2001: A Space Odyssey (1968): Mari Merenungkan Teknologi

Kamis, 24 Mei 2012


Stanley Kubrick adalah seorang sutrada film yang tidak pada umumnya seperti mencekok penonton dengan film yang gampang dicerna atau hanya sebagai penghibur belaka. Filmnya sering membuat nganga penonton karena saking membosankannya, gak jelas, lambat, kurang lucu, tak ada banyak kekereasan. Cerdas namun tak sedikit juga yang berkata bahwa dia absurd, mungkin seabsurd film-filmnya. Justru pada tahap itulah bila mau bersabar dan memberi waktu untuk menafsir ulang: ternyata filmnya menyehatkan, walau tidak seperti junk food tapi haruslah dipaksakan memang! Bahwa tidak selamanya film bagus itu menentramkan perasaan, mengharukan/ceria, tapi barangkali yang kejam, ngeri, tidak masuk akal atau tidak bisa dipahami sama sekali bisa jadi itulah keindahan estetika  baru.

Film 2001: A Space Odyssey (selanjutnya disebut Space Odyssey) adalah salah satunya. Film yang intinya sekitar 15 menit. Bercerita tentang sekumpulan man-ape (manusia purba) pada empat juta tahun lalu yang menemukan tulang sebagai ‘alat’ untuk membunuh tapir agar menjadi karnivora dan menakuti kelompok Man-Ape lainnya karena selalu berrebut sumber air. Pendek sekali ya… tapi itu adalah pendapat dari bang Tobing saat diskusi. Space Odyssey tentu saja panjang, membosankan, adalah film tentang ‘ruang angkasa (?)’ gerak lambat, sedikit ngobrol –total hanya sekitar 20 menit− dan kurang action bagi yang pertama kali nonton atau belum terbiasa menganalisa film.

Awal film dibuka dengan 3 menit warna hitam, disambung 15 menit penemuan teknologi pada eranya, dan sisanya sangatlah jauh jauh jauh jauh dari pembuka. Langsung berganti setting luar angkasa abad 21 dengan segala kecanggihan sistem futuristik −Perlu diingat Space Odyssey adalah film tahun 1968 dimana tidak sama sekali menggambarkan zaman tersebut, bahkan yang konon menggembar-gemborkan orang pertama mendarat di bulan pun baru 1970 tiba disana, beda dua tahun dari ide-ide pak Kubrick setelah rilis−. Awal, tengah dan akhir sekilas memang tak ada kesinambungan. Coba bayangkan bagian awal tadi, disambung bagian tengah bercerita di stasiun luar angkasa, misi jupiter serta adanya teknologi komputer super duper canggih (bisa bicara, bermain catur, berperasaan, serba tahu dan ramah seperti manusia) yang dinamai HAL 9000, kemudian diakhiri dengan setting dalam rumah barok tergeletak seorang laki-laki tua diatas kasur yang sekejap berubah menjadi bayi dan segera berganti plot bayi tersebut diluar angkasa memandangi bumi. Dan selesai.

Bagaimana…?? Cukup absurd bukan?
Ditambah dalam durasi film 141 menit muncul dengan jelas 4 kali sebuah ‘Monolith’, yakni sebuah batu hitam berbentuk balok pipih rapih seperti tembok namun berukuran sekitar dua kali setengah meter.

The Dawn of Man, penemuan teknologi, pengaruh teknologi. Maka bisa diterima pendapat bang Tobing tadi bahwa awal adalah intinya, dan sisanya hanya pengulangan. Selebihnya berhubungan tapi hanya (mungkin) sebagai penjelas dan pengurai atau jangan-jangan Kubrick memang menjadikan pemanis/ajang pamer teknologi saja, yang jelas teknologinya lebih dulu dari film superman dan star wars. 

Dikarenakan film yang cukup panjang maka saat menonton sempat ada jeda, dan pada sela-sela tersebut Syarif membahas beberapa bagian yang mana salah satunya adalah pada saat Kubrick mendemonstrasikan perangkat-perangkat pada filmnya yang canggih seperti sesuatu yang serba otomatis dan instan, penggunaan layar touch screen selalu saja sambil diiringi lagu The Blue Danube karya

Johann Strauss. Kemudian ditanggapi Rahar, menerutnya mengapa harus lagu tersebut dan hubungannya karena menurut beberapa sumber seluruh peradaban eropa pertama kali adalah berasal dari sungai Danube, menandakan bahwa seolah-olah ingin meluhurkan atau menjaga citra budaya eropa.

