MENYIMAK PERGESERAN PARADIGMATIK DALAM PENDIDIKAN TINGGI SENI DI INDONESIA

Oleh: Prof. DR. Setiawan Sabana, M.FA

Pada tanggal 23 Februari 2012 bertempat di Ruang Seminar FSRD ITB, Setiawan Sabana yang juga penggagas Garasi 10 didaulat sebagai keynote speaker dalam Seminar Nasional Seni Rupa bertajuk "Kondisi Seni Rupa Global Dikaji dari Pandangan Pendidikan".

 Berikut ini cuplikan makalah dalam seminar tersebut:
(makalah lengkapnya bisa dilihat di sini)


Panorama Tumpang-tindih Pendidikan Tinggi Seni Kini 

Terdapat beberapa model pendidikan tinggi seni yang sedang berkembang. Pertama, pendidikan tinggi seni yang berada dalam ranah Institut Seni Indonesia (ISI): ISI Yogyakarta, ISI Solo, ISI Denpasar, dan ISI Padangpanjang. Yang lain adalah Institusi pendidikan tinggi seni dengan status Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang masih ada di Bandung (STSI Bandung). Peningkatan status setelah STSI adalah Institut Seni Indonesia (ISI). Menurut informasi, dalam waktu dekat status STSI Bandung akan meningkat  menjadi ISI Bandung. Selain ISI dan STSI, masih ada status/model lain yaitu Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pendidikan model ISI pada umumnya menawarkan berbagai bidang seni: Tari, Teater, Karawitan, Rupa, Desain, Media Rekam, Sinematografi, Musik Barat, Pedalangan. dan sebagainya, bergantung pada potensi lokalnya. Pendidikan model ISI sepertinya menjadi primadona pendidikan tinggi seni di Indonesia. Isu terakhir Depdikbud lewat Ditjen Dikti hendak menerapkan istilah Seni Budaya bagi ISI, menjadi ISBI, Institut Seni Budaya Indonesia.

Model yang lain adalah Institusi pendidikan tinggi seni yang berstatus fakultas yang berada dalam suatu universitas (negeri atau swasta). Contoh: Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha Bandung, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti, dan lain-lain. Mereka eksis dan beraktifitas mandiri dalam naungan konsep statuta universitasnya masing-masing. Bidang seni yang diajarkan cenderung terfokus pada disiplin seni rupa dan desain. Institusi seperti ini hadir di dalam satu universitas yang mencakup berbagai rumpun keilmuan lain. Seni hanya salah satu di antaranya. Pendidikan seni diapresiasi keberadaannya bersama disiplin-disiplin ilmu yang lain. Meskipun pada kenyataannya keunikan studi seni dengan berbagai aspeknya masih belum bisa dimaklumi setara dengan keilmuan yang lain. Penyepelean kadangkala masih terjadi.

Berikutnya adalah model pendidikan tinggi seni yang berada di perguruan tinggi mantan IKIP, seperti Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Surabaya, Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makasar, Fakultas Bahasa, Sastra dan Seni Universitas Negeri Padang, dan lain-lain. Institusi pendidikan tinggi seni model ini telah mengaplikasikan nama “Bahasa dan Seni” dengan menggarisbawahi ilmu kependidikan (pedagogi) dan keguruan sebagai substansinya. Dalam perkembangannya mereka mengakomodasi pula pendidikan keprofesian/praktik seni, seperti halnya yang diselenggarakan di ISI.

Perkembangan mutakhir adalah munculnya peristilahan “ilmu budaya” yang diterapkan pada suatu fakultas. Sebagai contoh, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran belum lama berganti nama menjadi  Fakultas Ilmu Budaya. Teks “budaya” kian mengemuka dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Fakultas seperti ini punya keleluasaan untuk mengakomodasi disiplin keilmuan “apapun”, karena teks budaya dapat mengakomodasi fenomena keilmuan yang luas cakupannya. Jalur minat Kajian Seni menjadi bagian di dalamnya.

Ketika teks “budaya” diterapkan, maka ada ruang-ruang keilmuan yang tumpang tindih, karena secara konten/substansi ia berada dalam pendidikan di ISI/STSI/IKJ, fakultas-fakultas seni di bawah universitas, dan fakultas-fakultas pendidikan seni mantan IKIP, bahkan dengan keilmuan budaya yang selama ini telah dikembangkan dalam Antropologi.

Dalam hal penjenjangan pendidikan berkembang program pasca sarjana, program magister (S2) dan doktoral (S3). Pendidikan program pasca sarjana pada intinya adalah kegiatan penelitian, baik berupa kajian maupun kekaryaan (penciptaan seni). Dengan demikian lulusan program pasca sarjana adalah mereka yang memiliki sikap mental dan kerja sebagai seorang peneliti. Hasil-hasil penelitian ke depan, pada gilirannya, akan menunjang kualifikasi atau mutu karya dan kajian seni (ilmu seni) baik dalam tataran akademik maupun keprofesian di masyarakat. Sebagai konsekuensinya, mengemuka pentingnya kegiatan seminar nasional dan internasional (output: prosiding nasional/internasioanal) serta penerbitan jurnal nasional terakreditasi dan jurnal internasional. Terakhir Ditjen Dikti merencanakan pemuatan artikel pada jurnal ilmiah akan menjadi bagian dari kelulusan mulai dari program sarjana, magister hingga doktoral.

Dalam situasi dan kondisi penuh pergeseran tsb., perguruan tinggi seni telah melahirkan banyak pelaku-pelaku seni di masyarakat. Seniman/perupa yang tampil dalam arena kesenian nasional dan internasional berpredikat sarjana/magister/bahkan doktor. Institusi formal pendidikan tinggi seni menjadi tulang punggung atau laboratorium yang melahirkan seniman dan intelektual seni yang kemudian mengisi posisi-posisi penting dalam perhelatan medan sosial seni di negeri ini.

Previous
Next Post »