Perjalanan Kelas Garasi: Filsafat Ilmu (3 November 2011 - 8 Januari 2012)


Kelas Garasi: Filsafat Ilmu

Tulisan ini adalah intisari dari Kelas Garasi: Filsafat Ilmu yang diadakan di Garasi 10 dari tanggal 3 November 2011 - 8 Januari 2012.

Dalam buku Filsafat Ilmu yang ditulis oleh Jujun S. Suriasumantri, ada contoh yang bagus tentang bagaimana situasi ilmu pengetahuan hari ini, lewat percakapan dengan ahli burung betet:

"Bagaimana membedakan burung betet betina dan burung betet jantan?"
"Gampang. Burung betet betina makan cacing jantan, burung betet jantan makan cacing betina."
"Lantas bagaimana membedakan cacing jantan dan cacing betina?"
"Oh, kalau yang itu tanyakan saja pada ahli cacing."

Sejak Abad Pertengahan, dunia pengetahuan mulai dicabang-cabang dengan sebutan quadrivium. Quadrivium mencakup aritmatika, geometri, musik, dan astronomi. Tujuan dari quadrivium ternyata untuk persiapan belajar filsafat dan teologi secara lebih serius nantinya! Ketika ilmu pengetahuan modern semakin berkembang lewat sumbangsih mula-mula dari metode Francis Bacon, percabangan itu semakin banyak dan kita temui hingga hari ini, hingga banyak dari kita membutuhkan psikotes untuk memilih jurusan yang akan dimasuki.

Problemnya adalah banyak diantara kita lupa bahwa filsafat adalah mother of science. Bahwa pada mulanya, sebelum segala diputuskan (oleh sains Baconian) harus obervatif dan mampu dieksperimentasi, manusia mencari-cari yang sejati dengan nalarnya sendiri. Maka itu sesungguhnya peran filsafat dalam sains tidak bisa dilupakan. Bahkan pada tataran tertentu, ketika pertanyaan saintifik memasuki hal yang mendalam seperti "Apakah waktu itu?", "Apakah materi itu?", maka sesungguhnya sains juga sudah "kembali pada jatidiri": pada filsafat. 

Dalam tataran praksis, kerinduan pada jatidiri itu ada dengan mata kuliah jurusan ilmu yang selalu diselipkan di hampir setiap jurusan. Problemnya adalah, apa yang diajarkan seringkali tidak sesuai dengan tujuan dari filsafat ilmu sendiri. Seperti kata salah seorang siswa kelas garasi, Rahardianto, "Di kampus saya, filsafat ilmu jadi belajar tentang variabel permintaan dan penawaran pada pasar." Kata Prof. Tjetjep Rohendi, dosen dari UNES, hal itu disebabkan karena, "Filsafat ilmu dianggap tempelan belaka, jadi anggapannya, semua dosen bisa mengajar filsafat ilmu."

Apa yang diajarkan di Garasi 10 tentang filsafat ilmu barangkali juga belum tentu sesuai dengan "apa yang sudah baku". Baku atau tidak, semoga ada faedahnya untuk ya itu, tidak naif terhadap sains dan cabang-cabangnya.

Pertemuan ke-1: Pengantar

Salah satu ciri khas nalar manusia adalah melakukan induksi, atau menyimpulkan hal yang general dari yang partikular, atau menyimpulkan yang keseluruhan dari yang sebagian, atau menyimpulkan yang umum dari yang khusus. Misalnya, si Fulan berkata, "Restoran paling enak di dunia adalah Ampera," temannya menyahut, "Oh ya? Ampera mana yang kamu kunjungi?" Dijawab si Fulan, "Ampera Buah Batu." "Apa yang kamu makan?" "Ayam goreng". Apa yang dilakukan si Fulan adalah kesimpulan khas nalar, menjawab restoran paling enak di dunia adalah Ampera dengan hanya makan di satu cabang Ampera dan satu menu saja. 

