Kelas Filsafat Eksistensialisme: Membongkar Masa Lalu

Jumat, 2 Maret 2012

Kelas Filsafat Eksistensialisme asuhan Kang Rosihan Fahmi (Ami) memasuki pertemuan yang kedua. Kelas yang khusus membahas eksistensialisme Soren A. Kierkegaard ini punya kesan "gelap" karena yang dibahas adalah kedalaman individu: manusia sebagai entitas yang unik.

Soren A. Kierkegaard. Gambar diambil dari Wikipedia.

Kang Ami punya tips untuk mendekatkan para peserta pada filsafat ini, yaitu dengan "curhat". Penting untuk disadari bahwa filsafat eksistensialisme memang memandang manusia sebagai eksistensi yang memberi makna segala sesuatu. Curhat membuat kita sadar akan keotentikan diri kita sendiri. Supir taksi akan dilihat sebagai supir taksi, namun ketika ia curhat dan menumpahkan segala kesusahan, ia menjadi manusia dengan segala otentisitasnya. 

Kang Ami menjadikan masa lalu sebagai topiknya. Ia mula-mula bertanya pada para peserta, "Apa yang menurut kalian paling jauh? Dan apa yang menurut kalian paling dekat?" Nanda menjawab, "Paling jauh adalah diri saya sendiri. Paling deket adalah diri saya sendiri." Kang Ami kemudian membuat alternatif jawaban dari Al-Ghazali. Katanya, "Yang paling dekat adalah kematian, yang paling jauh adalah masa lalu." 

Jauh adalah karena ia tidak mungkin digapai kembali. Namun bagi eksistensi tertentu, masa lalu secara visual kerap masih amat dekat. Kang Ami memberi contoh, ia pernah dipukuli oleh bapaknya karena bolos mengaji. Ami berkata, "Biarpun saya kala itu masih kelas 1 SD, tapi bayangan saya tentang kejadian itu masihlah sangat jelas." Satu per satu kemudian peserta digali pengalaman eksistensialnya tentang masa lalu. Sesi menjadi cukup panjang dan kelas berakhir pukul 22.30 dari jadwal asalinya yaitu 21.00. Namun ketika ditanya pada Faisal bagaimana perasaannya pasca kelas yang mewajibkan curhat masa lalu, katanya, "Lega!"

Jika mau mencocok-cocokkan, maka simak pengantar kelas filsafat eksistensialisme di sini. Katanya, "pabila kita sedang bermasalah gak perlu repot-repot datang ke psikolog atawa psikiater, setidaknya cukup bekali diri kita dengan pemikiran, pengalaman dan pembatinan para eksistensialis."

Previous
Next Post »