ASLI! PAMERAN KOMIK

ASLI! PAMERAN KOMIK
Pameran Naskah Koleksi Kiki Dikdik Ruyama

20, 21, 22 April 2012
Pembukaan: 20 April 2012 pk. 16.00
Talkshow: 21 April 2012 pk. 16.00-18.00
Pembicara: Toni Masdiono & Kiki Dikdik Ruyama



@Garasi 10
Jl. Rebana no. 10
Gratis dan Terbuka untuk Umum!


ASLI! PAMERAN KOMIK Bicara komik sebagai salah satu bentuk seni rupa berarti berbicara teknik bercerita lewat gambar yang kerap dibantu oleh teks. Kedua unsur tersebut disusun secara naratif sehingga mampu membawa pembaca berimajinasi dan berinteraksi ke dalam dunia yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kepiawaian bertutur lewat gambar tersebut membuat komik menjadi salah satu bacaan populer (sekaligus kontroversial) di seluruh dunia, termasuk Indonesia. 

 Komik di Indonesia diawali dengan komik strip Put On yang terbit mingguan di harian Sin Po pada tahun 1930an. Tahun 1954 Kosasih melahirkan Sri Asih, karakter lokal yang merupakan respons Superman sekaligus disebut-sebut sebagai penanda pertumbuhan komik Indonesia. Setelah Sri Asih, Komik Indonesia periode 1960 - 1980an diisi dengan berbagai variasi genre, dari mulai fiksi ilmiah, wayang, roman, silat, sampai superhero. Genre silat digemari karena plot yang sederhana, kekhasan teknik bela diri lokal, serta petualangannya ke daerah-daerah di pelosok nusantara. Daya tarik lain dari komik Silat adalah bagaimana pembaca melihat proses pendewasaan sang pendekar melalui berbagai pertarungan yang dilaluinya. Sementara dalam komik Roman, romantika dunia remaja disajikan dengan tujuan untuk membuat pembaca terhibur dan terharu. Plot yang dipengaruhi skenario film asing, penggambaran setting, karakter, dan gaya berpakaian ala komik-komik Amerika (Marvel, Love Story Picture Library) menjadi kecenderungan komik roman tahun 1960an. Opini sosial dan politik, seperti keprihatinan terhadap invasi kebudayaan barat serta kemewahan yang menjadi setting dan gaya di kalangan anak muda, kerap muncul dalam komik Roman.

ASLI! PAMERAN KOMIK di Garasi 10 kali ini menyajikan naskah-naskah asli komikus-komikus Indonesia yang karyanya mewakili spirit jaman genre Roman dan Silat. Komikus seperti Har, Aris, Teguh Santosa, dan Usyah memperlihatkan kematangan teknis dan narasi visual yang intens dan dinamis lewat efek pergerakan karakter, permainan panel, serta efek suara. Ruhiyat, satu-satunya romantisis dalam pameran ini, memberikan narasi yang lebih puitik dan lambat dalam komiknya. Adegan percintaan banyak ditampilkan dengan panel-panel besar dan narasi tekstual yang panjang untuk memberikan tekanan perasaan karakter. 

Akhir kata, Pameran ini tidak saja berusaha memberikan wacana estetik dan simbolik dalam komik secara umum, tapi juga aspek kesejarahan komik Indonesia. Semoga lewat pameran ini, komik Indonesia akan terus hidup dan dieksplorasi secara kreatif.
Previous
Next Post »