Kelas Cabang-Cabang Filsafat: Mengurai Apa yang Indah

Kamis, 15 Maret 2012

Kelas Garasi Cabang-Cabang Filsafat memasuki pertemuan kelima. Yang diangkat kali ini adalah tentang estetika. Karena estetika membahas tentang hakikat keindahan, maka pertemuan kelas itu sendiri tidak hanya berisikan bicara, melainkan juga diselingi film dan musik.

Satu jam pertama kelas adalah menyaksikan film How Art Made The World. Film dokumenter yang berdurasi lima jam itu, ditonton bagian pertama saja, yaitu tentang mengapa manusia menyukai seni. Film tersebut melacak asal muasal kesukaan manusia pada seni, jauh ke ribuan tahun lalu. Kajian dimulai dengan penelitian terhadap patung Venus of Willendorf yang berusia hampir 25.000 tahun. Menurut penelitian Prof. Ramachandran, seorang neurologis, bentuk tubuh Venus ini tidak direalistis dan berlebih-lebihan. Kesimpulan itu menyuguhkan kemungkinan tentang mengapa manusia suka seni: Karena manusia tidak suka realitas, maka itu diciptakanlah gambar lain, yang dilebih-lebihkan menjauhi realitas.

 Venus of Willendorf. Gambar diambil dari sini.

Setelah menyaksikan film, dimulai pembahasan tentang apa itu estetika. Plato mengatakan bahwa yang indah adalah cerminan dari "Yang Ideal". Sedangkan Aristoteles dengan tegas menolaknya, yang indah itu haruslah harmonis, simetris, tidak cacat, dan sempurna. Jika Plato dan Aristoteles mengandaikan ada objek yang betul-betul indah, tidak sedemikian halnya dengan Immanuel Kant yang mengatakan bahwa faculty of taste atau elemen-elemen tentang keindahan sudah secara a priori tertanam dalam pemikiran kita. Yang dilakukan oleh benda-benda adalah merangsang faculty of taste tersebut.

Teori-teori tersebut kemudian dicoba diterapkan lewat slide yang menanyangkan berbagai gambar. Awalnya pemahaman tentang yang indah itu pasti baik, yang baik itu indah, masih tepat di karya-karya renaisans hingga klasik. Namun pergeseran mulai terjadi ketika karya-karya romantik dan abad ke-20. Ternyata karya itu tidak harus memberikan rasa nyaman, tapi ada juga yang justru mengganggu dan menggelisahkan. Seperti Marcel Duchamp yang menyuguhkan karya berjudul The Fountain, yaitu urinoir yang hanya ditandatangan dan dipajang di galeri. Artinya, teori Plato, Aristoteles, dan Kant sekaligus runtuh karena ternyata seni adalah apa yang ingin orang anggap itu seni. Puncaknya, Rudolf Schwarzkogler melakukan aksi memotong penisnya sendiri sebagai bentuk karya seninya.

Di akhir pembahasan, Pak Bambang Sapto mengeluarkan karya seni-nya untuk dibahas bersama. Ia melukis potret diri dengan sajak Wing Kardjo di bagian kiri atasnya. Di gambarnya itu, terdapat gambar burung, katanya, "Saya kalau piara burung selalu mati, ini jadi pertanyaan yang terus menggelayut." Lalu ada bulatan kecil di atas kepalanya, itu menunjukkan pemikiran seseorang yang sudah bulat, atau dalam bahasa Sundanya, masagi. Setelah Pak Bambang menyelesaikan presentasinya, berikutnya Esoy menghadirkan karya miliknya yaitu video art. Isinya adalah tentang seniman gondrong yang kemudian direkonstruksi oleh industri sehingga ia berambut pendek, sehingga ia tidak lagi jadi dirinya.

Kelas hari itu relatif padat dan interaktif. Kelas baru bubar pukul 23 dengan pertanyaan yang masih menggelayut: Adakah yang indah itu, jika ternyata indah itu sendiri bisa dikonstruksi?



Previous
Next Post »