Pembacaan Film "The Mist" (2007)

Sumber: http://movie-wallpapers.org

The Mist, a film directed by Frank Darabont based on a novella by well known writer Stephen King. The movie tells about a mysterious mist that covers a small town named Bridgton. The story centered on a supermarket with people in it, trapped inside by the surrounding mist. Conflict arises as the people inside trying to solve the uncertainty behind the mist. An interesting view on human behavior faced with unknown danger.

Kamis, 24 November 2011
Kelas Garasi Filsafat Ilmu terpaksa ditunda oleh sebab kepergian saya ke Yogyakarta untuk mengurus sebuah konser. Meski demikian, Bilawa dan El mengusulkan tetap adanya kegiatan untuk mengisi kekosongan. Mereka mengusulkan nonton bareng film The Mist (2007) yang diadaptasi dari novel Stephen King. Acara nonton difasilitasi oleh proyektor yang ditembakkan ke dinding garasi. Saya yang urung hadir tetap menyumbangkan tulisan untuk mereka baca setelah menonton. Ini dia tulisannya:

The Mist adalah film yang disutradarai oleh Frank Darabont dan diangkat dari novella karya penulis thriller kenamaan, Stephen King. Film tahun 2007 tersebut berkisah tentang kabut misterius yang meliputi kota kecil bernama Bridgton. Sentral cerita kemudian berada pada sebuah supermarket yang juga terliputi kabut hingga orang-orang di dalamnya tidak bisa keluar. Dari supermarket itu konflik terjadi, tentang bagaimana manusia-manusia di dalamnya mengatasi ketidakpastian di balik kabut. Karena memang, lama kelamaan tersibak juga bahwa banyak monster berbahaya di baliknya, beberapa warga yang mencoba keluar dari supermarket menjadi korban mengenaskan. 

