dalam pengertian seksual secara luas. Seorang bocah laki-laki punya saingan dalam mendapatkan keinginannya ini, yaitu ayahnya sendiri.

Ayahnya lebih besar, kuat, dan pintar darinya. Si ayah tidur dengan ibunya, sementara dia sendiri dibiarkan sendirian di tempat tidur yang kecil. Karena dia tahu ayahnya lebih kuat darinya dan kuatir akan penisnya sendiri, dia akan beralih pada pertahanan-pertahanan ego. Dia akan mengganti keinginan seksualnya terhadap ibunya menjadi keinginan terhadap bocah perempuan, dan kemudian, pada perempuan dewasa. Dia juga akan mengidentifikasi diri dengan penakluknya, si ayah, dengan berusaha keras agar mirip dengannya, agar bisa menjadi seorang laki-laki jantan.

Eksplanasi di atas menjadi cukup akurat jika disandingkan dengan paparan psikiater di penutup film. Katanya, memang pernah ada pria yang mendekati ibunya dan kemudian membuat Norman menjadi dicampakkan. Pada titik itu Norman menjadi cemburu dan kemudian membunuh keduanya. Pembunuhan tersebut membuat tertutup kemungkinan bagi Norman untuk “menikah” dengan ibunya. Norman mengatasi hal tersebut dengan memasukkan kepribadian sang ibu dalam diri dan berinteraksi secara intim sepuas-puasnya.

Interaksi Norman dengan “sang ibu” dalam dirinya. Suatu bentuk keintiman tersendiri pasca Norman membunuh satu-satunya penghalang cinta antara dia dan ibunya, yaitu kekasih sang ibu.


Catatan Penutup

Psycho bukan satu-satunya film yang menyuguhkan pesan psikoanalisis. Slavoj Zizek dalam The Pervert’s Guide to Cinema menjelaskan puluhan film yang mengandung tema yang sama di dalamnya, entah itu tersurat atau tersirat. Satu pesan yang agaknya umum dari film-film semacam ini adalah upaya pelacakan sebab musabab mengapa seseorang bisa menjadi sedemikian abnormal. Freud sendiri mengatakan bahwa masa kecil adalah masa yang terpenting dalam pembentukan alam bawah sadar manusia dewasa. Keberadaan penjahat maniak atau pembunuh keji rupanya tidak bisa dihakimi secara mudah oleh sebab kehendak bebasnya sendiri. Dalam cerita-cerita psikoanalisis semacam Psycho, selalu ada asal muasal yang kadang berada di luar kuasa pelaku kriminal itu sendiri.

Pemikiran Freud membawa kita pada determinisme psikologis. Pertanyaan besar yang bisa saja menggelayuti pemikiran kita: Adakah manusia bebas, jika segala tindak tanduknya dikendalikan oleh alam bawah sadarnya? 


Daftar Pustaka

  • Buku            
    • Bouree, George. General Psychology: Psikologi Kepribadian, Persepsi, Kognisi, Emosi & Perilaku. Prismasophie. Yogyakarta: 2008.
  • Film                 
    •  Fiennes, Sophie (Sutradara). Pervert’s Guide to Cinema. 2006.
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Anvi Dista
AUTHOR
14 September 2016 00.39 delete

wow...penjelasan yang dipaparkan sangat membantu. Terima kasih.

Reply
avatar