Filsafat dalam Film A Clockwork Orange (1971): Mengontrol Manusia: Mengakhiri Petaka?

Ditulis sebagai suplemen untuk kelas "Filsafat dalam Film" 31 Mei 2012

 
A Clockwork Orange adalah film karya Stanley Kubrick yang diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Anthony Burgess.  A Clockwork Orange bisa dibilang merupakan film yang cukup kontroversial. Isinya cukup dominan seks dan kekerasan, meskipun dibalut dengan sajian visual yang cukup stylish. Film ini sempat dikecam karena memberi pengaruh buruk bagi generasi muda Inggris pada jamannya. Barometernya terletak dari kemunculan beberapa kejahatan di wilayah Inggris yang pelakunya menggunakan kostum sama dengan yang digunakan oleh tokoh di film tersebut. 

Apapun dampak negatifnya –termasuk cerita dari beberapa kawan perempuan yang ketika menyaksikannya merasa amat dilecehkan-, A Clockwork Orange tetap sebuah karya yang bisa dikategorikan masterpiece. Kubrick mempertahankan dialog ala nadsat (penggunaan beberapa istilah rusia) dalam novel Burgess, yang memang menjadi kekuatan utama dalam film. Ia juga menghadirkan gaya visual yang ambigu: Menjijikan sekaligus surealistik, membuat pemirsa bingung apakah seharusnya merasa mual atau tergugahkan. Namun yang terpenting, ada pesan filosofis yang kuat di baliknya. Ini bukan sekedar cerita seorang Alexander DeLarge yang tadinya berandal lantas bertobat. Lebih dari itu, A Clockwork Orange ingin menyusupkan sindiran kepada arogansi sains behavioristik dan peran negara. Keduanya punya suatu ambisi mengerikan dan menghantui kita hingga hari ini yakni klaim kontrol terhadap manusia.

Alur Cerita
Cerita dimulai dari Alexander DeLarge alias Alex (Malcolm McDowell) yang tengah bersama ketiga teman lainnya yaitu Pete, George, dan Dim, sedang berada di sebuah bar yang menjual susu. Menurut narasi, susu ini bukan susu biasa. Terkandung di dalamnya tambahan zat yang bisa mendorong keempat anak muda itu untuk melakukan sedikit ultra-violence. Beberapa adegan berikutnya adalah tentang amok, tentang kegilaan mereka berempat. Mulai dari memukuli gelandangan tua, tawuran dengan anak geng lainnya, hingga memerkosa istri seorang penulis di rumah kediamannya sendiri. 

Alex dan tiga kawannya di bar susu Moloko. 


Perpecahan terjadi. Ketiga teman lainnya merasa kurang puas dengan dominasi Alex yang terlalu kuat dalam kelompok. Ditambah lagi, Alex dalam beberapa hari tidak muncul oleh sebab alasan sakit kepala. Alex tidak tinggal diam melihat suasana keruh ini. Ia mempertegas kepemimpinannya dengan memukuli kawan-kawannya sendiri dengan tongkat kala tengah berjalan bersama di pinggir kanal. Kejadian ini memberi Pete, Dim, dan Georgie semacam pelajaran, namun diam-diam mereka menyimpan dendam pada ketua kelompoknya. Dalam suatu kesempatan kejahatan berikutnya, yaitu bersama-sama merampok rumah mewah seorang wanita yang agaknya berprofesi sebagai seniman, Alex dikhianati. Setelah membunuh wanita pemilik rumah, Pete, Dim, dan Georgie memukul wajah Alex dengan botol yang membuat ia terkapar dan menjadi sasaran empuk untuk ditangkap polisi. Tiga kawan lainnya itu sendiri sukses kabur.

Alex menghajar kawan-kawannya sendiri dalam rangka
memberi pelajaran dan menunjukkan kekuasaan.


Cerita berikutnya berasal dari penjara tempat Alex mesti mendekam. Ia mendapat hukuman empat belas tahun penjara atas pembunuhan yang dilakukannya. Di penjara ini, Alex menjadi religius. Tak hanya itu, ia juga mendengar ada suatu metode saintifik yang bisa membuatnya menjadi orang baik untuk selamanya. Alex tertarik karena jika ia sukses mengikuti percobaan bernama Ludovico Technique tersebut, ia dibebaskan dari penjara lebih cepat.

