Dibuka Pendaftaran Kelas Garasi: Berkenalan dengan Filsafat Martil Friedrich Nietzsche

Portrait of Friedrich Nietzsche karya Edvard Munch.

Pengantar

Jika kamu merasa memiliki jiwa pemberontak terhadap kemapanan yang menyesakkan, selalu ingin tampil beda dengan orang kebanyakan, kiranya hal tersebut akan semangkin genap pabila menggunakan framework cara berpikir Filsafat Martil. Filsafat Martil yaitu cara berpikir filosofis yang disematkan pada pemikiran Friedrich Nietzsche. Filsuf urakan satu ini lahir di Rocken, 15 Oktober 1844. Hal ini akan menjadi penting, pabila tentunya kita mampu menggunakan Martil-nya itu dengan tepat.

Friedrich Nietzsche, memang sering-sering disebut sebagai filsuf yang kontroversial. Sebut saja misalnya Bertand Russell, dalam bukunya A History of Western Philosophy, mengakhiri tulisannya tentang Nietzsche dengan berkata: “I dislike Nietzsche because he likes the contemplation of pain, because he erect conceit into a duty, because man whom he most admire are conquerors, who's glory is cleverness in causing man to die.” Oleh karena itu, Russell berharap supaya pengaruhnya “is coming rapidly to an end”. Berbalik 180 derajat dengan Frederick Copleston, S.J., Sejak awal ia menunjukkan rasa simpatiknya yang mendalam pada pemikiran-pemikiran Nietzsche. Padahal ia seorang rohaniwan Katolik yang setia pada Roma.

Filsafat Martil adalah sebutan populer bagi cara berpikir filosofis Nietzsche. Hal menarik lainya selain karena ia sering menjadi bahan hujatan dan kutukan, karena cara berfilsafatnya cenderung tanpa tedeng aling-aling, Nietzsche mampu meramu kegelisahan dirinya dikaitkan dengan kegelisahan zamannya, dengan caranya yang khas, dan berbeda dengan para filsuf terdahulu. Makanya wajar kalau ia sering pemikirannya dianggap “urakan”.

Dengan demikian gak ada salahnya juga, pabila kita hari ini mencoba membaca ulang kembali batok kepala untuk mengetahui daleman pemikiran Nietzsche, sembari mencari tau kira-kira bagaimana menerapkan atau menggunakan Filsafat Martil-nya itu pada kehidupan kita hari ini. Masih bergunakah Martil ala Nietzschean itu untuk mendobrak kemapanan yang menyesakkan ini? Mari kita buktikan dikelas filsafat manusia: Filsafat Martil Nietzsche.

Materi Pertemuan 

1.       Pendahuluan
2.       Riwayat Hidup & Metode Filsafat Nietzsche
3.    Nihilisme    
4.       Mendengarkan Filsafat Nietzsche melalui Karya Musik R. Strauss "Also Sprach Zarathustra"
5.       Kehendak untuk Berkuasa
6.       Ubermensch
7.       Kembalinya Segala Sesuatu & Pengaruh FIilsafat Martil Nietzsche
8.       Penutup


Informasi Pendaftaran

  1. Kelas dibatasi untuk 10 (sepuluh) orang peserta.
  2. Kelas diselenggarakan setiap hari Jumat mulai 11 Mei 2012 pukul 19.00 sampai pukul 21.00 WIB di Garasi 10, Jl. Rebana no. 10, Bandung.
  3. Biaya Rp. 150.000 untuk 8 (delapan) pertemuan akan sepenuhnya dikembalikan pada peserta dalam bentuk hand-out, sertifikat, dan operasional kelas itu sendiri. 
  4. Pembayaran dapat melalui rekening Mandiri no. rekening 1300010231705 a/n Syarif Maulana. 
  5. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Syarif (0817-212-404)
Output

Kelas diarahkan untuk membuat buku yang isinya adalah kumpulan tulisan para peserta. Kelas sebelumnya, Kelas Filsafat Eksistensialisme Soren A. Kierkegaard, berhasil membuat buku berjudul Eksistensialisme Telanjang. Buku yang ditulis oleh tiga peserta plus satu tutor plus satu pengelola tersebut, berisi renungan-renungan pribadi yang berangkat dari keseharian yang paling dekat.

Rudy Rinaldi, salah satu peserta dan penulis buku Eksistensialisme Telanjang.
Profil Pengajar

Rosihan Fahmi lulusan Aqidah filsafat IAIN dan Program Studi Ilmu Filsafat UI adalah penggiat filsafat, biasa memberikan obrolan-obrolan filsafat di beberapa komunitas, dan kuliah filsafat di beberapa perguruan tinggi di Bandung.
Previous
Next Post »