Setelah film selesai ditonton akhirnya forum makin bersemangat untuk saling mengungkapkan apa yang telah didapatnya. Seperti pak Bambang Sapto melihat monolith tersebut adalah sebagaimana manusia yang harus tegak menghadapi hidup. kemudian masih dibahas tentang monolith bahwa yang diawal sekali layar berwarna hitam itu adalah bahwa seolah-olah penonton sedang melihat monolith sebagaimana man-ape atau para Astronot yang melihat benda aneh tersebut dalam film. Banyak sekali tafsiran, ada yang menganggap itu batu pemberian dari alien agar peradaban di bumi semakin maju, ada yang menganggap itu adalah horus, yang jelas ingat pesan Kubrick tadi. Tapi sangat dianjurkan barangkali analisis yang cerdas, mendalam, segar, dan saling berketertarikan antar bagian tidak saja hanya berkomentar yang malah mempersempit intrepetasi.

Syarif memang menghubungkan Space Odyssey dengan suatu tema kecil yakni ‘Siklus Manusia di Hadapan Teknologi’. Sangat dimungkinkan monolith tersebut adalah sebagai penanda zaman, penanda dimana setiap kemajuan peradaban selalu diyakini maju, tidak pernah mundur. Batu hitam sebagai penanda bahwa teknologi sudah bisa di’agung’kan seperti sampai hari ini, misal televisi LED, smartphone, komputer. Memang tiada yang dikendalikan teknologi, tapi jadi ironi ketika ada orang yang sangat bergantung pada teknologi, ia seolah-olah menjadi bagian dari teknologi itu.

Dalam film tersebut ada dua teknologi yang semakin. Pertama yakni HAL, ia bisa berbicara apapun karena memori yang sangat hebat namun akhirnya ia mati karena telah membunuh astronot sesuai keinginannya –mungkin ia pikir manusia lebih bodoh dan tidak berguna karena pada film tersebut ia sangat mudah mengelabuhi−. Teknologi selanjutnya adalah Tulang yang dipake memukul. Disini banyak sekali pertanyaan yang timbul. Kenapa man-ape memakai tulang untuk sebuah alat, padahal kan sebelumnya ada batu yang banyak tersedia, atau mungkin ia menggunakan anggota tubuhnya menjadi sebuah alat. 

Teknologi memang selalu disudutkan, selalu dipersalahkan pada titik tertentu dan tidak bisa kita menghindarinya. Padahal suatu teknologi tersebut adalah ciptaan manusia dan tinggal para penggunanya saja. Teknologi itu netral. Tapi itu juga bisa begitu saja disimpulkan, teknologi bisa mempengaruhi kejiwaan seseorang, teknologi mengobjekan manusia, manusia patuh pada benda-benda.

Lantas apa arti bayi di akhir film tersebut? Itu diawali karena salah satu musik pengiring film berjudul Also Sprach Zarathustra –judul buku Nietzsche− karya Richard Strauss menjadi bagian yang diidentikkan seperti genderang momen perubahan. Mungkin maksud Kubrcik memasukkan lagu tersebut dalam Space Odyssey adalah menghubungkan dengan bait-bait Zarathustra seperti yang dibacakan syarif. Intinya lagu tersebut bisa merepresentasikan metamotfosis roh Nietzschenian. Unta, Singa, Bayi.

Unta adalah tahap dimana keadaan yang selalu menanggung dan pasrah, contohnya man-ape yang hebivora dan takut ketika leopard menyerang. Singa mempunyai kehendak sendiri, kebebasan berkehendak, contonya pada man-ape ketika menemukan tulang ia bersedia menentukan makanannya, membunuh lawannya, sebagaimana manusia yang terus menciptakan teknologi dari yang dibutuhkan hingga tidak dibutuhkan sama sekali. Anak adalah keadaan permulaan dimana semua berawal. Bagaimana hubungan anak yang menjadi penutup, itu dikarenakan baik man-ape empat juta tahun yang lalu maupun manusia saat ini ketika mendapat kebebasan dari alam menjadi unta kembali karena masih belum membebaskan diri akan ketargantungannya dengan teknologi.

"You're free to speculate as you wish about the philosophical and allegorical meaning of the film—and such speculation is one indication that it has succeeded in gripping the audience at a deep level—but I don't want to spell out a verbal road map for 2001 that every viewer will feel obligated to pursue or else fear he's missed the point."
Interview Stanley Kubrick dengan majalah Playboy (1968)

Benny Apriariska 
Previous
Next Post »