Sains bagaimanapun punya sifat itu, sifat yang sesungguhnya sangat dasariah ada pada setiap nalar manusia. Hanya saja sains mencoba menghindari "kekeliruan" dengan cara observasi, eksperimentasi, dan hipotesis yang "lurus". Namun kenyataan bahwa sains nantinya menjadi bercabang, berkubu, dan mengklaim metode-metode lain untuk mencapai kebenaran, menunjukkan bahwa generalisasi selalu menyimpan masalah.


Pertemuan ke-2: Sumber Pengetahuan

Dari manakah pengetahuan kita berasal? Bagaimana kita tahu meja itu segi empat dan ban mobil itu bulat? Mungkin kita bisa bilang memang demikian halnya, seperti apa yang terlihat. Tapi pernahkah berpikir lebih jauh, bahwa jangan-jangan kita mengatakan ban mobil itu bulat oleh sebab konsepsi bentuk geometri bulat yang pernah kita kenal sebelumnya? Maksud dari sebelum, bukanlah sebelum dalam arti semasa kecil kita belajar bangun ruang dari matematika, tapi barangkali konsep-konsep geometri ini sudah terberi, alias ide bawaan ketika lahir. Mungkinkah?

Atau jangan-jangan manusia ini lahir kosong, tanpa konsepsi apa-apa, dan kehidupan ini menulisi kekosongan itu. Jika demikian halnya, maka manusia adalah tergantung dari apa yang ia cerap indranya, atau secara lebih luas, manusia adalah tergantung dari lingkungannya. Bagaimana jika kita percaya gabungan keduanya? Misalnya, ada konsep yang memang terberi sebelum lahir, namun ada juga pengalaman-pengalaman yang kita kumpulkan semasa hidup.

Inilah perdebatan yang paling hangat dan selalu hangat dalam sejarah pemikiran Barat. Selalu mempertanyakan sesungguhnya dari mana asal muasal pengetahuan kita.

  • Rasionalisme
Rene Descartes
Rasionalisme adalah mereka yang secara ekstrim menolak bentuk pengetahuan berdasarkan pengalaman manusia. Katanya, bisa saja ini menipu, dan sebaiknya kita percaya dengan rasio saja yang jelas-jelas merupakan innate alias ide bawaan. Yang paling terkenal tentu saja Rene Descartes dengan cogito ergo sum-nya atau “aku berpikir, maka aku ada”. Katanya, lewat kemampuan rasio kita, kita akan sanggup membuktikan keberadaan kita sendiri. Rasionalisme adalah bentuk pemikiran yang mengandalkan metode deduktif, yakni dari umum ke khusus. Fenomena-fenomena indrawi jelas mereka tolak, dan yang mereka imani cuma pikiran. Kata Descartes, “Selapar apapun kita, jumlah sisi dalam segitiga tetaplah tiga.”
 Rene Descartes
  • Empirisisme
David Hume
Inilah lawan berat rasionalisme. Mereka menghancurkannya dengan satu kalimat saja, “Bagaimana anda tahu?” Misalnya, “Bagaimana anda tahu innate alias ide bawaan itu ada?” Tentu saja, kata empirisisme, mereka tidak sanggup menjawabnya oleh sebab pengalaman tentang innate itu sendiri hanyalah ilusi. Yang nyata adalah apa yang bisa dicerap indra. Secara ekstrim, David Hume malah berkata bahwa sebab-akibat atau kausalitas itu sendiri adalah ilusi. “Kaca pecah karena batu adalah ilusi. Kita tidak mempunyai pengetahuan kausalitas apapun. Yang ada hanya kronologi kaca pecah setelah batu melewatinya,” demikian secara tidak langsung Hume mengatakan demikian. Empirisisme sekaligus percaya bahwa manusia lahir kosong (tabula rasa), yang kemudian pengalaman demi pengalaman indrawi menulisi kekosongan itu.

  • Kritisisme
Immanuel Kant
Kemudian, di tengah pertempuran sengit kedua paham tersebut, lahir seorang Immanuel Kant yang mendamaikan keduanya.  Kant mengatakan bahwa Hume ada benarnya, bahwa kita mendapatkan pengalaman dari pengetahuan kita sehari-hari, atau Kant mengatakannya dengan aposteriori. Namun ada juga yang kita bawa dari lahir, yaitu kacamata bahwa segala-galanya ada dalam ruang dan waktu. Fenomena apapun, selalu kita tempatkan dalam ruang dan waktu. Kant pun menambahkan bahwa kausalitas adalah suatu keniscayaan, bahwa, “Kalau bola tiga kali jatuh ke lantai, maka pasti kita menyimpulkan bahwa keempat kalinya akan jatuh ke lantai, meskipun kita tidak punya pengetahuan tentang itu.”



