Filsafat dalam Film 2001: A Space Odyssey (1968): Siklus Manusia di Hadapan Teknologi

Ditulis sebagai suplemen untuk kelas "Filsafat dalam Film" 24 Mei 2012



 


2001: A Space Odyssey (selanjutnya disebut 2001) adalah film garapan Stanley Kubrick. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa karya yang satu ini adalah yang paling hebat yang pernah disutradarainya. Sepanjang hidup, Kubrick hanya menyutradarai tiga belas film –sedikit sekali untuk ukuran sutradara dengan nama besar-. Namun jumlahnya yang sedikit tersebut agaknya menunjukkan idealismenya yang luar biasa. Banyak artis yang bekerja dengannya mengenang sang sutradara oleh sebab ketelitiannya akan detail-detail yang super mikro. Hal tersebut yang membuat setiap film menjadi total sekaligus juga –dampak “negatifnya”- sering terlalu lama proses pembuatannya. 

2001 tidak langsung disambut meriah di pemutaran perdananya. Kubrick mencatat ada ratusan orang walk-out dari teater karena bosan dan tidak paham. Memang iya, film berdurasi 141 menit itu agak susah dicerna: alurnya lambat, banyak simbol dan adegan-adegan yang agaknya kurang sinkron satu sama lain. Namun satu hal yang mesti diakui: 2001 menyuguhkan suatu teknik yang magnum opus, demikian jaya tidak hanya di masanya, tapi juga untuk ukuran hari ini. Membuat banyak orang yakin, bahwa video pendaratan di bulan Neil Armstrong tahun 1970 bisa jadi dibuat oleh Kubrick!

Meski demikian, bukan Kubrick namanya jika filmnya tidak punya muatan filosofis. Sebagai sutradara spesialis pengadaptasi novel (kecuali 2001 ini ia ambil dari cerpen karya Arthur C. Clarke berjudul The Sentinel), ia amat piawai mengembangkan cerita sehingga untuk memahaminya tidak cukup dengan membaca novelnya. Bahkan Kubrick kerapkali bermasalah dengan sang penulis karena karya tulisnya menjadi mengembang tak terkendali –meskipun ada beberapa penulis yang malah berterimakasih karena Kubrick membuat si novel menjadi laku-. Kubrick mempunyai ketertarikan khusus dengan kekerasan, absurditas, ambiguitas, dan relativitas moral. Filmnya sering mengguncang dan abnormal, tapi di titik itu para pemirsa merasakan estetika baru: Bahwa tidak selamanya yang indah itu yang menentramkan perasaan, adapun yang indah bisa jadi adalah yang sadis, irrasional, membuat perut “eneg” dan dahi mengkerut.

Alur Cerita
2001 dibagi dalam tiga bagian. Agar mudah untuk dipahami, ada juga yang membaginya menjadi empat sesuai apa yang dipilah di dalam novelnya.

  1. The Dawn of Man
Bagian pembuka sekilas memperlihatkan sekumpulan monyet. Namun agaknya ini bukan monyet, melainkan manusia purba, yang di novel disebut dengan man-ape. Mereka berkumpul di tengah gurun, mencari makan, dan menunjukkan dirinya adalah herbivora. Ketika fajar menyingsing, mereka mendapati monolith hadir di tengah gurun dekat dengan tempat mereka bermalam. Monolith yang dimaksud adalah semacam lempeng berbentuk persegi panjang tegak berwarna hitam. Ia sekonyong-konyong berdiri tegak di tengah-tengah para man-ape yang membuat mereka histeris. 

Setelah itu, salah satu man-ape tiba-tiba menemukan fungsi sebuah tulang yang diperoleh dari bangkai tapir. Tulang itu membuat man-ape sanggup membunuh dan akhirnya mereka terlihat memakan daging -semacam evolusi dari herbivora menjadi karnivora-. Tidak hanya itu, man-ape juga kemudian bisa mengalahkan kelompok man-ape yang lain dengan tulang tersebut. Pada sebuah adegan kemenangan ketika kelompok satu mengalahkan kelompok yang lain, salah satu man-ape melemparkan tulangnya ke udara, yang langsung berubah adegan menjadi jutaan tahun ke depan, berkisah tentang pesawat ruang angkasa.

