Catatan dari Penutupan Kelas Garasi

"Great people talk about ideas, average people talk about things, small people talk about other people."

Sabtu, 21 April 2012

Quote anonim diatas boleh setuju boleh tidak. Namun great people bisa menjadi small people, jika ide hanya selamanya ide, tidak mewujud menjadi sesuatu yang konkrit. Hal tersebut menjadi dasar mengapa kelas-kelas di Garasi 10 wajib menyajikan "sesuatu" di penghujung pertemuannya. Memang iya, seluruh kelas mengajarkan hal-hal yang sifatnya teoritik seperti filsafat, teori musik, komposisi musik, dan aransemen gitar. Namun yang diteorikan itu harus bisa menjadi praksis. 

Karya Tanpa Judul oleh Langgam Bagaspratomo
Penutupan di hari Sabtu kemarin menjadi penutupan yang berlaku bagi seluruh kelas mulai dari Kelas Aransemen Gitar asuhan Bilawa A. Respati, Komposisi Musik Dasar (Diecky K. Indrapraja), Teori Musik Dasar (Mutia Dharma), Cabang-Cabang Filsafat (Syarif Maulana), dan Filsafat Eksistensialisme Soren A. Kierkegaard (Rosihan Fahmi). Setiap peserta kelas dilarang menerima sertifikat tanda kelulusan sebelum mempresentasikan sesuatu yang menjadi hasil refleksinya selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. 

Presentasi dimulai dari Kelas Teori Musik Dasar yang menyajikan karya-karya Renata Amelia dan Langgam Bagaspratomo via video. Hal tersebut dikarenakan kelas yang sudah selesai hampir tiga minggu lalu, sehingga merasa tidak perlu untuk diikutkan dalam seremoni (karena seremoninya sendiri sudah). Kelas asuhan Mutia Dharma tersebut meskipun pesertanya dua orang, namun keduanya sanggup melahirkan karya komposisi.

Setelah itu tampil kelas Cabang-Cabang Filsafat yang menyajikan berbagai macam karya. Tidak ada patokan memang harus karya seperti apa, yang pasti karya tersebut harus menampilkan respon atas tema berjudul "manusia". Ada beberapa presentasi menarik seperti misalnya Benny yang menyajikan karya instalasi akuarium diisi mainan. Katanya, akuarium itu simbol tubuhnya, sedangkan mainan-mainan tersebut merupakan perwujudan "isi tubuh" seperti misalnya pikiran, jiwa, ruh, yang terus menerus saling bertegangan setiap saat. 

Essoy juga tak kalah menarik. Ia menyajikan instalasi air yang ditempatkan di atas proyektor, untuk kemudian menimbulkan efek pantulan pada tembok disertai gambar Vetruvian Man-nya Da Vinci. Lalu Essoy membubuhkan cairan berwarna setetes demi setetes ke dalam air, sehingga manusia vetruvian itu sendiri mengalami percikan-percikan warna. Ini adalah simbol paradoks manusia. Tak pernah stabil, selalu bergejolak.

Essoy dan karyanya
Rahar dan Rudy tak kalah menariknya. Rahar membuat power point, berisikan presentasi mengenai seorang psikopatik bernama Ed Gain. Ed Gain adalah seorang pembunuh yang juga pemburu mayat. Mayat itu ia jadikan hiasan di rumah, dan kadang ada yang dikuliti untuk dijadikan pakaian. Pesan moralnya: Ada orang yang berani melabrak pelbagai logika, etika, estetika, dan agama secara ekstrim. Bahkan melampaui batas yang terjauh. Sedangkan Rudi, ia menampilkan boneka yang digantung. Menunjukkan keinginannya yang seringkali ingin lepas dari dunia untuk memahami kebenaran apa yang sesungguhnya hakiki.

Karya Rudy Rinaldi
Kelas Filsafat Eksistensialisme Soren A. Kierkegaard mendapat giliran berikutnya. Kelas tersebut tak perlu lagi banyak berpresentasi karena sudah menghasilkan karya konkrit yakni buku kompilasi tulisan Eksistensialisme Telanjang. Faishal sebagai wakil kelas memberikan sharing singkat tentang kecemasan di sekitar kita. Menunjukkan memang iya, bahwa kelas yang ia ikuti seringkali membahas soal kecemasan sebagaimana tema-tema yang kerap diusung eksistensialisme. Sebagai penutup dari rangkaian kelas bertemakan filsafat, Pak Bambang Sapto membacakan puisi berjudul Lukisan Abstrak Tak Berbingkai. Pak Bambang yang berusia 66 tahun itu, membacakan puisinya dengan amat ekspresif.

Karya para peserta Kelas Filsafat Eksistensialisme Soren A. Kierkegaard
Setelah itu barulah tampil Kelas Komposisi Musik Dasar yang sengaja disimpan di akhir-akhir agar peserta tidak terjebak pada kegalauan filsafat dan diselesaikan oleh musik yang sekiranya melegakan. Namun dugaan itu tidak terlalu berhasil. Nyatanya, musik-musik hasil komposisi dari keempat murid yakni Ben, Arief, Fiola, dan Sebastian, semuanya nyaris menyuguhkan "kecemasan" baru oleh sebab tema-tema musiknya yang cukup "gelap".

Karya Sebastian A. Nugroho berjudul Violin Prelude.
Presentasi mulai dari Fiola via video. Alasannya? Fiola mesti konser di waktu yang bertepatan dengan penutupan. Setelah presentasi dari Fiola yang menyajikan karya untuk violin yang ia mainkan sendiri, berikutnya presentasi datang dari Sebastian. Ia pun menciptakan karya untuk violin berjudul Violin Prelude. Namun karena Fiola tidak hadir dan tidak ada satupun yang sanggup bermain violin, maka terpaksa Syarif yang menampilkannya dengan gitar.


Karya Haafidz, aransemen dari lagu daerah Potong Bebek Angsa
Setelah Sebastian dan Fiola, tampil Ben dengan lagu berjudul Workaholic yang berkisah tentang tuduhan terhadap dirinya yang terlalu sibuk belakangan. Lagu tersebut dinyanyikan sendiri oleh Ben, dengan sisipan puisi di tengahnya. Sedangkan sebagai penutup, Arief yang dengan serius mengajak dua orang rekannya untuk bermain gitar dan kajon, membawakan lagu ciptaan berjudul Satu Cinta. Karyanya ini cukup meriah karena memang selain secara personil adalah paling banyak, tapi juga karena komposisinya dibuat cukup riang.

Arief Rosmadi dan kawan-kawannya membawakan Satu Cinta.
 Sama halnya dengan Mutia, kelas Bilawa juga berakhir sudah cukup lama, sehingga dampaknya, para pesertanya pun tidak banyak yang hadir. Salah satu yang hadir yakni Haafidz, membawa karya aransemen gitarnya yang berjudul Potong Bebek Angsa. Karya tersebut dimainkan oleh Syarif yang sekaligus juga merupakan presentasi terakhir sebelum kemudian pembagian sertifikat. Pembagian sertifikat ini simbolis diserahkan oleh penanggung jawab Garasi 10, Pak Setiawan Sabana. Peserta terbaik dari seluruh kelas, tanpa perdebatan, ditunjuk Pak Bambang Sapto oleh sebab semangat belajarnya yang tak pernah padam.

Dengan demikian berakhirlah rangkaian kelas garasi. Sampai jumpa di kegiatan berikutnya!

Pak Setiawan Sabana menyerahkan sertifikat pada pengajar Kelas Komposisi Musik Dasar, Diecky K. Indrapraja





Previous
Next Post »