Pertemuan ke-3: Positivisme 

“Ukurlah apa yang dapat diukur dan buatlah agar dapat diukur sesuatu yang tidak dapat diukur.” –Galileo Galilei

  • Francis Bacon
Francis Bacon
Bacon disebut sebagai “Bapak metode ilmiah”. Orang pertama yang mencetuskan suatu cara untuk menelaah sesuatu yang sekarang disebut ilmiah alias scientific method. Bacon mengatakan bahwa yang ilmiah adalah memang digeneralisasi dari apa yang kelihatan atau empirik. Itu mengapa metodenya disebut dengan metode empiris. Namun bukan itu saja, ia mengajak kita berhati-hati, sebelum menggeneralisasi, ada baiknya mengenali empat kesalahan/godaan berpikir, yang ia sebut sebagai idola:
  1. Idola trubus: Menarik kesimpulan tanpa dasar secukupnya, berhenti pada sebab-sebab yang diperiksa secara dangkal. Kecenderungan untuk percaya pada bukti yang disodorkan pancaindra dengan membiarkan penilaian kita diwarnai oleh perasaan. 
  2. Idola specus: Menarik kesimpulan berdasarkan prasangka, prejudice, dan selera a priori. Seperti subjektivitas yang diliputi oleh chauvinisme, seksisme, atau latar belakang budaya dan agama 
  3. Idola fori: Menarik kesimpulan berdasarkan pendapat umum, atau bisa juga oleh kesalahpahaman bahasa. Ada dua cara kata-kata menipu kita, kata Bacon. Pertama, kata yang sama dapat memiliki sejumlah arti yang berbeda bagi orang-orang yang berbeda. Kedua, manusia memiliki kecenderungan untuk mencampuradukkan bahasa dengan kenyataan.
  4. Idola theatri: Menarik kesimpulan berdasarkan ideologi, kekuasaan, atau pendapat-pendapat para filsuf. Bisa juga oleh sebab dogma serta kepercayaan mistis.
Bacon adalah cikal bakal positivisme, suatu pandangan yang berdasarkan pengamatan empirisnya, kemudian mengklaim bahwa sains mestilah objektif dan bebas nilai, serta mempunyai sifat universal. Hal yang diteruskan dengan sangat bersemangat oleh August Comte ratusan tahun kemudian.

  • August Comte

August Comte
Comte bahwa perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap. Yang pertama, yang paling primitif, adalah tahap teologis. Ini adalah fase dimana manusia memandang segala sesuatu berasal dari dewa, ruh, atau Tuhan. Yang berikutnya adalah tahap metafisik, yang memandang segala sesuatu atas pengertian-pengertian metafisik seperti subtansi, sebab, prinsip pertama atau form. Yang terakhir adalah tahap positif, tahap dimana alam pikir manusia mengadakan pencarian pada ilmu absolut, mencari kemauan terakhir dan sebab pertama berdasarkan metode ilmiah. Metode ilmiah yang dimaksud Comte adalah observasi, eksperimentasi, dan komparasi.

Comte juga mengajak kita untuk memahami objek positif, yang terlebih dahulu memilah dengan pasti tentang mana ‘yang nyata’ dan mana ‘yang khayal’; mana ‘yang pasti’ dan mana ‘yang meragukan’, mana ‘yang berguna’ dan ‘yang sia-sia’, mana ‘yang mutlak’ dan ‘yang relatif’. Comte adalah peletak dasar distingsi ilmu pengetahuan yang ketat dengan metode-metodenya yang juga ketat. Ia percaya pada ‘agama kemanusiaan’, semacam agama yang disandarkan pada sains dan kesahihan metodenya. Comte tidak hanya berkutat di wilayah ilmu pengetahuan alam, ia juga masuk ke ranah sosial, dimana kepercayaannya juga disertakan. Ia percaya bahwa hubungan manusia bisa dibaca secara pasti, empirik, dan objektif. Maka itu lewat Comte turut lahir juga ilmu sosiologi.

