"Quovadis Seni Tradisi" oleh Setiawan Sabana

Beberapa waktu lalu, Setiawan Sabana menyampaikan satu topik berjudul Quovadis Seni Tradisi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Slide presentasi dari ceramah beliau dapat dilihat di sini.

Abstrak

Seni tradisi kembali menjadi topik pembicaraan. Kali ini bukan mengaitkannya dengan kekuatan atau keindahannya, tetapi mempertanyakan situasi dan kondisinya, nasibnya, dewasa ini "quovadis seni tradisi". Dengan kata lain hampir mempertanyakan eksistensinya kini dan ke depan. Topik ini menjadi objek kajian yang aktual dan menarik, serta menantang. 

Sejumlah seni tradisi di beberapa tempat mulai tergeser oleh seni-seni baru yang sangat digandrungi publik, seni tradisi kurang bahkan tidak dilirik lagi. Dari fenomena ini timbul pertanyaan, bagaimana masa depan seni tradisi; akan punah? Perlu dipertahankan? Kalau ya, bagaimana melakukannya? 

Seni tradisi sering dimaknai sebagai bentuk-bentuk seni masa silam yang bersifat statis yang terus menerus dianut oleh suatu komunitas. Bagaimanakah keadaan di lapangan? Fakta-faktanya? 

Tulisan ini merupakan gambaran yang terkait dengan praktik seni yang memperlihatkan perhatiannya pada seni tradisi, sebagai upaya memperjelas identitas keseniannya dan pada saat yang sama merupakan bentuk pelestarian dan pengembangan nilai tradisi suatu komunitas di suatu wilayah. Pada pembacaan ini dimunculkan karya Pirous, Sadali, Haryadi Suadi, Tisna, Onong, Heridono, Nyoman Erawan, Krisna Murti. Lewat karya-karya mereka, diharapkan terbaca bagaimana seni tradisi berkontribusi danbagaimana proses kreatif masing masing.
Previous
Next Post »