Catatan Penutup Kelas Garasi Cabang-Cabang Filsafat: Mengejar Manusia "Seutuhnya"

Filsafat, jika mau kembali ke akar katanya, betul-betul tidak ada hubungannya dengan stereotip kata "filsafat" itu sendiri yang biasanya secara peyoratif diartikan sebagai "berpikir ribet dan dibuat-buat". Berfilsafat adalah sekaligus berupaya. Berupaya apa? Berupaya untuk menjadi seseorang yang bijaksana, yang sesuai dengan arti kata filsafat secara harfiah: mencintai kebijaksanaan.

Apa itu "bijaksana" tidak mudah untuk diartikan. Konfusius misalnya, menyebut bijaksana dengan "jalan tengah", tidak berlebihan, tidak berkekurangan, pas pada porsinya. Penjelasan Konfusius, meskipun sejalan dengan banyak agama untuk "tidak berlebihan", tetap saja masih kabur definisinya. Namun jangan-jangan, semakin kita berupaya untuk mendefinisikan bijaksana secara tepat, maknanya akan semakin tidak jelas.

Apa yang dipelajari di kelas Cabang-Cabang Filsafat yang dimulai sekitar dua bulan lalu ini, tentu jauh dari mendekati kebijaksanaan yang dicita-citakan filsafat itu sendiri. Namun berupaya adalah hal yang mesti dilakukan, karena jangan-jangan, manusia adalah seperti yang dikatakan oleh Sartre, selalu "menidak", selalu bukan "what he is", tapi "what he is not". Manusia adalah makhluk yang selalu berupaya, yang justru tidak pernah menjadi, yang membuat ia sedemikian berbeda dengan benda-benda yang teronggok sedemikian rupa dan tidak pernah berupaya akan apapun. Mari mengurai upaya-upaya yang telah dilakukan kelas Cabang-Cabang Filsafat kemarin, lewat materi-materi yang pernah dibahas selama delapan pertemuan:

Logika
Nalar yang dimiliki manusia adalah sebuah keniscayaan. Kenyataannya, ada yang melengkapi manusia selain dari perasaan. Suatu faculty dalam diri yang kerap berupaya bekerja sendiri tanpa dorongan afeksi. Inilah yang dimaksud dengan nalar, yang oleh David Hume dianalogikan dengan "bagian manusia yang dingin", bukan hangat seperti hati. Logika adalah cabang filsafat yang bekerja mempertanyakan hakikat nalar beserta cara kerjanya. Mengapa belajar logika menjadi penting? Karena ada satu hal yang pasti, bahwa manusia, pada kesehariannya, tidak pernah melihat fakta yang berada di luar penginderaannya. Apa yang berada di luar indera, hanya dapat dijangkau oleh nalar. Misalnya, kita tidak pernah tahu secara inderawi apakah kenaikan BBM menyengsarakan masyarakat Indonesia atau tidak. Namun nalar kita bekerja, mengalkulasi, mencari-cari common sense, dan akhirnya menyimpulkan dari yang partikular. Hal tersebut juga berlaku pada proses peradilan. Kenyataannya, hakim tidak pernah tahu para saksi berkata benar atau tidak. Mengecek fakta adalah upaya yang tidak mungkin, yang mungkin hanyalah mengaitkan kesaksian satu dengan kesaksian lain, dan kesemuanya membutuhkan nalar.


Etika
Logika kerapkali tidak mempunyai hubungan langsung dengan hubungan sesama manusia. Padahal, sudah niscaya juga, bahwa manusia adalah makhluk yang hidup bersama makhluk lainnya. Maka itu dibutuhkan etika, suatu cabang filsafat yang membahas tentang "apa yang harus dilakukan manusia dalam kaitannya dengan keberadaan dirinya di tengah-tengah yang lain." Etika membahas "apa yang baik", yang mana kebaikan itu bukan dirumuskan lewat dogma-dogma agama atau hukum adat, melainkan lewat kemandirian nalar. Faktanya, kita seringkali dihadapkan pada situasi yang dilematis, yang jawabannya tidak ada dalam dogma agama manapun. Misalnya: Menyembunyikan teman di rumah kita yang baru saja berbuat kejahatan, apa yang kita lakukan jika polisi mencarinya? Banyak contoh situasi dilema yang dihadapi manusia dalam kesehariannya, yang sebetulnya lebih banyak dijawab bukan dengan dogma, melainkan akal sehat dan perasaan yang jernih, bahkan tak jarang pula diputuskan secara instingtif saja.

Metafisika

Metafisika disebut-sebut sebagai wilayah filsafat yang paling inti, yang paling hard-core. Metafisika berhadapan dengan pertanyaan mengenai "ada". Metafisika seringkali dianggap sebagai wilayah yang paling abstrak, keras, tapi sekaligus juga absurd. Namun justru, dalam filsafat, yang mana kegiatan utamanya adalah melakukan abstraksi, keberadaan metafisika ini menjadi penting. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang banyak menghadapi tantangan-tantangan fisik seperti lapar dan cuaca, namun jika manusia sekadar soal survival saja, maka ia tidak ada bedanya dengan binatang. Maka itu metafisika membuat manusia mempunyai kemampuan untuk "berpikir tentang berpikir" dan "merasakan perasaannya". Metafisika mempertanyakan tentang "ada", dan karena metafisika jugalah, manusia menjadi "ada".