Pertemuan ke-4: Positivisme Logis vs Karl Popper
Awal abad ke-20, filsafat Barat disibukkan dengan problem bahasa. Berkembangnya metode ilmiah dengan positivisme sebagai sandarannya, membawa beberapa pemikir untuk lebih tegas terhadap mana yang riil dan mana yang bukan. Ada upaya penghancuran metafisika secara serius oleh kelompok ilmuwan dari Wina yang disebut dengan Lingkaran Wina atau Positivisme Logis. Pemikiran mereka terutama diinspirasi oleh pemikiran Ludwig Wittgenstein, seorang pemikir Austria yang lucunya, tidak pernah merasa pemikirannya diadopsi dengan baik oleh Lingkaran Wina.

  • Positivisme Logis

Kelompok Lingkaran Wina (ki-ka): Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, Hans Hahn and Philipp Frank.

Kelompok Lingkaran Wina atau Positivisme Logis berkembang pada tahun 1920-an. Bersama-sama mereka bersemangat untuk membuat sains terpadu atau unified science. Cita-citanya, sains diterapkan oleh satu bahasa yang sama, sehingga menghindari kekeliruan dalam membedakan mana yang bermakna (meaningful) dan mana yang tidak bermakna (meaningless). Untuk mencapai hal tersebut, terlebih dahulu diungkapkan sebuah pernyataan yang terkenal: “Pernyataan yang bermakna adalah yang terbuka kemungkinan terhadap verifikasi”.


Artinya, jika aku menyebut “Uang di tasmu ada seratus ribu rupiah” adalah bermakna karena membuka kemungkinan terhadap verifikasi. Persoalan apakah di tasnya ternyata hanya ada uang seribu rupiah itu lain soal karena yang terpenting adalah pernyataannya itu sendiri mempunyai makna. Demikian halnya dengan pernyataan “Apakah hari ini hujan?”, “Di Mars terdapat kehidupan”, atau “Apakah ya besok kita akan berjumpa?” adalah bermakna karena bisa dicek kebenarannya. Sebaliknya, pernyataan seperti “Membunuh itu dosa”, “Di akhirat ada bidadari perawan” atau “Tuhan duduk di atas singgasana” adalah meaningless oleh sebab tidak punya kemungkinan untuk dilakukan verifikasi.

Positivisme Logis kemudian lewat rumus tersebut dengan tegas menolak metafisika karena dianggap, “Tak lebih dari sekedar serangkaian pernyataan tak bermakna.” Mereka berharap setelah demarkasi tegas ini, sains bisa bersatu dalam satu bahasa yang bermakna.

  • Karl Popper
Karl Popper
 Karl Popper menolak dengan tegas pemikiran kaum Positivisme Logis. Katanya, pernyataan metafisika, meskipun tidak ilmiah dan tidak terbuka terhadap verifikasi, namun bukan berarti tidak bermakna. Ia bisa saja bermakna, bahkan bisa jadi benar. Untuk yang satu ini, ia menolak verifikasi dan lebih memilih metode falsifikasi. Katanya, “Sains dibangun berdasarkan falsifikasi dan bukan verifikasi.” Falsifikasi bermula dari hipotesis, misalnya, “Semua angsa berwarna putih”. Hipotesis itu dianggap benar hanya selama belum ditemukan angsa berwarna hitam. Kata Popper, “Semakin teori terbuka terhadap falsifikasi, maka semakin ilmiah teori itu.” Maka itu pernyataan seperti, “Hidup itu penuh anugerah” barangkali bermakna, namun ia tidak bisa menjadi suatu pernyataan ilmiah karena pernyataan semacam itu tidak terbuka cara untuk memfalsifikasi. 

