Kelas Komposisi Musik Dasar: Memahami Skala Nada dan Harmoni Tertian

Liputan Kelas Komposisi Dasar pertemuan kedua dan ketiga.

Setelah mengenal beragam fenomena pembentukan skala nada (scale) dan laras, peserta kelas dikenalkan pada hal yang bersifat aplikatif dari ragam skala nada tersebut. Skala nada merupakan rentetan nada dalam sistem tertentu. Dalam satu oktav skala nada, umumnya terdiri dari lima nada (pentatonic), enam nada (hexatonic), dan tujuh nada (heptatonic). Disamping itu, masih banyak juga skala nada yang berisi 17 hingga 24 nada tiap oktav-nya. Pembentukan nada-nada dalam satu oktav tersebut diatur dalam sistem yang disepakati. Sebagai contoh, dalam satu oktav wholetone scale terdiri dari enam nada (hexatonic), yang jarak masing-masing nada adalah berinterval satu (I) atau 200 cent. Begitu juga pada tangga nada mayor, dalam satu oktav terderi dari tujuh nada (heptatonic). Skala nada mayor diatur dalam sistem mayor, yaitu jarak antar nadanya I-I-½-I-I-I-½. Begitu seterusnya, untuk skala-skala nada yang lain, tentu saja memiliki sistem pembeda dalam pembentukannya.

gambar diambil dari sini


Skala nada merupakan modal awal dalam menentukan melodi pada sebuah karya. Skala nada juga bisa disebut sebagai identitas karya. Skala nada mayor dan minor adalah skala nada yang sangat populer dipakai sebagai material berkarya. Namun kali ini, peserta diajarkan menggunakan skala nada yang pernah populer di zamannya, namun dalam konteks yang lebih luwes, yaitu modus atau mode atau modal. Modus merupakan material musik yang digunakan pada periode abad pertengahan hingga zaman Barok. Dalam pengertian modern, modus adalah skala nada dengan center note (nada pusat) tertentu, namun sistem jarak antarnada masih turunan dari skala nada diatonik. Sehingga secara aplikatif dalam membuat komposisi musik bisa menggunakan multi modal dalam satu karya (polimodal). Dalam tingkat tertentu bisa juga menggunakan kombinasi skala nada, misalnya (multiscale-polimodal).

Setelah memahami skala nada sebagai bentukan melodi, materi selanjutnya adalah mengenalkan harmoni yang dibentuk oleh skala nada tersebut. Seperti halnya skala nada, harmoni merupakan sistem bentukan nada yang dibangun secara vertikal. Harmoni tertian merupakan sistem bentukan yang paling populer, yaitu sistem nada yang dibentuk berdasarkan interval tiga secara vertikal. Selanjutnya dikenal juga dengan harmoni sekundal dan harmoni kuartal. Kali ini materi kelas Komposisi Dasar Garasi 10 menyuguhkan bagaimana harmoni berbasis tertian bisa terbentuk dan menghasilkan beragam turunan akor. Contoh akor berbasis tertian adalah C mayor, D minor, F# minor, dan sebagainya. Secara garis besar, turunan yang bisa dihasilkan oleh akor tertian terbentuk atas tiga hal, yaitu melalui ekstensi (extension), alterasi (alteration), dan substitusi (substitution). Ekstensi merupakan turunan akor berdasarkan superimpose (menempatkan nada di atas) secara teratur, misalnya akor C mayor 9, G 7-5, D minor-mayor 7, dan sebagainya. Alterasi memili kesamaan dengan ekstensi, namun dalam alterasi superimpose yang dibentuk tidak teratur. Alterasi lebih dikenal dengan sebutan added note atau added chords, misalnya C add 9, A 11, dan sebagainya. Sedangkan untuk substitusi, sebenarnya bukanlah cara atau sistem pembentuk turunan akor tertian baru, melainkan mengganti akor tertian dengan akor tertian yang lainnya.

Seperti yang pernah disampaikan oleh Diecky selaku mentor kelas ini, yaitu “Komposisi merupakan lahan kreatif untuk memahami dan membuat musik dengan tata krama tertentu secara menarik”. Maka dengan memahami seluk beluk musik secara mendalam, kita akan semakin kaya akan pengetahuan musik, menikmati musik bukan hanya pada taraf selera, dan lebih kreatif dalam ide-ide musikal yang berlimpah. Pada akhir kelas, peserta akan mempresentasikan karya-karyanya di Garasi 10. Mari kita tunggu tanggal mainnya!.

Diecky K. Indrapraja

Previous
Next Post »