Ludovico Technique, suatu percobaan sains yang mencoba mengubah perilaku manusia


Nyatanya, Ludovico Technique tidak terlalu menyenangkan bagi Alex. Ia mendapati dirinya diobati dengan cara yang halus tapi menyakitkan: menyaksikan video-video kekerasan. Hanya saja ia tidak hanya menonton, Alex juga disuntik serum sehingga apa yang ia lihat menjadi sedemikian berlebihan bagi perasaannya. Serangkaian eksperimen medis tersebut membawanya pada evaluasi akhir di atas panggung. Alex, di hadapan kepala penjara, pejabat, politisi, dan pastur, mendemonstrasikan hasil dari Ludovico Technique dengan dua godaan: kekerasan dan seksualitas. Orang pertama menampar dan menginjak, sedang orang kedua adalah sesosok wanita telanjang yang menyajikan dirinya begitu dekat dengan Alex. Ludovico Technique menunjukkan suatu keberhasilan: Alex tidak bereaksi atas keduanya. Atas dasar itu Alex dianggap lulus dan kemudian dibebaskan. 

Nestapa Alex tidak berubah meskipun ia sudah “diubah” menjadi baik. Alex ditolak secara halus untuk kembali ke rumah orangtuanya karena ternyata bapak ibunya telah mengambil semacam anak angkat yang sehari-hari tidur di kamar Alex. Menggelandang di jalan, Alex juga kemudian dipukuli oleh gerombolan pengemis yang salah satunya dendam pada perbuatannya di masa lampau. Tak disangka pula, Alex “diamankan” oleh dua orang polisi yang ternyata adalah eks teman satu gengnya, Dim dan Georgie. 

Dalam keadaan lunglai, Alex masuk ke sebuah rumah yang ia lupa bahwa rumah tersebut adalah tempat ia dan kawan-kawannya pernah memerkosa istri pemiliknya. Dengan berdarah-darah, Alex diterima oleh sebab awalnya si pemilik rumah lupa bahwa ia adalah orang yang dulu pernah datang tanpa diundang. Namun lambat laun, si pemilik rumah ingat juga tentang siapa Alex. Ia berencana untuk balas dendam personal maupun institusional. Maksudnya? Ternyata percobaan saintifik Alex adalah bentuk kampanye negara agar citra pemerintah baik di pemilu berikutnya. Sedangkan si pemilik rumah adalah persis lawan politiknya. Ia mengatur agar Alex bisa dicederai agar negara tercoreng.

Singkat cerita, Alex masuk rumah sakit karena cedera parah. Ia menjatuhkan diri dari lantai atas karena tersiksa mendengarkan lagu favoritnya, Symphony no. 9 karya Beethoven (siksaan ini adalah efek samping dari Ludovico Technique). Masuknya Alex ke rumah sakit ini menjadi preseden buruk bagi negara karena program sainsnya menjadi terancam dihentikan. Namun di penutup film, sang menteri, yang mana merupakan wakil pemerintah, mengajak berfoto bersama dengan Alex di tempat tidur rumah sakit. Foto itu ingin secara politis ingin menunjukkan: Bahwa Alex baik-baik saja, bahwa Ludovico Technique masih berhasil dan tidak membawa dampak yang terlalu buruk.

Sains dan Negara: Kombinasi Pengontrol Sempurna
  1. Behaviorisme
Berlawanan dengan film Psycho (1960) yang membahas tentang alam bawah sadar, A Clockwork Orange justru lebih menyoroti perilaku. Perilaku dalam hal ini berkaitan dengan apa yang tampak, bukan dorongan atau motif dari dalam. Inilah yang dalam psikologi disebut dengan behaviorisme. Behaviorisme sering disebut dengan psikologi angkatan pertama, yang ironisnya, justru paling tidak psikologis. Behaviorisme menolak konsep jiwa, atau setidaknya, menganggapnya tidak signifikan. Dengan semangat positivistik, behaviorisme melihat manusia sebagai entitas yang bisa dibentuk perilakunya. 

Apa yang mau dibicarakan tentu saja berkaitan dengan Ludovico Technique yang sepertinya menjadi tema sentral film A Clockwork Orange. Ludovico  Technique, yang diciptakan  untuk mengubah perilaku seseorang menjadi “baik”, agaknya mempunyai banyak kesamaan dengan percobaan-percobaan behavioristik yang pernah dilakukan oleh Ivan Pavlov, B. F. Skinner, Edward Lee Thorndike dan J.B. Watson. Percobaan mereka punya sumbangsih besar terutama terhadap teori belajar (learning theory). Tentang bagaimana perilaku makhluk dari yang tadinya “tidak bisa” menjadi “bisa”.