Estetika
Manusia, menurut Louis Leahy, adalah makhluk yang memiliki afeksi, ia memiliki gairah akan segala sesuatu. Ini adalah suatu paradoks, di satu sisi, gairah itu adalah sesuatu yang tak bisa ditangkap oleh medium apapun. Di sisi lain, manusia kerapkali berusaha, dengan keterbatasannya, menangkap gairah tersebut. Estetika, atau filsafat tentang keindahan, adalah filsafat yang mempertanyakan fakta bahwa dalam keseharian kita ada yang dinamakan keindahan. Indah bisa menimbulkan rasa nikmat, tenang, bahagia, harmoni. Namun indah, pada perkembangannya, justru mengalami perubahan juga. Apa yang indah tidak selalu menyenangkan, ada pun yang menjijikan, absurd, dan mengacaukan pikiran. Tapi ada satu hal yang pasti: Bahwa konsep keindahan adalah imitasi dari afeksi manusia, gairah manusia akan apapun, termasuk perasaannya sendiri dan semangat jaman (zeitgeist). Manusia adalah makhluk yang selalu berupaya menangkap keabsurdan sekitar, yang tak terlihat, yang metafisis, menjadi sesuatu yang terlihat-fisis.


Filsafat Agama
Agama, secara niscaya, mewarnai kehidupan keseharian manusia. Agama digadang-gadang sebagai jalan hidup, suatu pedoman tentang bagaimana manusia harus bersikap. Namun yang menjadi masalah, agama kerapkali dianggap sebagai suatu hukum yang tak ada tawar menawar dan dingin terhadap dinamika manusia. Banyak yang lupa bahwa agama, bagaimanapun juga, mengandung ilusi, kontradiksi, yang jika sama-sama dibongkar dan dikritisi, justru bisa menjadikan daya hidup yang paling penting bagi umat manusia. Agama, meskipun seringkali terlalu mensimplikasi keruwetan hidup manusia, namun terkadang punya suatu gaya pikir yang "ujung". Dengan percaya diri, agama menawarkan asal-usul dan tujuan manusia secara lengkap dan pasti. Meskipun yang demikian bisa didebat dengan nalar, namun popularitas agama tetaplah tinggi, karena kenyataan bahwa manusia selalu membutuhkan jawaban atas segala teka-teki, dan agama sudah menyediakan kuncinya dari jauh-jauh hari.

Filsafat Manusia
Terakhir, setelah manusia menggali fenomena di luarannya, adalah penting untuk pada akhirnya mempertanyakan: Siapa manusia itu? Siapa saya? Pada titik ini, akan diketemukan suatu paradoks-paradoks yang menggelisahkan. Misalnya, kenyataan bahwa manusia adalah makhluk tertutup (hanya bisa mengetahui dirinya), tapi juga ia adalah makhluk terbuka (selalu berupaya mengetahui orang lain, alam semesta, dan Tuhan). Ketika dirumuskan secara mendalam, kelihatan bahwa manusia adalah makhluk yang serba terbatas, tapi ia juga selalu berusaha tanpa henti melampaui keterbatasannya. Paradoks-paradoks itulah yang mungkin bisa mendekatkan manusia pada kebijaksanannya, ketika menyadari bahwa merumuskan saya ini siapa juga adalah sesuatu yang tidak sederhana, logis, lurus, dan bahkan membutuhkan "kerancuan berpikir" seperti paradoks itu tadi.

Pertanyaan besarnya, bagaimana mungkin, sebuah kegiatan berpikir seperti filsafat, kemudian punya dampak pada kebijaksanaan? Mudah-mudahan jawabannya adalah ini, meskipun bisa saja diperdebatkan dan tidak memuaskan: Karena dalam kegiatan berpikir, ada ujung yang tidak bisa dipikirkan. Ada kesadaran akan keterbatasan yang niscaya. Ada kenyataan bahwa semakin banyak tahu, adalah semakin menyadari bahwa diri sendiri tidak tahu apa-apa (Sokrates). 


Justru ketika manusia menyadari bahwa dalam tahu-nya mengandung ketidak-tahuan, dalam ketidak-tahuannya mengandung ke-tahu-an, dalam keluasannya menyadari batas, dalam batas-batasnya menyadari luas, yang demikianlah "jalan tengah" yang dimaksud Konfusius. Atau seperti kata pepatah Jawa yang sering didengung-dengungkan Pak Bambang Sapto: Ngono yo ngono, ning ojo ngono: "Boleh saja begitu, tapi jangan begitu-begitu amat". 

Sampai jumpa di kelas berikutnya! 


Previous
Next Post »