Man-ape tercengang mendapati monolith di waktu fajar.






  1. TMA-1
Bagian ini sudah masuk ke sesi futuristik. Kubrick menampilkan banyak adegan yang memukau dengan latar musik On A Beautiful Blue Danube karya Johann Strauss. TMA-1 adalah tentang Dr. Heywood Floyd (diperankan oleh Wiliam Sylvester) yang singgah di stasiun luar angkasa sebelum menuju bulan, tepatnya ke semacam markas bernama Clavius. Floyd ke tempat tersebut dalam rangka menindaklanjuti sebuah penemuan atas benda asing yakni monolith.

Pada bagian ini, Kubrick menunjukkan beberapa adegan canggih seperti teknologi touch screen, pelayan stasiun luar angkasa yang berjalan berputar nyaris 360 derajat, serta bagian-bagian pesawat yang serba otomatis. TMA-1 ditutup dengan adegan dimana para astronot yang datang menghampiri monolith di basis Clavius, mendapati bahwa benda asing itu mengeluarkan bunyi mendengik yang memekakkan telinga. 


Akrobat efek visual yang cukup terkenal di 2001.











  1. Jupiter Mission
Bagian ini diceritakan delapan belas bulan pasca TMA-1 atau kejadian penemuan monolith di Clavius. Jupiter Mission mengisahkan tentang pesawat luar angkasa Discovery One yang tengah menjalankan misi menuju planet Yupiter. Discovery One berawak lima orang yakni mission commander Dr. David Bowman (Kerr Dulea) dan asistennya Dr. Frank Poole (Gary Lockwood) serta tiga orang saintis yang diterbangkan dalam keadaan dihibernasi (semacam dibuat tidur dengan kondisi istirahat yang lebih “dalam” daripada tidur biasa: slowing of life processes by external means without termination).



Yang menarik dari bagian ini tentu saja keberadaan “awak keenam” yaitu komputer super canggih bernama HAL 9000 atau biasa dipanggil HAL. HAL menjalankan seluruh sistem operasi Discovery One secara terpusat. Tidak hanya itu, ia juga bisa bicara dengan lancar, plus dengan sopan santun dan emosi tertentu. Kecerdasan HAL ini akhirnya malah membawa kebingungan. HAL memberitakan bahwa antena pesawat mengalami gangguan, yang bagi Bowman dan Frank justru terasa baik-baik saja. Namun HAL terus menerus meyakinkan bahwa dirinya tidak mungkin melakukan kesalahan dalam mengalkulasikan system error. Ketegangan antara HAL dan para awak ini berbuntut panjang, HAL menjadi penyebab kematian Frank dan tiga awak yang sedang dihibernasi. Kekacauan ini membuat Bowman frustasi dan akhirnya menuju ruang memori HAL untuk membunuh sang komputer dengan obeng saja. HAL mati perlahan dan mencekam sambil menyanyikan lagu “Daisy Bell” karya Harry Dacre. 

Kematian dramatis HAL oleh Bowman



 

  1. Jupiter and Beyond the Infinite
Bagian Jupiter and Beyond the Infinite bisa menjadi bagian yang paling banyak dipertanyakan. Adegan dimulai dengan sekuens terkenal bernama stargate sequence, yaitu ketika Bowman dengan pesawat kecilnya (EVA Pod) memasuki semacam “lorong penuh warna”, membawanya pada suatu pengalaman psikedelia dengan kecepatan tinggi. Perjalanan Bowman membawanya ke suatu tempat, tepatnya di dalam rumah dengan latar sekitar era Barok –seperti dalam salah satu film Kubrick yakni Barry Lyndon-. Bowman memandangi orang tua yang tengah makan malam, yang tak lain bahwa orang tua tersebut adalah dirinya sendiri. Lalu orang tua itu memandangi seseorang di tempat tidur yang tengah tergolek sekarat (agaknya mereka sedang saling memandang satu sama lain, padahal orangnya sama yakni Bowman). Orang tua yang sekarat itu menunjuk objek di depan ranjangnya, yaitu monolith. Adegan berpindah, kembali ke luar angkasa, memperlihatkan janin melayang-layang di udara dengan mata terbuka, memandangi bumi dari kejauhan. 