Atas dasar itu, Popper menegaskan, “Bagi saya tidak ada yang namanya kebenaran. Yang ada adalah penangguhan: Segala sesuatu adalah benar sampai dibuktikan salah.” Pemikiran Popper ini menjadi cikal bakal metode post-positivism yang menekankan metode triangulasi, observasi partisipan, serta studi pustaka yang memadai. Post-positivism ingin memperbaiki paradigma positivisme yang terlalu kental dengan observasi yang terpisah, bebas nilai, dan behavioralistik. Post-positivism juga menolak klaim universalitas yang diambil dari partikularitas. Sesuatu yang bagi Popper dianggap sebagai “arogansi” positivisme.

Pertemuan ke-5: Paradigma 

Sudah bukan cerita baru jika anak kecil bertanya pada seorang kiai tentang siapa yang lebih dahulu: Nabi Adam atau manusia purba? Atau kita juga tahu betapa kalangan agamawan kerap kebakaran jenggot menghadapi teori evolusi Darwin. Bagaimana sesungguhnya menjawab hal-hal seperti itu? Apakah memang iya yang satu punya jawaban yang lebih benar daripada yang lain?

  • Thomas Kuhn

Thomas Kuhn
Thomas Kuhn (1922-1996) adalah orang yang bisa disebut sebagai penenang dalam pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Kata Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions (1962), paradigma adalah sistem keyakinan yang berkembang, lalu kokoh, namun kelak akan digoyang juga. Jadi untuk pertanyaan semacam contoh di atas, Kuhn akan menjawab, “Tentu saja tidak ada yang lebih benar karena keduanya berbeda paradigma. Ada sistem keyakinan yang berbeda dalam melihat suatu peristiwa dan mencari solusinya.” Kuhn memaparkan tentang paradigma ini dengan terlebih dahulu secara hati-hati mengamati sejarah ilmu pengetahuan. Kata Kuhn, perkembangan paradigma itu terbentuk dalam tiga tahap:
  1. Tahap pra-paradigma Ini adalah tahap dimana masyarakat mengajukan teori-teori secara terpisah. Kelompok A mengajukan teori untuk menyelesaikan persoalan di wilayah A, kelompok B mengajukan teori untuk menyelesaikan persoalan di wilayah B. Teori-teori ini tidak terhubung dan bisa dibilang “acak-acakan”.
  2. Sains normal (normal science) Periode ini adalah periode dimana teori-teori yang “acak-acakan” tadi mengalami keterhubungan satu sama lain oleh sebab kesamaan bahwa semuanya mampu menyelesaikan persoalan. Ini adalah periode yang Kuhn sebut sebagai puzzle solving. Seperti misalnya pemikiran Copernicus, Galileo, dan Newton punya satu kesamaan maka itu mereka bergabung dalam satu sistem keyakinan yang sama.     
  3. Sains revolusioner (revolutionary science) Ketika ada satu sistem keyakinan yang sama, sepaham, Kuhn melihat bahwa selalu ada saja metode yang revolusioner. Metode yang dianggap lebih baik dan sekaligus mengritisi kemapanan yang ada. Contohnya adalah Copernicus yang menentang paradigm Ptolemy bahwa bumi yang mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya. Sains revolusioner ini akan menjadi suatu bentuk tahapan pra-paradigma yang kemudian kembali menjadi cikal bakal sains normal dan seterusnya.
Pernyataan Thomas Kuhn ini mengguncang dunia sains yang pada masa itu sedang mengalami suatu keyakinan absolut terhadap kebenaran tunggal sains. Kata Kuhn, “Ah, itu cuma kesepahaman pandangan diantara kalian, masih banyak cara lain memandang dunia dan menyelesaikan problem di dalamnya.” Pada perkembangannya, beberapa ilmuwan merumuskan ada empat paradigma yakni positivisme, post-positivisme, konstruktivisme, dan critical theory.

