Talk Show: Gairah Komik dan Komikus Indonesia


 Tanggal 21 April 2012, mulai pukul 16.00 di Garasi 10 sedang berlangsung Talk Show yang mengangkat tema “Asli, Pameran Komik”. Talk Show ini merupakan serangkaian kegiatan Pameran Komik yang diselenggarakan tanggal 20-22 April 2012. Komik yang dipamerkan merupakan naskah asli dari para komikus Indonesia. Untuk itulah pameran ini bertajuk “Asli, Pameran Komik!” Diantara naskah-naskah asli yang dipajang kali ini meliputi karya Har, Aris, Teguh Santosa, Usyah, Ruhiyat, dan Henky. Komik merupakan cerita bergambar yang naratif dan imajinatif. Di Indonesia, komik pertama diterbitkan oleh harian Sin Po pada tahun 1930an. Namun demikian, komik karya Kosasih-lah yang disebut sebagai penanda pertumbuhan komik Indonesia, pada tahun 1954.

Pembicara yang dihadirkan antara lain Toni Masdiono (pengamat komik) dan Kiki Dikdik Ruyama (kolektor naskah-naskah asli komik Indonesia dan penulis cerita komik), serta pembicara kejutan yang hadir bukan karena diundang secara resmi, melainkan karena kecintaannya akan dunia komik, yaitu Usyah-komikus senior Indonesia.


Sebelum Talk Show dimulai, Usyah diminta untuk memberikan sambutan. Dalam sambutanya, ia mengingatkan kembali bagi para komikus muda Indonesia untuk tetap cinta dan menggeluti komik. Jepang yang memiliki budaya khas dalam membuat komik (Manga) sangatlah memuji dan menggemari komik-komik buatan Indonesia. Ironisnya, justru orang Indonesia tidak terlalu menghargai komik buatan anak bangsa. Saat ini komik sudah tidak memiliki arti sempit sebagai hiburan saja, melainkan mampu digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah-sekolah. Di akhir sambutannya ia memberi semangat bagi para komikus Indonesia untuk tetap dan terus berkarya.

Toni Masdiono mengawali pembicaraannya melalui pemikiran sederhana lewat presentasi yang berjudul Lokalitas Komik adalah Lokalitas Masyarakat. Lokalitas sebuah komik tidak dilihat dari gambarnya, melainkan dari kesamaan atau kemiripan ‘semangat’nya. Maka, pada tiap negara tentu saja memiliki ‘isu’ atau ‘semangat’ yang berbeda dan khas. Komik Amerika misalnya, semangat tentara sekutu yang menang dalam Perang Dunia II dalam membebaskan negara-negara Eropa dari Jerman, Asia dari pendudukan Jepang, dan belakangan membebaskan negara-negara Timur Tengah dari penguasa-penguasa tirani dan 'teroris'. Hal-hal tersebut mampu menumbuhkan satu 'semanagat' yang sama sebagai negara 'pembela yang lemah'. Hasilnya adalah komik Superhero gaya Amerika (Marvel, dan sebagainya).

Berbeda dengan Komik Eropa, masyarakat Eropa yang mapan dan memiliki kesenangan membayangkan berbagai petualangan ke negeri-negeri eksotis. Eropa merasa memiliki bank data yang informatif dengan adanya perpustakaan yang komplit. Mereka bahkan tidak merasa perlu berkunjung ke daerah tertentu untuk dijadikan latar belakang cerita gaya Eropa. Sebagai contoh, komik Tintin dalam cerita petualang ke Afrika, sang penulis bisa mengimajikasikan Afrika berdasarkan informasi dari bank data yang dimilikinya. Penulis merasa tidak perlu mendatangi Afrika secara langsung. Komik-komik khas Eropa mengimajinasikan fanatisme petualangan dan fantasi.

Untuk Komik Hongkong, semangat kungfu sangat kental dalam ceita-cerita komiknya. Hal ini dipengaruhi oleh legenda-legenda besar seperti “Kisah Tiga Menara” ataupun legenda lama seperti “Perjalanan ke Barat”. Dua legenda tersebut tidak pernah berhenti diangkat dalam seting cerita komiknya. Komik Hongkong berhasil mengangkat hal-hal tersebut secara terus-menerus, bahkan hingga saat ini masih digemari atau mendapat tempat di hati pembacanya.

