Dibuka Pendaftaran Kelas Garasi: Filsafat dalam Film

Pengantar

Dalam buku How To Read a Film karya James Monaco, ia menyebutkan setidaknya ada tujuh aktivitas di masa purba yang digolongkan sebagai seni: Sejarah, Puisi, Komedi, Tragedi, Musik, Tarian, dan Astronomi. Ketujuhnya punya keunikannya tersendiri, namun mempunyai kesamaan dasar:

“They were tools, useful to describe the universe and our place in it. They were methods of approach to an understanding the mysteries of existence, and as such, they themselves took on the aura of those mysteries.”

Artinya, seni bukan hanya sekadar estetika yang membangkitkan faculty of taste dalam diri sebagaimana dipercaya Immanuel Kant. Seni, sebagaimana kata Bambang Sugiharto, menangkap kompleksitas kehidupan, dengan tetap mempertahankan kompleksitas itu sendiri. Seni tidak berusaha mencari pola atau kesamaan-kesamaan sebagaimana halnya dilakukan oleh sains. Sedemikian krusialnya seni, sehingga Oscar Wilde menyebutkan: “Life imitates art far more than art imitates life.” 
 
Film, meski pada perkembangannya tidak lepas dari label hiburan, namun film mempunyai unsur-unsur aktivitas seni jaman purba itu. Dalam film, banyak unsur-unsur seni bisa dikombinasikan dan menghasilkan semacam estetika yang khas, berbeda bahkan dengan teater yang juga mengandung kombinasi di dalamnya. Film dihasilkan lewat medium kamera. Namun medium itu tidak hanya sebatas medium. Menurut Marshall McLuhan, medium adalah pesan itu sendiri. Film justru berkekuatan salah satunya oleh sebab mediumnya tersebut.

Terlepas dari medium seni yang memang beragam adanya, tetap tidak bisa dikesampingkan faktor gagasan di baliknya. Kembali ke Wilde, ketika kehidupan mengimitasi seni sebagaimana seni mengimitasi kehidupan, artinya ada semacam penghayatan disana. Film tidak hanya sekadar memiliki fungsi estetis, tidak hanya menampilkan “yang indah-indah”. Film juga kerapkali menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan filosofis. Agaknya mesti disetujui, bahwa gagasan filosofis, agar sampai dengan baik ke pembacanya, mensyaratkan suatu keindahan estetik. Pada tingkat bahasa sekalipun, peradaban Yunani kuno mengenal ilmu retorika, yaitu semacam seni untuk berkata-kata, agar gagasan itu bisa didengarkan.

Apa yang mau dibahas di kelas nanti bukan menitikberatkan pada aspek estetika film sebagai kesan-kesan indrawi semata. Namun melihat estetika sebagai salah satu pilihan kemungkinan dalam menyampaikan sebuah gagasan filosofis. Lebih dari itu, aspek estetis juga mungkin bisa dibongkar, agar pemirsa tidak terjebak dalam pernyataan-pernyataan semisal, “Keren yah efeknya,” atau “Ganteng yah aktornya.” Jangan-jangan yang demikian hanya berada di wilayah permukaan, di baliknya ada gagasan-gagasan yang jauh lebih mendalam, menukik, dan mengimitasi kehidupan dengan sudut pandang yang sebelumnya demikian asing bagi kita.

Materi Pertemuan

17 Mei: Berkenalan dengan psikoanalisis - Psycho (1960) [Alfred Hitchcock]


24 Mei: Manusia dan alat - 2001: A Space Odyssey (1968) [Stanley Kubrick]


31 Mei: Jiwa adalah penjara tubuh - A Clockwork Orange (1971) [Stanley Kubrick]


7 Juni:  Jika Tuhan ada, mengapa ada penderitaan? - The Seventh Seal (1957) [Ingmar Bergman]


14 Juni: "On Voyeurism" - Blue Velvet (1986) [David Lynch]



21 Juni: Kehidupan ini adalah film, Kamerad! - Man With a Movie Camera (1929) [Dziga Vertov]


28 Juni: Kehendak bebas vs Determinisme - The Truman Show (1998) - [Peter Weir]


5 Juli: Dunia yang dilipat - The Matrix (1999) - [Larry & Andy Wachowski]


Metode
1. Film hanya akan diputar penuh di kelas jika film tersebut di bawah durasi dua jam.
2. Jika di atas dua jam, maka materi film akan diberikan seminggu sebelum pertemuan untuk disaksikan sendiri oleh peserta.
3. Satu pertemuan terdiri dari 30 menit pengantar, 90 menit film, dan 30 menit diskusi.
4. Pemateri akan memberikan hand-out sebelum atau sesudah kelas berlangsung, namun peserta wajib untuk menuliskan pandangannya sendiri terhadap masing-masing film yang diputar.

Persyaratan
1. Kelas dibatasi untuk 10 (sepuluh) orang peserta.
2. Kelas diselenggarakan setiap hari Kamis mulai 17 Mei 2012 pukul 18.30 sampai pukul 21.00 WIB di Garasi 10, Jl. Rebana no. 10, Bandung.
3. Memahami Bahasa Inggris secara cukup karena tidak semua film memiliki subtitle Bahasa Indonesia.
4. Biaya Rp. 150.000 untuk 8 (delapan) pertemuan akan sepenuhnya dikembalikan pada peserta dalam bentuk hand-out, sertifikat, dan operasional kelas itu sendiri.
5. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Dega (08-1111-04844)

Pemateri

Syarif Maulana
Aktif di komunitas musik klasik dan komunitas filsafat di Tobucil. Mengajar logika di Fakultas Ilmu Budaya UNPAD, serta mengajar filsafat di Garasi 10 dan Tobucil.

Ismail Reza
Menempuh pendidikan arsitektur dan urban design dari UNPAR & ITB. Kolektor musik rock eksperimental dari SMP hingga sekarang.

Moh. Syafari Firdaus 
Filmmaker aktif di Komunitas Perfilman Intertekstual dan pernah memenangkan penghargaan Film Dokumenter terbaik di Yamagata Film Festival, Jepang.
Previous
Next Post »