Pertemuan ke-6: Ilmu-Ilmu Sosial

  • Batas-batas Positivisme

Positivisme, bagaimanapun juga, membawa suatu cara pandang baru bagi penyelesaian berbagai pertanyaan. Meski demikian, justru cara pandang itu juga menjadi persoalan baru, terutama ketika dikaitkan dengan manusia. August Comte begitu bersemangat untuk menerapkan positivisme pada manusia, tujuannya adalah meramalkan dan maka itu juga bisa mengontrol. Pertanyaannya: Bisakah manusia dikontrol? Kalaupun bisa, pastilah tidak sepenuhnya. Beberapa pemikir seperti Wilhelm Windelband mengakui bahwa ilmu sosial termasuk ke dalam idiografis atau bertujuan untuk “melukiskan keunikan”. Jadi ilmu sosial, dalam hal ini harus dijauhkan dari klaim berlebihan positivisme. Positivisme dicurigai kerapkali mereduksi dunia dengan metodologinya. Padahal, kata pemikir ilmu sosial, manusia itu harus “dialami langsung”.

  • Konstruktivisme

"the norm of the truth is to have made it," – Giambattista Vico

Giambattista Vico
Paradigma konstruktivisme adalah lawan berat positivisme dan post-positivisme. Ketika kedua nama terakhir percaya bahwa kebenaran itu out-there, konstruktivisme percaya bahwa kebenaran itu in-here, atau: subjektif, kebenaran itu adalah tergantung bagaimana kita mengonstruksi kebenaran itu sendiri. Dasar pemikiran ini sesungguhnya cukup kokoh jika dirunut dari awal misalnya dari pemikiran Yunani: Heraklitus mengatakan bahwa, “Segala sesuatu berubah. Satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri,” sejalan dengan Protagoras yang berkata, “Manusia adalah ukuran dari segala sesuatu.”

Kemudian, jika positivisme dan post-positivisme punya upaya menjadikan fenomena itu sebagai terprediksi dan terkontrol, maka konstruktivisme menganggap itu semua sia-sia. Kata konstruktivisme, fenomena itu hanya bisa dimaknai dan dibangun darinya sesuatu yang baru (konstruksi). Konstruktivisme menjadi jawaban serius bagi positivisme Comtean yang amat “ambisius” ingin memasuki ranah sosial setelah sebelumnya “sukses” diterapkan dalam ilmu alam. Contoh pemikiran konstruktivisme diantaranya adalah hermeneutika dan fenomenologi. Tokoh-tokoh konstruktivisme adalah Giambattista Vico, Alfred Schutz, Hans George Gadamer, Jean Piaget.

  • Fenomenologi
Konsep-konsep dasar:

Edmund Husserl
  1. Fenomenologi diperkenalkan pertama kali oleh Edmund Husserl (1859 – 1938). Ia mengritik positivisme yang mereduksi dunia dengan asumsi-asumsinya. Husserl mengatakan, “Apa yang disebut fenomena adalah realitas itu sendiri yang nampak setelah kesadaran kita cair dengan realitas.” Metode yang digunakan Husserl adalah dengan membiarkan fenomena itu berbicara sendiri tanpa dibarengi dengan prasangka (presuppositionless). Husserl kemudian mengatakan, bahwa fenomenologi harus dimulai dari epoche atau tanda kurung. Epoche berarti juga “menunda putusan” atau “mengosongkan diri dari keyakinan tertentu”. Ada contoh bagus dari Pak Bambang Sugiharto tentang epoche: “Jika meneliti air, positivisme akan menerapkan dulu metodenya, sedangkan fenomenologi menempatkan air pada epoche dulu, menunda asumsi. Sehingga ketika diteliti dan dipahami, makna air malah menjadi berlimpah, misalnya untuk bersuci, untuk upacara, untuk doa, atau untuk pengobatan. Air tidak disempitkan menjadi H2O seperti halnya kaum positivis.
  2.  Setelah asumsi ditinggalkan, maka tiba waktunya untuk mendalami fenomena itu sendiri. Kata Elliston, “Membiarkan apa yang menunjukkan dirinya sendiri dilihat melalui dirinya sendiri dan dalam batas-batas dirinya sendiri, sebagaimana ia menunjukkan dirinya melalui dan dari dirinya sendiri). Eideitic vision biasa disebut juga reduksi, yakni menyaring fenomena untuk sampai pada eidos-nya, pada apa yang sejatinya.
  3. Lebenswelt berarti juga dunia kehidupan, atau “dunia sebagaimana manusia menghayati dalam spontanitasnya”. Husserl mengungkapkan bahwa dunia harian kita telah “tercemari” oleh asumsi-asumsi ilmu pengetahuan dan filsafat, fenomenologi adalah upaya untuk mengembalikan kehidupan pada hakikat kehidupan itu sendiri, atau“dunia apa adanya”.

