Kelas Cabang-Cabang Filsafat: Mempertanyakan Hakikat Kebaikan

 Suasana Kelas Garasi: Cabang-Cabang Filsafat. Foto oleh Mi'raj Dodi Kurniawan.

Kamis, 1 Maret 2012

Salah satu cabang dari filsafat adalah etika, etika adalah filsafat tentang moralitas, tapi bukan moralitas itu sendiri. Etika bisa dibilang merupakan “kacamata kritis dalam memandang moralitas”. Selalu ada perdebatan tentang baik dan buruk , benar dan salah disinilah peran etika mempertanyakan semua ini. 

 Setiap filsuf mempunyai pandangan berbeda mengenai apa itui “baik” dan apa yang harus manusia lakukan. Ketika para filsuf sibuk memikirkan dunia, pada titik tertentu ia merasa perlu bertanggungjawab untuk merumuskan apa yang “seharusnya” dilakukan manusia. Syarif mengajukan beberapa problem etis salah satunya adalah “Seorang anak harus mengikuti wajib militer oleh negara padahal ia tinggal berdua saja dengan ibunya. Apa yang harus dilakukan si anak, membela ibu atau membela negara?” Setelah itu dilanjutkan dengan pembahasan mengenai pemikiran-pemikiran etika yang berkembang seperti pemikiran Aristippus, Sokrates, David Hume, Immanuel Kant, Jean Paul Sartre, B.F. Skinner, Hans Jonas hingga Konfusius. 

Diskusi paling hangat saat membahas kebenaran universal, adakah kebeneran universal itu dan kenapa pula harus ada. Juga tentang Trolley Dilemma, sebuah kasus etis yang sering diangkat di diskusi etika masa sekarang. Dilema Trem menceritakan tentang kereta yang melintasi rel dengan cepat, sedangkan di sana ada empat pekerja yang berada di lintasan kereta. Empat pekerja itu akan tertabrak dan kamu melihatnya. Namun yang menarik, kamu berada di posisi dekat tuas yang bisa membuat kereta berpindah jalur sehingga selamatlah keempat orang tersebut. Namun konsekuensinya, ternyata ada satu orang pekerja berada di lintasan tempat kereta itu berubah arah yang berpotensi besar tertabrak juga. Pertanyaan etisnya: Apakah kamu memilih korban satu orang atau empat orang? Problemnya, satu orang itu meninggal karena kamu menarik tuas, sehingga seolah kamu pelakunya. 

 Dalam bahasa lain, mana yang lebih baik, membunuh atau membiarkan orang terbunuh?. Sebagian besar peserta diskusi memilih untuk mengorbankan satu orang, sedangkan sisanya memilih untuk membiarkan empat orang pekerja yang tertabrak, atau dalam kata lain membiarkan alam yang bekerja. 

Tanpa melalui pelajaran etika sekalipun, sebenarnya kita juga menyadari bahwa banyak sekali kasus dalam kehidupan sehari-hari yang berada di wilayah abu-abu. Kita tidak bisa menjawabnya secara pasti, bahkan seringkali paradoks dengan aturan-aturan yang kita ketahui. Seringkali kita harus berpegang pada pengalaman beserta nalar kita sendiri. 

Sutrisna
Previous
Next Post »