Topik Diskusi: Kasundaan Urang Sunda Kiwari

Pembicara: Prof. Tjetjep Rohendi Rohidi (Guru Besar Antropologi Unnes) dan Prof. Cece Sobarna (Guru Besar Linguistik Unpad)
Moderator: Patra Aditia
 
Minggu, 11 Maret 2012
Garasi 10, Jl. Rebana no. 10, Bandung
Pk. 19.00 - 21.00
Gratis dan terbuka untuk umum


Gambar diambil dari sini.


"Tuhan menciptakan pelita untuk membuat manusia bersatu dengan sang pencipta. Namun dimanakah cahaya itu? Para jin menyembunyikan pelita itu dalam diri manusia. Kebanyakan manusia mencari pelita ke luar, padahal ia bersemayam di dalam." (Kisah dari Mitologi India)

Pernah ada masa dimana pembahasaan mengenai kebudayaan Timur adalah sesuatu yang kurang bergengsi. Pengaruh kolonialisme yang mendominasi hubungan Barat-Timur dari sejak Renaisans Eropa hingga Perang Dunia II, membentuk suatu imej bahwa kiblat bagi orang-orang Timur adalah kebudayaan Barat. Barat identik dengan kemajuan, rasionalitas, pencerahan, dan peradaban. Sedangkan Timur kerap dikaitkan dengan kemandegan, irrasionalitas, dan terlalu bersahabat dengan alam -bertentangan dengan paradigma Comtean bahwa manusia harus mengobjekkan alam-.

Pada akhirnya, sebuah cara pandang filsafat bernama Posmodernisme membuka suatu kesadaran baru: Bahwa stereotip-stereotip yang mengecilkan Timur, ternyata semata-mata berasal dari cara pandang Barat. Problemnya bukan apakah timur betul-betul identik dengan Irrasionalitas, namun mari kita melihat dengan jernih, dari kacamata Timur, dari kacamata kita sendiri: Betulkah kita "semundur" itu?

Di bidang sains, peluang untuk melihat dunia Timur secara lebih jernih juga didukung oleh paradigma konstruktivisme yang justru berkembang di Barat. Sebelumnya, positivisme begitu angkuh dan dingin dalam menciptakan suatu kebenaran tunggal, objektif, dan pola-pola universal. Konstruktivisme tampil ke permukaan dan dengan lantang menyerukan: Ketunggalan, objektifitas, dan pola-pola universal mungkin bisa diterapkan pada alam semesta, namun tidak bagi manusia. Manusia adalah unik, pola manusia tidak universal, dan pada akhirnya tidak perlu mencari-cari universalitas itu sendiri, melainkan - via konstruktivisme- tujuan sains adalah melukiskan keunikan.

Indonesia adalah negeri yang terkandung di dalamnya pelbagai keunikan dalam konteks manusia tersebut. Etnis, tradisi, ritual, dan hal-hal lain yang pernah sedemikian dianggap irrasional oleh Barat, justru amat berkembang di kita. Indonesia menjadi ladang subur bagi penelitian-penelitian kebudayaan. Kecenderungan ini tidak lepas dari kenyataan bahwa modernisme Barat pada titik tertentu adalah sebuah destruksi diri. Kemajuan teknologi adalah kemunduran bagi kemanusiaan itu sendiri. Di Indonesia, apa yang disebut irasional sebelumnya seperti penghormatan terhadap alam dan leluhur, justru menjadi begitu menarik untuk dikaji. Ternyata kegiatan-kegiatan itu bukanlah sesuatu yang absurd dan meaningless, melainkan suatu cara manusia Indonesia untuk memelihara hubungan antara diri dan semesta, untuk menjaga dari hal-hal yang begitu menyerang peradaban Barat: kekosongan batin. Ketika kita menjadi sedemikian naik daun dari segi kekayaan kultural, maka tantangan itu sekarang disematkan pada kita sendiri: Apakah manusia Indonesia hari ini akan sanggup mengatasi tantangan jaman, atau malah menjadi suatu destruksi diri yang baru?

Pembahasan mengenai kebudayaan lokal tidak lagi harus mempertimbangkan gengsi Timur- Barat. Pada praktiknya, di Barat sendiri, diskusi kebudayaan sudah lama berkiblat ke Timur sebagai wilayah yang begitu kental mempertahankan akar tradisi. Dalam diskusi di Garasi 10 Minggu nanti, mari kita membicarakan Timur sebagai Timur. Sebagai dirinya yang unik dan berbeda dengan yang lain. Secara spesifik, mari kita membicarakan urang Sunda, sebagai sentral lebenswelt (dunia kehidupan) kita. Mencari ke dalam diri, mencari pelita yang sudah bersemayam sejak lama.


Previous
Next Post »