Kelas Cabang-Cabang Filsafat: Menghayati Paradoks Manusia

Kamis, 29 Maret 2012 

Sebaris puisi karya Ajip Rosidi berjudul Rindu meluncur dari Pak Bambang Sapto di penghujung kelas. Katanya, topik mengenai filsafat manusia yang diangkat Kamis kemarin mengingatkannya pada puisi tersebut. Dosen STSI berusia 66 tahun itu membacakannya dengan gairah, menimbulkan suasana keueung di dalam kelas. 

Filsafat manusia tentu saja membahas tentang manusia. Namun bukan membahasnya dari aspek biologis ataupun psikologis. Lebih dari itu, filsafat manusia berisikan pertanyaan tentang manusia ini sebenarnya apa. Kelas dimulai dengan definisi manusia berdasarkan genus dan spesies. Misalnya, manusia adalah makhluk (genus) yang berakal budi (spesies). Muncul beberapa pendapat dari peserta, misalnya manusia adalah makhluk sosial, makhluk berbudaya, makhluk simbolik, makhluk yang memiliki afeksi, serta makhluk yang spiritual. 

Seiring dengan pembahasan yang semakin runcing, ditemukan bahwa manusia adalah makhluk yang paradoks –Penting untuk dibedakan paradoks dengan kontradiksi. Paradoks adalah dua kebenaran yang berdiri sama tegak, sedangkan kontradiksi adalah dua hal yang tidak mungkin dua-duanya benar. Jika satu benar maka yang satu lagi pasti salah-. Paradoks berarti, manusia adalah makhluk sosial, tapi di waktu bersamaan dia juga bisa sangat individual. Manusia adalah makhluk tertutup (yang bisa diketahui hanya dirinya sendiri), tapi juga adalah makhluk terbuka (berupaya mengetahui orang lain, alam semesta, dan Tuhan). 

Setelah menemukan paradoks manusia, berikutnya dipaparkan pemikiran-pemikiran mengenai manusia menurut beberapa filsuf, terutama filsuf eksistensialisme. Nietzsche misalnya, mengatakan bahwa manusia adalah tegangan di antara binatang dan adimanusia. Manusia adalah makhluk yang bisa terjatuh ke kebinatangan, tapi juga bisa melampaui dirinya, menjadi seorang manusia super. Pada titik ini, Nietzsche juga mengemukakan paradoks. Sedangkan Sartre berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang terkutuk untuk bebas. Ia datang ke dunia tanpa tedeng aling-aling, dikutuk untuk memilih diantara sekian banyak pilihannya dengan bebas dan bertanggungjawab, tanpa suatu nilai apapun yang mendasarinya. Terakhir, Kierkegaard mengatakan bahwa manusia bisa sangat baik jika justru meyakini hal-hal yang absurd, seperti misalnya Tuhan, kebenaran, pernikahan, atau persahabatan. Ia justru masih kebinatangan jika masih mengikuti hasrat-hasrat yang kelihatan, seperti apa yang ia analogikan sebagai manusia estetis bak Don Juan. 

Topik filsafat manusia ini adalah pemaparan terakhir dari Kelas Garasi Cabang-Cabang Filsafat. Minggu depan akan berlangsung upacara penutupan. 

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
pohonhijau
AUTHOR
29 Juni 2012 22.36 delete

saya baik walaupun atheis. alam semesta memang luas, tapi kita para manusia belum pernah melihat langsung proses penciptaannya, jadi menurutku yang betul untuk dikatakan adalah "sesuatu menciptakan alam semesta", tidak langsung mengatakan "allah pencipta alam semesta", atau "yesus pencipta alam semesta", perkataan-perkataan tentang yesus dan allah dalam kitab masing-masing agama masih ada detail yang kurang untuk menyebut "kata di alquran semua benar", atau "kata di alkitab semua benar". Tapi karena juga belum jelas ketidakberadaan tuhan, maka agama masih dapat digunakan untuk mengontrol perilaku. Tapi perlu dikritisi agar mencegah terorisme, dan menemukan kebenaran. Jika argument anda benar, beranikan diri anda untuk adu argument dengan saya, dan tampilkan komentar saya ini di blog anda agar mudah terbaca.
the universe is indeed vast, but we humans have never seen a direct process of creation, so I think it is correct to say is "something created the universe", not directly say "allah creator of the universe", or "jesus creator of the universe", the words-words of jesus and god in the book of each religion there is not enough detail to mention "words in the Quran is all true", or "word in the Bible is all true". But because it is also not clear absence of God, then religion can still be used to control behavior. But to be scrutinized in order to prevent terrorism, and achieve for the right. If your argument is correct, your courage for that line of argument with me and show my this comment in your blog to be easily legible.

Reply
avatar
Unknown
AUTHOR
9 September 2015 05.58 delete

Apakah anda setuju dengan penciptaan alam semesta berawal seperti yg dikatakan teori bigbang ??

Reply
avatar