Lukisan Cadas Purba: Adakah Masa Depan bagi Masa Lalu?

Minggu, 8 April 2012

Garasi 10 kedatangan pembicara lagi. Setelah Prof. Tjetjep Rohendi dan Prof. Cece Sobarna mengurai tentang orang Sunda hari ini di 17 Maret lalu, kali ini Dr. Pindi Setiawan membahas tentang lukisan cadas purba. 

Dugaan awalnya, apa yang mau disampaikan oleh Pindi ini adalah mengenai disertasinya (Pindi baru saja meraih gelar doktornya dari ITB belum lama ini). Namun ternyata keliru, justru ini adalah penelitiannya sejak lama yang kemudian dijadikan disertasi. Jadi memang sudah sedari dulu Pindi aktif di Wanadri dan memerhatikan lukisan cadas purba. Sampai akhirnya pada tahun 1995, ia diajak lebih fokus meneliti bersama dua orang Prancis bernama Jean Michel Chazine dan Luc Henri Fage. Apa yang dilakukan ketiganya adalah mencari gua-gua bergambar yang hilang dari pegunungan karst Sangkulirang.

Kata Pindi, apa yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang mudah, karena gua-gua bergambar ini tadinya belum ada yang mengeksplorasi. Jadinya memang tugas pertamanya adalah menemukan gambar demi gambar sebelum akhirnya diteliti. Hasil penelitiannya sendiri cukup menarik. Katanya, "Gambar cadas bukanlah suatu perupaan yang dibuat asal indah, namun dibuat dengan maksud dan aturan tertentu." Apa yang digambar biasanya berkaitan dengan informasi tentang pedoman dan kejadian. Selain itu, yang meyakinkan Pindi, adalah kenyataan bahwa gambar dibuat penuh perhitungan, "Pada gambar cadas, cacat batu itu sendiri bisa dijadikan bagian dari gambar."

Tangan negatif. Salah satu gambar yang cukup sering muncul dalam lukisan cadas purba yang diteliti Pindi. 
Gambar diambil dari sini.

Sebetulnya penelitian Pindi ini lebih mengarah pada komunikasi. Menurutnya, dalam lukisan cadas purba, ada empat unsur komunikasi, yaitu peristiwa, penggambar, artefak komunikasi, dan pemirsa. Apa yang jadi titik berat pembahasan Pindi adalah penggambarnya. Apa yang kira-kira ada di benaknya ketika melukiskan itu semua. Karena menarik, ada lukisan-lukisan tertentu yang sepertinya dibuat seserius mungkin, namun ditempatkan di tempat-tempat yang agak sulit dilihat. Pindi mencoba melihatnya dari kecenderungan masyarakat di Nusantara pada masa itu, dimana yang sebelah Barat, dengan latar belakang berburu dan Timur dengan latar belakang perladangan dan nelayan, ternyata menghasilkan ekspresi lukisan yang berbeda. Lanjut lagi, cara manusia prasejarah menggambar lukisan cadas betul-betul berbeda dengan "kesadaran teks" yang sering kita temui sehari-hari dimana ada kesadaran atas-bawah-kiri-kanan. Lukisan cadas dibuat seolah "luar angkasa".

Setelah pemaparan yang kurang lebih satu jam, muncul banyak pertanyaan dari para peserta yang cukup memadati Garasi 10. Meskipun demikian, yang menjadi penekanan dari pemaparan Pindi -yang dijelaskan berkali-kali pada para peserta- adalah metode menggambar lukisan cadas ini yang diterapkan pada mahasiswa anak didiknya. "Mahasiswa saya harus bisa menggambar tanpa kesadaran teks. Ketika mereka bisa menggambar seperti lukisan cadas yang 'luar angkasa', maka harapan saya mereka menjadi lebih lengkap, lebih integral." Selain itu, soal prospek ke depan pemeliharaan lukisan cadas ini, Pindi sendiri mengatakan masih adanya sejumlah persoalan, "Biasanya pemerintah, bahkan peneliti sendiri, bukannya menjadi pelestari, melainkan malah jadi sumber pengrusakannya."
Previous
Next Post »