Beralih ke Komik Korea yang ternyata memiliki semangat yang unik. Pada dasarnya komik Korea sangat berkiblat kepada komik Jepang (Manga), hanya saja cerita yang diangkat biasanya legenda-legenda mereka sendiri, ataupun gaya percintaan ‘khas’ Korea. Dari sisi teknik sangat berkiblat pada gaya Manga. Komikus Korea menyebut penggunaan teknik Manga sebaga 'gaya industri', sedangkan gaya asli dari Korea sebenarnya mereka belum punya ciri-ciri yang khas. Sekedar catatan, Korea adalah negara yang anti Jepang, sekaligus berkiblat pada Jepang dalam hal penggarapan Komik.

Komik Jepang memiliki latar belakang semangat tidak mau kalah dalam persaingan, yaitu semangat Samurai! Secara historis, Jepang kalah perang dari Sekutu pada Perang Dunia II. Hal tersebut berperan dalam mendorong semangat 'balas dendamnya' dengan menciptakan tokoh-tokoh robot super raksasa. Secara kultur Jepang memiliki semangat lain yang juga berperan dalam penciptaan komik, yaitu semangat bangkit dari rasa inferioritas, rendah diri, dan tertekan. Dalam bentuk roman remaja, cerita komik Jepang memiliki stereotip bahwa pemuda Jepang minder jika bertemu dengan perempuan populer.

Komik terakhir adalah Komik Indonesia. Indonesia merupakan negeri dengan ragam budaya yang multikultur. Di satu sisi menjadi kekayaan cerita dan imajinasi, di sisi yang lain menjadi sulit untuk sepakat dengan satu hal saja. Pada tiap tempat atau daerah tentu akan mempunyai semangat yang berbeda. Akibatnya semua orang berusaha mencari 'gaya' komiknya sendiri-sendiri dan sering merasa hanya komiknya yang paling pas untuk seluruh Indonesia. Variasi genre komik Indonesia maulai dari fiksi ilmiah, wayang, roman, silat, hingga superhero. Mas Toni mengakhiri presentasinya dengan mengingatkan pada kita kembali, agar keberagaman Indonesia bukan menjadi pangkal perbedaan, melainkan kekayaan yang tidak perlu dipaksakan menjadi satu. Bukankan perbedaan itu utuh dan indah!

Setelah mendengar paparan dari para presenter, selanjutnya dibuka sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama mewacanakan peran teknologi digital yang justru mematikan gairah komikus manual. Usyah menanggapai hal tersebut bukan lantaran hadirnya teknologi saja, melainkan daya bertutur dan daya imajinatif komikus Indonesia tidaklah otentik. Artinya antar komikus satu dengan lainnya tidak memiliki pembeda yang kuat dan khas (otentik). Usyah mengingatkan kembali bahwa komik adalah kombinasi antara cerita dan gambar, dua kekuatan itulah yang dimiliki oleh komik. Teknologi memang mempermudah dan memperdetail gambar, tapi sekali lagi jangan menyepelekan alur cerita.

Hadirnya teknologi dalam dunia komik ternyata menjadi dilema bagi para komikus. Naskah komik yang dibuat berbasis teknologi tidak memiliki nilai jual lebih. Berbeda dengan naskah komik yang dibuat secara manual, Art Work-nya memiliki nilai ekonomi yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena tiap goresan dalam gambar komik memiliki emosi yang mendalam dari komikusnya.

Selanjutnya Ursya memaparkan pola kerja kreatifnya dalam membuat komik. Hal yang paling penting dalam membuat komik adalah membuat kerangka besarnya. Bagian awal dan akhir merupakan plot yang harus diperhatikan secara lebih, sedangkan bagian pertengahan bisa dikembangkan secara improvisatif, namun tetap harus memperhatikan alur ceritanya.

Diskusi semakin menarik ketika peserta Talk Show mempertanyakan tentang meredupnya komik-komik buatan Indonesia. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, salah satunya dari pihak publisher-publisher raksasa yang lebih tertarik menerbitkan komik-komik import dari pada komik Indonesia. Maka pilihan yang paling realistis adalah mengajukan naskah-naskah komik pada penerbit-penerbit kecil. Namun menurut Kiki, banyak penerbit-penerbit kecil yang telah membeli naskah-naskah asli dari para komikus tapi tidak segera dicetak dan dipublish ke khalayak luas, bahkan diendapkan saja tanpa dipublish. Pilihan terakhir adalah self-publishing!
Semoga rangkaian Pameran Komik kali ini mampu menjadi membakar semangat para komikus Indonesia untuk tidak kendur dan luntur dalam berkarya. 
Previous
Next Post »