Janin di bagian akhir film 2001.





2001: Hendak Membicarakan Apa?
Agak terlalu naif jika menganggap 2001 hanya ingin memamerkan efek-efek canggih, meskipun harus diakui memang hal tersebut menjadi salah satu daya tarik terbesarnya. Jika memang 2001 ingin pamer, mengapa harus ada bagian The Dawn of Man? Apa fungsinya menampilkan sekumpulan man-ape dari jutaan tahun lalu sebagai sebuah pembuka film futuristik? Lalu apa arti keberadaan monolith, janin, serta latar Barok? Pertanyaan semacam itu agaknya lumrah bagi siapapun yang menyaksikan 2001. Atas dasar itu pula tafsir tentangnya tidak habis-habis. Di internet sendiri cukup banyak orang yang berusaha mencari makna di baliknya, mulai dengan analisis mendetail ala Rob Ager hingga mengait-ngaitkan dengan simbol mitologi Mesir ala Bill Cooper. Meski demikian, ada jalan masuk yang membuat tafsir terhadap 2001 itu serba sah dan kerap dinamis, yaitu afirmasi kebebasan dari sang sutradara itu sendiri: 

“You're free to speculate as you wish about the philosophical and allegorical meaning of the film—and such speculation is one indication that it has succeeded in gripping the audience at a deep level—but I don't want to spell out a verbal road map for 2001 that every viewer will feel obligated to pursue or else fear he's missed the point”
Stanley Kubrick dalam wawancaranya dengan majalah Playboy tahun 1968

  1. Alat sebagai Permulaan Manusia
The Dawn of Man dapat menjadi kunci keseluruhan film justru oleh pertanyaan terbesarnya: Mengapa bagian tersebut mesti ada? Namun ternyata ada hal esensial yang menopang seluruh dominasi adegan luar angkasa yang dibangun dari bagian tersebut, yaitu kenyataan bahwa pada akhirnya manusia menggantungkan dirinya pada alat. Alat yang diciptakan sendiri oleh manusia, namun pada akhirnya menyusahkan manusia itu sendiri.

Tema semacam itu bukanlah hal yang baru, namun Kubrick dengan tajam menariknya ke era prasejarah, jutaan tahun lalu, untuk melihat keberasalan rasa tergantung manusia pada alat. Penemuan man-ape pada tulang telah merubah orientasinya dari herbivora jadi karnivora. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa alat diciptakan manusia, tapi manusia juga kemudian diciptakan oleh alat. Sesuatu yang disebut oleh Neil Postman sebagai “hubungan Faustian”, bahwa seketika manusia menciptakan teknologi, pada saat itu juga manusia menjual jiwanya pada teknologi.
Kecenderungan itu bukan saja tercermin dari perubahan orientasi herbivora ke karnivora, namun cara berjalan man-ape itu sendiri. Jika dicermati secara detail, man-ape tersebut mengalami perubahan struktur tubuh dari tadinya berjalan dengan empat kaki menjadi dua kaki! Ini merupakan efek paling mendasar bagaimana alat merubah manusia. Selain itu, Postman menambahkan bahwa teknologi kerapkali membawa kemaslahatan namun di waktu yang sama juga kemudharatan. Man-ape dapat meraih makan dengan mudah karena tulang tersebut, namun di waktu yang sama juga dapat membunuh sebangsanya. Jika direnungkan, tidakkah kita semua bisa membunuh lebih mudah hanya dengan alat? 

Ditinjau secara evolutif, setelah spesies Australopithecus sekitar tiga juta tahun silam, manusia berkembang menjadi Homo habilis atau “manusia bertangan” pada dua juta tahun silam. Inilah manusia yang menggunakan peralatan awal. Setelah itu baru muncul Homo Erectus atau manusia yang berdiri tegak. Evolusi itu digambarkan secara singkat dalam bagian The Dawn of Man: Austrolopithecus, Homo Habilis dan kemudian menjadi Homo Erectus. Nama terakhir itu disebut oleh George Boeree sebagai “yang paling dekat dengan manusia”.

