Bambang Sapto: Mengabdi di Masa Pensiun

Kehadiran Pak Bambang Sapto di Kelas Garasi: Cabang-Cabang Filsafat, menarik perhatian para peserta kelas tersebut. Selain usianya paling tua di antara yang hadir, ia jarang memberikan komentar kecuali jika ditanya.  Latar belakang pendidikan formalnya adalah seni rupa, pernah kuliah di ASRI jogja, ITB tapi menyelasaikan studinya di IKIP Bandung. Saat ini beliau telah pensiun sebagai pengajar di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Namun demikian, beliau lebih memilih istilah ‘mengabdi’ untuk menjelaskan profesinya, dari pada kata ‘bekerja’ . Bekerja berkaitan dengan memetik ataupun mendapat imbalan dari hasil tertentu. Sedangkan mengabdi lebih bersifat melayani  antar sesama manusia dan tanpa pamrih.  

Ketika Garasi 10 mendatangkan Bambang Sugiharto dalam kuliah terbuka tentang Filsafat Kebudayaan, bulan lalu (Januari 2012), saat itulah Bambang Sapto mengetahui adanya kelas filsafat yang diselenggarakan oleh Garasi 10. Atas dasar itulah beliau menyediakan waktunya untuk menghadiri kelas Garasi: Cabang-cabang filsafat.

Ketertarikannya dengan dunia filsafat adalah kegemarannya menonton wayang kulit saat kecil. Menurutnya, wayang kulit itu menggambarkan sejarah, perilaku, dan peradaban manusia. Seiring dengan waktu, beliau banyak bertemu dengan orang-orang yang menyukai filsafat, disamping kegemarannya membaca buku-buku jenis ini.  Ada hubungan yang sangat erat antara seni dengan filsafat. Menurutnya, induk dari semua ilmu adalah filsafat, maka sangat wajar jika ia sangat tertarik dengan filsafat.

Tema pertemuan kelas garasi terakhir adalah Logika, materi digiring menuju tema ‘kerancuan berpikir manusia saat ini’. Kelas tersebut juga menyuguhkan tontonan film 12 Angry Man. Komentarnya beliau setelah pemutaran film tersebut cukup menggelitik, yaitu ‘ngono yo ngono ning ojo ngono’, yang terjemahan bebasnya kurang lebih ‘boleh saja begitu, tapi ya jangan begitu-begitu amat’. Baginya, kalimat paradoks dari Jawa itu merangsang manusia untuk terus berdialog dengan diri, menemukan makna dibaliknya.

Sutrisna.

Previous
Next Post »