Pertemuan ke-7: Paul Feyerabend

Membahas filsafat ilmu tidak lengkap kalau tidak membicarakan Paul Feyerabend (1924-1994). Setelah kita membicarakan bangunan metode ilmiah yang kokoh dan mantap, datang seorang Feyerabend yang bersemangat merubuhkan semuanya tanpa ampun. Ia mendadak menjadi musuh nomor satu dunia sains karena bukunya yang berjudul Against Method (1975). Feyerabend dijuluki sebagai anarkis dunia sains.

Paul Feyerabend
Feyerabend meneruskan semangat Kuhnian yang melihat bahwa sains tidak lebih dari sekedar sistem keyakinan. Namun Feyerabend tidak berhenti sampai situ, ia berkesimpulan bahwa satu-satunya cara mengembalikan bangunan metode ilmiah adalah dengan pernyataannya yang terkenal: anything goes. Semua boleh, semua sah, semua valid, semua ilmiah!

Inilah beberapa poin dalam Against Method yang diungkapkan oleh Feyerabend:
  • Sains pada dasarnya adalah semacam pertunjukkan anarkis saja. Prinsip dasar mengenai tidak adanya metodologi yang berguna dan tanpa kecuali yang mengatur kemajuan sains disebut olehnya sebagai epistemologi anarkis. Penerapan satu metodologi apa pun, misal metodologi empiris atau Rasionalisme Kritis Popper akan memperlambat atau menghalangi pertumbuhan ilmu pengetahuan.
  • Dia mengatakan anything goes yang berarti hipotesa apa pun boleh dipergunakan, bahkan yang tidak dapat diterima secara rasional atau berbeda dengan teori yang berlaku atau hasil eksperimen. Sehingga ilmu pengetahuan bisa maju tidak hanya dengan proses induktif sebagaimana halnya sains normal, melainkan juga secara kontrainduktif. Tidak ada satupun ide yang kuno dan absurd yang tidak mempunyai faedah bagi perkembangan pengetahuan.
  • Tidak ada satu hipotesa apa pun, bahkan yang tidak masuk akal, yang tidak berguna untuk kemajuan sains.
  • “Sains itu lebih dekat dengan mitos daripada filsafat. Mitos adalah salah satu bentuk pemikiran yang dibuat manusia, dan belum tentu yang terbaik. …[Mitos] bersifat superior hanya pada yang sudah memihak pada suatu ideologi tertentu, atau yang menerimanya tanpa mempelajari keuntungannya dan batasannya.”
  • Kriteria yang biasa digunakan untuk menguji kebenaran hipotesa, seperti logika dan hasil eksperimen, bukan sesuatu yang harus dipenuhi. Logika dapat dibantah kalau ada kecurigaan bahwa teori yang berlaku berlandaskan pada asumsi-asumsi tertentu (misalnya, Newton dahulu berasumsi waktu tidak berhubungan dengan ruang, yang kemudian dibantah oleh Einstein). Hasil eksperimen tidak perlu dipenuhi kalau dicurigai adanya kesalahan teori pengamatan.
  • Dikekang oleh teori sains modern yang sedang berlaku sama saja seperti dikekang oleh ajaran dogmatik jaman pertengahan Eropa. Dalam hal ini, ilmuwan sains modern mempunyai peran yang sama seperti kardinal Gereja jaman dahulu yang menentukan apa yang benar dan apa yang salah.
...And it is of course not true that we have to follow the truth. Human life is guided by many ideas. Truth is one of them. Freedom and mental independence are others. If Truth, as conceived by some ideologists, conflicts with freedom, then we have a choice. We may abandon freedom. But we may also abandon Truth. – Paul Feyerabend

Pertemuan ke-8: Penutup

Pertemuan terakhir ditutup dengan sebuah kuliah terbuka dari Prof. Dr. Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat UNPAR) . Kuliah ini tidak hanya diikuti oleh peserta Kelas Garasi, melainkan juga dibuka bagi publik seluas-luasnya. Total yang hadir ada sekitar empat puluh orang. Topik pembicaraan dari Pak Bambang sendiri adalah "Filsafat & Kebudayaan: Dimana Langit Dijunjung, Ingat Bumi yang Dipijak".
 
