Kelas Cabang-Cabang Filsafat: Agama sebagai Pemikiran Filosofis

Kamis, 22 Maret 2012

Kelas Garasi Cabang-Cabang Filsafat memasuki pertemuannya yang keenam. Apa yang dibahas kali ini adalah tentang Filsafat Agama. Filsafat agama melihat agama bukan sebagai jalan hidup yang seringkali resisten terhadap kritik, melainkan justru menyelidiki agama dalam kemungkinannya sebagai manifestasi akal sehat manusia. Pada titik itu, agama bisa diurai sebagaimana halnya pemikiran-pemikiran filosofis lainnya.

Sejak menit pertama, peserta langsung ditanyai tentang apa yang dipikirkan pertama kali jika mendengar kata "agama". Jawabannya beragam, mulai dari ritual, umat, kitab suci, hingga tentu saja: Tuhan. Soal Tuhan, dimulai dari pemahaman agama-agama tentang Tuhan sendiri, yang secara umum biasanya terbagi atas monoteisme, politeisme, juga panteisme, panenteisme, dan deisme. Monoteisme adalah "Tuhan yang satu", biasa dipahami oleh agama-agama Abrahamistik seperti Islam, Kristen, dan Yahudi. Meskipun Hindu sering disebut sebagai politeisme, namun hal tersebut bisa jadi perdebatan, karena politeisme mensyaratkan adanya banyak Tuhan yang masing-masing berdiri sendiri. Namun Hindu sebetulnya tetap bermuara ke satu konsep final, yaitu Brahman. Pada titik ini, Hindu adalah juga monoteisme.

Soal umat, pembicaraan dialihkan ke pemikiran Alfred North Whitehead. Dalam tulisan yang disarikan oleh Alois A. Nugroho, Whitehead mengatakan tiga tahap evolusi agama, yaitu bermula dari agama suku, agama individual, hingga ke agama dunia. Maksudnya, pada mulanya agama adalah naluri kesukuan, sebuah kebutuhan akan yang maha untuk memenuhi kepentingan-kepentingan kelompok. Namun pada akhirnya, akan ada individu yang mengambil jarak, merenungkan keagamaan itu pada tingkat yang individual. Pada perenungan itu, ia akhirnya menemukan sesuatu yang universal, yang mungkin saja dimiliki oleh orang-orang di dunia. Pada tingkatan itu, agama menjadi agama dunia, dan umat menjadi umat yang universal.

Sedangkan perihal kitab suci, yang disinggung adalah kenyataan bahwa di dalamnya terkandung juga dogma-dogma. Hal yang disebut Bambang Sugiharto sebagai "Pernyataan yang ingin diperlakukan sebagai kenyataan." Padahal, jika ingin diulas, dogma itu sendiri seringkali bertentangan dengan kesadaran harian, atau juga common sense. Banyak sekali cara-cara untuk menangkap realitas ilahi tanpa harus terpenjara kekakuan dogma. Dogma, pada kenyataannya, sering ditafsirkan kembali oleh nalar manusia untuk kepentingannya. Atau, justru, harus ditafsirkan kembali, karena kata Whitehead, "Tuhan masih ada hingga sekarang, terus hidup, dan berevolusi. Kita bukan berpegang pada Tuhan masa lampau."

Sedangkan mengenai ritual, terasa sekali bahwa agama mensyaratkan adanya ritual sebagai sesuatu yang disebut Whitehead sebagai "penyambung emosi". Namun tidak hanya itu, ritual juga adalah bentuk disiplin tubuh. Hampir semua kepercayaan menyatakan pentingnya disiplin tubuh sebagai prasyarat sampainya roh pada yang Ilah. 


Glosarium:
Panteisme: Paham yang menyatakan bahwa Tuhan adalah imanen, ia adalah alam semesta itu sendiri, melebur bersamanya.
Deisme: Paham yang menyatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia dan berada di luarnya. Dunia diciptakan bersama hukum alam dan kemudian setelah itu Tuhan "menganggur".
Panenteisme: Tuhan adalah imanen sekaligus transenden. Ia menciptakan, kemudian ikut berada di dalamnya.
Previous
Next Post »