Ambil contoh percobaan Pavlov yang terkenal. Ia bereksperimen dengan seekor anjing. Anjing itu disodorkannya daging, reaksi alamiahnya tentu saja mengeluarkan air liur. Lama kelamaan daging itu disodorkan bersamaan dengan bunyi lonceng, dan masih, si anjing juga mengeluarkan air liur. Yang menarik adalah momen ketika yang tersisa adalah bunyi lonceng dan daging tidak lagi disodorkan, ternyata si anjing tetap mengeluarkan air liur! Artinya, ada mekanisme belajar di sana. Secara biologis, respon anjing terhadap stimulus daging bisa dikontrol menjadi stimulus terhadap bunyi lonceng. Ini adalah bentuk keberhasilan saintifik yang agaknya cukup inspiratif di masa itu, yakni sekitar awal abad ke-20. 

Apa yang diperagakan Pavlov tentu saja tidak sekontroversial apa yang diujicobakan oleh John B. Watson di John Hopkins University. Jika Pavlov menujukan eksperimennya pada anjing, Watson mengujikannya pada bayi berusia sembilan bulan. Bayi ini mau dijadikan percobaan, terutama disebabkan Watson menjanjikan sejumlah uang bagi orangtuanya yang agaknya memang tengah didera kesulitan finansial. Namun apa yang dialami bayi bernama Albert itu sepertinya cukup naas. Sejak “dititipkan” pada Watson, Albert menjadi fobia terhadap tikus dan benda-benda berwarna putih lainnya hingga janggut Santa Klaus sekalipun!

Awalnya Albert tidak fobia apapun. Ia disodori tikus, anjing, monyet, api, topeng, hingga kain wol, semuanya tidak menakutkan bagi Albert. Hingga akhirnya ketika Albert dibiarkan bermain dengan tikus (neutral stimulus), Watson memukul sebatang besi dengan palu (unconditioned stimulus), setiap Albert menyentuh si tikus. Kaget dengan suara keras tersebut, Albert menjadi ketakutan dan lama-lama mengasosiasikan tikus dengan bunyi keras yang menakutkan. Hingga 31 hari pasca eksperimen, fobia Albert tidak sanggup disembuhkan. Akhirnya Albert dikembalikan ke orangtuanya tanpa sanggup dinetralkan ke kondisi semula. 

Bukan behaviorisme Pavlov atau Watson yang mempunyai kedekatan dengan kondisi Alex dalam A Clockwork Orange (contoh-contoh tadi hanya merupakan jalan masuk saja), melainkan behaviorisme B.F. Skinner. Skinner adalah ilmuwan abad ke-20 yang sedemikian optimis bahwa manusia bisa dibentuk melalui teknologi. Ia menolak klaim “tradisional” bahwa manusia adalah makhluk otonom dan memiliki kehendak bebas. Kenakalan Alex di awal film di mata Skinner bukanlah bentuk kebebasan, melainkan bentukan lingkungan. Skinner beranjak dari tuntutan bahwa kita memerlukan suatu “teknologi kelakuan”. Umat manusia berhadapan dengan tantangan dan masalah yang semakin berat. Namun Skinner menyoroti bahwa yang menjadi masalah justru manusia itu sendiri. Dari situ, Skinner menarik kesimpulan bahwa kita memerlukan sebuah ”teknologi kelakuan manusia yang mempunyai kesahihan dan kepersisan yang tidak kalah dengan teknologi fisik dan fisiologis”. 

Pertanyaan berikutnya: Mengarah kemana perubahan kelakuan menurut Skinner? Artinya, harus dirumuskan apa yang baik dan buruk secara kelakuan. Skinner menjelaskan, bahwa apa yang positif atau baik, adalah apa saja yang mendukung survival of the species. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti keamanan, tata tertib, kesehatan, kekayaan atau kebijaksanaan, berkembang karena mendukung kelangsungan eksistensi manusia. Dalam pengertian lain, jika Ludovico Technique merepresentasikan maksud Skinner mengenai ”teknologi kelakuan manusia”, maka teknologi tersebut diharuskan untuk menyelamatkan sifat orang-orang semacam Alex dari ancaman ”kepunahan” eksistensial. 

Meski demikian, film A Clockwork Orange menunjukkan sekaligus juga kelemahan dari konsepsi Skinner tersebut. Franz Magnis Suseno mengritik Skinner dengan mengatakan bahwa kebebasan manusia tidak hanya didorong oleh rangsangan-rangsangan luaran, melainkan juga kerangka acuan batin, atau dari dalam. Little Albert atau Alex sekalipun bisa berubah secara perilaku yang tampak, tapi kita tidak pernah betul-betul tahu apa yang terjadi dalam jiwanya. Alex misalnya, meski perilakunya berubah, tapi ia masih menyimpan sisi kejiwaan yang purba. Terlihat dari ingatan ia akan lagu Singing in The Rain, emosinya akan lagu Beethoven, dan cara pikirnya pada tes dari seorang psikiater ketika ia tengah berbaring di rumah sakit. Ketika kita membentuk seseorang jadi sesuai keinginan kita, waspadai jangan-jangan ada jiwa yang bersembunyi dan siap meledak di kemudian hari.