Bambang Sugiharto di Garasi 10
Pak Bambang memulainya dengan memaparkan beberapa cara memaknai hidup. Ada cara memaknai hidup ala agama dan sains yang, kata Pak Bambang, sah-sah saja, tapi kecenderungannya kadang mensimplifikasi kehidupan. Faktanya, kehidupan seringkali sama sekali tidak simpel dan malah mengandung paradoks-paradoks. Paradoks itu diantaranya, "Pembunuh paling keji sekalipun, kalau kita ngobrol-ngobrol lebih dekat, kita bisa menemukan kebaikan. Atau bahkan orang paling alim, kalau kita menelisik lebih dekat, kita bisa menemukan banyak kejanggalan." Artinya, fakta kehidupan seringkali tidak hitam putih sebagaimana digambarkan sains ataupun agama. Agama biasanya dengan cepat menghakimi mana yang boleh dan tidak boleh, sedangkan sains biasanya menyederhanakan persoalan dengan cara misalnya, "Air itu tidak sesederhana H2O, ketika air berada dalam keseharian manusia, maknanya bisa sangat-sangat beragam."
 
Filsafat kemudian tampil sebagai cara memaknai kehidupan tanpa simplifasi dengan sandaran nalar dan pengalaman semata. Filsafat tidak mau terjebak pada dogma-dogma. Lanjut Pak Bambang, "Dan itu naluriah sekali, kecenderungan anak-anak. Banyak bertanya, dan pertanyaannya seringkali memang tidak bisa dijawab." Tapi lebih lanjut, kata Pak Bambang, bukan persoalan jawaban, tapi kecenderungan untuk terus bertanya adalah sesuatu yang sehat, sebagaimana manusia harus terus bergerak untuk kesehatan fisiknya. Pak Bambang melanjutkan bahwa ada juga yang namanya seni. Seni adalah cara memaknai yang mempertahankan kompleksitas kehidupan. Seni tidak punya upaya simplifikasi, seni tidak punya upaya menjadikan seragam. 
 

Pak Bambang menekankan bahwa filsafat adalah penting untuk melihat peta kognitif, "Kita tidak tahu dimana posisi rumah ini kalau saya berada di dalamnya. Saya harus keluar, ke atap, atau terbang lebih tinggi untuk melihat posisi rumah. Pun filsafat juga demikian, ia berguna untuk melihat posisi dari ketinggian." Ia juga tidak lupa menekankan pentingnya pencarian kebenaran sebagai bentuk kerendah hatian, "Mana yang lebih arogan, orang yang terus mencari kebenaran atau orang yang merasa sudah menemukan kebenaran?" 

Pertemuan itu pun ditutup dengan pembagian sertifikat dimana Rudy Rinaldi dan Rahardianto muncul sebagai peserta terbaik Kelas Garasi: Filsafat Ilmu. Pertimbangannya semata-mata karena Rudy tidak pernah absen dari kelas, dan Rahar adalah peserta dengan jarak tempuh terjauh (Cihideung). Sampai jumpa di kelas berikutnya!


Rudy Rinaldi menerima sertifikat dari Bambang Sugiharto

Daftar Pustaka

Buku
Cornwalis, George. The Philosophy of Science: Science and Objectivity. SAGE. London: 1997
Magee, Bryan. The Story of Philosophy: Kisah tentang Filsafat. Kanisius. Yogyakarta: 2008
Muslih, Muhammad. Filsafat Ilmu. Belukar. Yogyakarta: 2004.
Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Sinar Harapan. Jakarta: 2001.
Suwarno, Engkus. Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Widya Padjajaran. Bandung: 2009.
  
Internet

Foto
Foto pertemuan ke-1 sampai ke-7 diambil dari Wikipedia kecuali foto Lingkaran Wina dari sini.
Foto pertemuan ke-8 oleh Patra Aditia


Previous
Next Post »