Dalam bagian-bagian yang menyinggung perihal luar angkasa, keberadaan alat ini menjadi lebih canggih, orang menyebutnya dengan teknologi meskipun tidak ada perubahan pada esensinya: Membantu sekaligus membatasi, menolong sekaligus membunuh sesama. Hal tersebut tentu saja ditunjukkan via keberadaan HAL 9000. Ia adalah komputer super canggih, semacam simbolisasi dari alat termutakhir yang bisa diciptakan oleh manusia. HAL tidak cuma mampu berkata dan berpikir, tapi juga merasa. Keberadaan HAL yang awalnya sentral misi ke Jupiter, justru menjadi malapetaka itu sendiri. Seperti katanya: “This mission is too important for me to allow you to jeopardize it.”

Alat menjadi tema besar dalam film 2001. Menunjukkan bahwa ia adalah permulaan manusia, namun juga akhir dari manusia.

  1. Tiga Metamorfosis Roh
“Aku namai engkau tiga metamorfosis roh: bagaimana roh akan menjadi seekor unta, dan si unta menjadi seekor singa, dan si singa akhirnya menjadi sesosok anak.” – Friedrich Nietzsche dalam Zarathustra

Ada kemungkinan besar film 2001 mempunyai kaitan erat dengan filsafat Nietzsche terutama yang terkandung dalam bukunya yaitu Zarathustra. Asumsi ini sebenarnya sederhana saja, karena Kubrick menggunakan music score berjudul Also Sprach Zarathustra dari Richard Strauss. Musik itu sendiri cukup nyata mengambil inspirasi dari buku Nietzsche oleh sebab nama-nama bagian musiknya diambil dari bab-bab buku tersebut. 

Kalimat yang dikutip di atas rasanya bisa menjelaskan mengapa di akhir film muncul fetus alias janin. Keseluruhan film ini rasanya bisa dianggap merepresentasikan metamorfosis roh Nietzschean.
-          Tahap unta: Tahap unta adalah tahap dimana roh mendapati dirinya menanggung beban. Ia menerima apa saja yang hidup berikan bagi ia. Kata Nietzsche: “Ataukah hal itu: menggantungkan makan pada biji eik dan rumput pengetahuan dan demi kebenaran, menderita laparnya jiwa?” Hal itu yang dialami man-ape di permulaan film. Ketika nasib seorang herbivora adalah menanti apa yang alam berikan padanya. Bahkan ketika Leopard menyerang, apa yang bisa dilakukannya hanyalah bersembunyi dan berharap nasib buruk tidak menimpanya kembali.
-          Tahap singa: “Tetapi di gurun yang paling sunyi terjadi metamorfosis yang kedua: roh menjadi singa, ia ingin merdeka dan menjadi tuan dari gurunnya sendiri,” kata Nietzsche. Singa ini berkehendak sendiri, melawan norma-norma dan bahkan bercita-cita menjadi penguasa, yang maka itu juga bisa menentukan nasib orang lain. Inilah apa yang dilakukan di sebagian besar cerita 2001. Setelah menemukan tulang, man-ape menjadi berkuasa, bisa menentukan makanannya, bisa membunuh kawanan yang lain dan merumuskan norma. Pun demikian dengan manusia futuristik ketika mereka sanggup menjelajah tanpa batas ke ruang-ruang terjauh di angkasa. Sebuah kehendak untuk berkuasa.
-          Tahap anak: “Si anak lugu dan pelupa, satu awal batu, suatu olahraga, sebuah roda yang berputar sendiri, satu gerak pertama, satu Ya Suci,” kata Nietzsche. Inilah yang mau dijadikan akhiran bagi 2001 lewat gambaran fetus yang tengah melihat bumi. Fetus ini adalah anak yang akan memulai gerak pertama kembali.