  1. Negara
Tidak hanya soal sains behaviorisme, A Clockwork Orange juga menyinggung isu politik. Program pengubahan tingkah laku Alex tidak semata-mata ditujukan ”atas nama kebaikan”, melainkan demi citra negara. Pun ketika Alex mendapat celaka, pemerintah kelihatan kalang kabut membersihkan namanya. Konsep negara justru akan mengritik sains behaviorisme ala Skinner yang meyakini betul bahwa nilai-nilai seperti keamanan, tata tertib, kesehatan, kekayaan atau kebijaksanaan, berkembang karena mendukung kelangsungan eksistensi manusia. 

Skinner lupa bahwa seringkali nilai-nilai dirumuskan semata-mata untuk kekuasaan. Foucault, sejalan dengan Nietzsche, mengatakan bahwa ”Hanya yang kuasa yang berhak menentukan nilai-nilai kebenaran.” Artinya, kebaikan adalah bukan mendukung survival of the species, tapi survival of the regime atau survival of the power. Nilai-nilai kebaikan yang sepertinya an sich atau berkembang alamiah di masyarakat, nyatanya tidak ada yang alamiah. Sudah dari semula, melebihi imajinasi Skinner, masyarakat itu sendiri sudah tidak bebas karena segala-gala nilai adalah berasal dari penguasa.

Salah satu bentuk kekuasaan yang paling kejam adalah menentukan “kenormalan”. Apa yang normal dan abnormal sepertinya punya rumus, tapi jika ditelaah dalam pandangan Foucault, itu juga ditentukan. Terlihat bahwa pemerintah dalam film A Clockwork Orange, terus menerus membombardir via media bahwa Alex adalah seorang berandal. Kemudian dari berandal, negara mengubahnya menjadi seorang yang alim. Alim yang bagaimana? Ia tidak mau menyentuh wanita, tidak mau lagi memukul orang lain. Sisi gelap bahwa negara telah menciptakan semacam manusia setengah zombie karena tidak sanggup lagi berkehendak, tidak diekploitasi ke media. 

Padahal sesungguhnya yang ”jahat” adalah negara itu sendiri. Karena penguasa, maka negara menjadi bebas untuk mencitrakan dirinya sebagai yang paling berjasa: membuat yang abnormal menjadi normal. Faktanya: Pasca Ludovico Technique, Alex mengalami prahara yang lebih parah. Tidak diterima di masyarakat dan mengalami celaka. Terbukti bahwa metode Skinner tidak punya kuasa dalam mengubah perilaku manusia karena nilai-nilai orientasi perilaku itu sendiri ditentukan semena-mena oleh penguasa.

Catatan Penutup
A Clockwork Orange menampilkan dua bagian yang sedemikian kontras. Yang pertama adalah bahaya kehendak bebas manusia, ketika Alex dan kawan-kawannya bertindak anarkis. Yang kedua adalah ketika Alex tersadarkan lewat teknologi, dan menjadi bulan-bulanan politik. Sekilas, bagian pertama dari film tersebut tampak mengerikan. Alex memerkosa dan memukuli orang lain tanpa sedikitpun merasa bersalah. Namun bagian kedua, ketika Alex dibentuk, ”diperkosa” kebebasannya, diubah sedemikian rupa sesuai kehendak negara, adalah tak kalah mengerikannya. Pertanyaan pertama: Mungkinkah manusia dikontrol sempurna? Pertanyaan kedua: Jikalau manusia sukses dikontrol secara sempurna, apa yang tersisa dari kehidupan ini?

Daftar Pustaka
Previous
Next Post »

4 comments

Write comments
5 Mei 2013 10.03 delete

saya belum lama menonton film ini. bagus sekali ulasannya :)

Reply
avatar
Unknown
AUTHOR
30 September 2015 13.09 delete

ulasannnya keren banget!

Reply
avatar
adit rsd
AUTHOR
21 Agustus 2016 05.50 delete

Film mahakarya Stanley Kubrick terbaik. Terima Kasih sudah memberi ulasannya

Reply
avatar
adit rsd
AUTHOR
21 Agustus 2016 05.51 delete

Film mahakarya Stanley Kubrick terbaik. Terima Kasih sudah memberi ulasannya

Reply
avatar