Orang Sunda Hari Ini: Tantangan dan Harapan

Minggu, 11 Maret

Malam itu Garasi 10 menghadirkan dua pembicara yang cukup senior di bidang akademik. Tujuannya adalah membicarakan tentang orang Sunda hari ini. Mereka adalah Prof. Tjetje Rohendi Rohidi, guru besar antropologi dari Universitas Negeri Semarang dan Prof. Cece Sobarna dari linguistik UNPAD. Kursi sebanyak empat puluh nyaris terisi penuh.


Presentasi pertama datang dari Prof. Cece yang mengusung tema pentingnya bahasa Sunda diterapkan dalam keseharian. Menurutnya, bahasa punya kaitan erat dengan budi pekerti, sehingga penggunaan bahasa Sunda yang seluas-luasnya diharapkan mampu berdampak pula pada tata laku keseharian. Bahasa Sunda ini tidak hanya harus dimulai sejak lingkungan sendiri, tapi juga terus dilanjutkan di sekolah-sekolah, termasuk PAUD alias Pendidikan Anak Usia Dini.

Prof. Cece Sobarna

Setelah Prof. Cece, tampil kemudian Prof. Tjetjep dengan presentasi berjudul "Kasundaan Urang Sunda Kiwari: Ceuk Uing Kitu .. Oge". Prof. Tjetjep tidak terlalu setuju dengan kaitan antara bahasa dengan budi pekerti. Katanya, "Orang yang korupsi itu punya kehalusan berbahasa Sunda yang seringkali luar biasa." Prof. Tjetjep menyatakan bahwa asal-usul orang Sunda itu terdiri dari tiga, yaitu pituin, pendatang, dan campuran. Prof. Tjetjep juga menjelaskan struktur masyarakat orang Sunda mulai dari pranata sosial, sistem nilai dan keyakinan, perilaku dan pola perilaku, yang kemudian dikaitkan dengan bahasa, sistem pengetahuan, sistem kekerabatan, kesenian dan teknologi. Dalam penutupan paparannya, Prof. Tjetjep mengatakan, "Semakin orang Sunda ketat didefinisikan, pertanyaan akan semakin banyak muncul."

Prof. Tjetjep Rohendi Rohidi (kiri)

Setelah pemaparan kedua narasumber tersebut, ada sesi tanya jawab yang dipimpin oleh moderator Patra Aditia. Ada satu pertanyaan menarik, yaitu tentang batas-batas orang Sunda itu sendiri. Kadang ada istilah-istilah yang sulit terpahami oleh generasi sekarang, bahkan ragu bahwa itu adalah bahasa Sunda. Namun faktanya, itulah bahasa Sunda yang langsung diambil dari literatur kuno. Artinya, ada suatu gap generation yang cukup serius diantara orang Sunda itu sendiri. Lalu juga ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih subtil seperti orang Sunda itu sendiri apa? Batasannya apa? Apakah bisa suatu kebudayaan diklaim Sunda jika dalam Sunda itu sendiri begitu pluralistik?

Diskusi berlangsung cukup panjang. Seharusnya dijadwalkan berakhir pukul 21, tapi ternyata baru bubar pukul 23.30. Pertemuan yang hampir dapat dipastikan kurang memuaskan karena topik Kasundaan sedemikian rumit dan pelik, tidak mungkin tuntas dalam beberapa jam saja. Kata Prof. Tjetjep, "Tak mungkin dibicarakan terus menerus, harus menjadi tindakan." Namun ada yang tersisa di benak para peserta: Tentang tantangan dan harapan orang Sunda masa sekarang.

Previous
Next Post »