Mengapa si anak menjadi konklusi? Karena agaknya singa kembali menjadi unta. Dalam arti, manusia yang tadinya melepaskan dirinya dari ketergantungan terhadap alam, ternyata menjadi tergantung pada teknologi. Ia kembali menjadi “binatang penanggung beban”, terbukti dari bagaimana awak Discovery One dikendalikan oleh HAL, yang tidak lain daripada “norma yang diciptakan oleh manusia itu sendiri”. Maka Kubrick mengajak manusia untuk menjalani tahap akhir metamorfosisnya, yaitu menjadi anak, menjadi awal bagi segala sesuatu. 

Catatan Penutup
Analisis di atas bukan berarti menyelesaikan seluruh tafsir yang mungkin terhadap 2001. Masih banyak, masih terbuka kemungkinan untuk digali lebih jauh. Ini belum termasuk jawaban atas keberadaan monolith. Meskipun iya, bahwa monolith adalah sebentuk produk ekstraterestial (seperti yang diungkap The Sentinel maupun dalam novel), namun jawaban semacam itu rasanya tidak terlalu memuaskan semua orang. Jika film tersebut bukan hanya ingin pamer pengetahuan science fiction melainkan juga menginginkan sebuah kandungan filosofis, maka mestinya monolith bisa juga ditafsir secara filosofis. Misalnya, ada tafsir yang menyebutkan –dan saya setujui itu berdasarkan pengalaman pribadi- bahwa dalam film 2001 ada dua kali blackout (layar dibiarkan gelap) selama tiga menitan dan itu menunjukkan bahwa kita tengah melihat pada monolith itu sendiri. Saya baru merasakan sendiri ketika menyaksikan film 2001 di televisi flat. Ketika gambar menjadi blackout, maka terasa sekali bahwa saya sedang menyaksikan sebuah monolith dalam bentuk persegi panjang, hitam, datar, dan tipis yang sempurna! Hal itu bisa menjadi semacam parodi ala Kubrick, bisa juga secara filosofis diartikan bahwa kita, manusia, memang kerapkali menjadi takjub pada segala sesuatu yang baru. Padahal yang baru itu bisa saja dikelilingi mitos. 

Belum lagi jawaban atas stargate sequence yang sedemikian aneh –yang saya tafsir sebagai sesuatu yang tidak lepas dari pengaruh era psikedelik kala itu- plus bagian ketika Bowman bertemu dengan dirinya yang lebih tua di ruangan berinterior Barok masih memerlukan analisis yang juga tajam. Bahkan rasanya kata “analisis” tidak terlalu tepat untuk memahami 2001. Lebih baik dan lebih absah jika kita menafsirkan film tersebut secara konstruktif saja, mengaitkan dengan apa yang relevan untuk hari ini. Tentu saja ini juga menjadi kritik tersendiri bagi para analis di internet seperti Bill Cooper yang terlampau melakukan mistifikasi dengan cara mengaitkan 2001 dengan mitologi Mesir. Pun Rob Ager, ia beberapa kali memberikan sumbangsih konstruktif, namun selebihnya ia berkutat di detail yang agaknya tidak esensial, seperti misalnya nama HAL itu adalah huruf-huruf sebelum IBM, nama yang mengacu pada perusahaan Amerika Serikat yang dicurigai punya andil mendanai 2001. Karena –lagi-lagi- Rob Ager menemukan bahwa di pakaian astronot milik Dr. Frank Poole terdapat tulisan IBM!

Akhir kata, ini barangkali film yang sedemikian kaya sehingga siapapun bisa menafsirnya secara bebas. Yang menjadi ukuran barangkali adalah sebagaimana relevan tafsirnya tersebut dengan isu-isu kemanusiaan hari ini. Alat, teknologi, ketergantungan, dan “kegatalan” untuk memulai kembali nilai-nilai yang baru, bukankah sedang hangat-hangatnya dihembuskan belakangan?


Daftar Pustaka
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Unknown
AUTHOR
25 Oktober 2016 08.52 delete

Saya benar benar tidak mrngerti film ini

Reply
avatar
Ady Wijaya
AUTHOR
29 Juli 2017 01.23 delete

Ini adalah review film 2001 paling jelas menurut saya, terima kasih banyak

Reply
avatar