Ada banyak hal menarik yang bisa dicermati dari film The Mist ini, yaitu: 
  • Film tersebut mengingatkan pada novel karya Albert Camus berjudul The Plague. Novel itu berisikan tentang satu kota yang diserang wabah mematikan. Oleh sebab ada kematian yang menanti mereka, maka menarik melihat bagaimana orang-orang merespon. Camus menyimpulkan, bahwa di bawah intaian kematian yang menakutkan, seringkali manusia lari ke arah religiusitas. Karena agama seringkali punya jawaban tentang hidup setelah mati. Dalam tradisi yang lebih populer, film Titanic juga punya nilai-nilai serupa, ketika kapal hendak karam maka orang-orang mulai merespon kematian secara eksistensial. 
  • Menarik mencermati bahwa dalam setiap kekacauan, seringkali ada satu orang yang tampil ke permukaan menyuarakan apa yang harus dilakukan. Dalam The Mist, tercatat ada tiga orang yang berjibaku (mengingatkan pada Cina jaman kekacauan yang melahirkan tiga pemikir, yaitu Kong fu Tze, Lao Tze, dan Mo Tze): 
    • David Drayton – Protagonis yang berusaha melihat situasi ini dengan intuisi serta perasaannya. Ia menimbang bahwa disamping memang situasi di supermarket sudah gawat, tapi juga ia sekaligus harus melindungi anaknya dari pandangan kekerasan serta kekacauan. Drayton adalah seorang utilitarian sejati, bahwa apa yang penting adalah yang bermanfaat bagi orang banyak. Drayton berupaya untuk tidak terjebak pada cara pandang-cara pandang tertentu dalam menyikapi persoalan ini, ia hanya ingin bertindak berdasarkan berdasarkan keseimbangan antara perasaan dan penglihatan. Drayton adalah seperti apa yang Nietzsche bilang bahwa manusia itu tak lebih dari sekedar stachel, ia disengat dan merespon secara intuituf (seperti binatang). 
    • Brent Norton – Seorang pengacara yang, jika dikaitkan dengan filsafat ilmu, maka ia adalah seorang yang betul-betul menganut pandangan empirisme Hume: Apa yang tidak terindrai, adalah ilusi. Ia tidak mau percaya apa yang belum diketahui. Baginya, yang belum kelihatan bisa mungkin apapun. Brent adalah contoh manusia yang terjebak dalam cara pandang tertentu, ia tidak melihat fenomena sebagaimana adanya. Ia melihat fenomena dengan “cara yang ingin dia lihat”, seperti kritik Kuhn terhadap para saintis yang disebut dengan paradigma. Drayton berkali-kali memperingatkan Norton tentang cara pandangnya itu, “Hey, Norton, ini bukan ruang pengadilan!” 
    • Mrs. Carmody – Sama seperti Norton, ia juga terjebak pada apa yang Bacon sebut sebagai idola theatri. Cara ia mengambil kesimpulan adalah berdasarkan apa yang dia percayai dari sudut pandang agama. Ia melihat fenomena ini sebagai semacam kiamat atau hari pembalasan. Awalnya ia dicap gila, tapi lama kelamaan pengikutnya bertambah. Ini mirip dengan fenomena kemunculan nabi-nabi, awalnya selalu dicap sebagai orang abnormal, namun kemudian “kegilaannya yang konsisten” sedikit demi sedikit membuat orang terkagum-kagum. Cara pikir Mrs. Carmody dapat dilihat dengan kebanyakan manusia Abad Pertengahan, bahwa segala perbuatan harus ditopang dengan ucapan, “Ini adalah kehendak-Nya” 
  • Yang paling menarik untuk disoroti dalam film ini tentu saja Mrs. Carmody, ia adalah prototip nabi-nabi yang selalu datang ketika masyarakat dilanda kekacauan. Polanya selalu demikian: ada masyarakat yang mengalami degradasi moral, lalu ada orang yang mengaku “mendengar suara-suara”, lalu kemudian yang terjadi adalah pembuktian-pembuktian. Kunci dari keberhasilan nabi-nabi, selain dari mukjizat, adalah pemberian harapan-harapan. Para pengikut nabi tentu saja adalah orang-orang yang mempunyai semacam perasaan tidak puas dengan kehidupan dunia hari ini, maka ia mencari kehidupan lain yang lebih baik. Kehidupan yang lain ini seringkali utopis dan “tidak riil”, menunjukkan jangan-jangan manusia memang suka apapun yang tidak nyata. Tidak perlu jauh-jauh ke agama, bahkan Karl Marx pun memberikan konsep utopianya untuk “mencari pengikut”. Ia mengatakan sebuah negara tanpa kelas, dimana semuanya sama rata sama rasa, dan kelak juga negara-negara itu tidak dibutuhkan lagi karena manusia bisa mengatur dirinya sendiri. 
  • Film ini juga, seperti The Plague-nya Camus, mengajak kita untuk memikirkan hakikat kemanusiaan itu sendiri, terutama di tengah modernitas. Bahwa modern melahirkan teknologi-teknologi yang membawa manusia pada kemudahan serta kontrol. Kontrol ini merupakan kunci individualisme, bahwa “Aku tak perlu minta bantuan orang lain untuk pergi ke Jakarta, karena aku punya uang dan aku bisa naik travel. Aku tak perlu teman karena aku punya uang dan aku bisa membeli apapun yang aku senangi. Aku tak perlu tetangga karena aku punya pistol untuk mengusir penjahat.” Namun kata Sir Muhammad Iqbal, “Bencana itu penting, agar manusia bisa melihat keseluruhan dari kehidupan.” Pada titik ini, bencana kabut yang ditawarkan oleh Stephen King mengajak manusia merenungkan kembali apa yang prioritas dan apa yang penting dalam kemanusiaan: Ketika hukum ekonomi mengatakan bahwa tentu saja rugi jika barang-barang di supermarket diambil secara gratis, maka dalam kondisi bencana, segalanya boleh diambil secara bebas tanpa kecuali, semata-mata untuk menghidupi manusia itu sendiri. Kemodernan, pada titik tertentu adalah dehumanisasi, manusia butuh berjuang untuk menemukan arti kemanusiaan dalam dirinya. Bencana seringkali menjadi “cara terakhir dari Tuhan” untuk mengingatkan manusia tentang adanya perasaan yang subtil itu. 
  • Armageddon, hari akhir, adalah hal yang sudah lumrah dipercayai oleh agama-agama. Keimanan terhadap konsep-konsep itu seringkali membawa satu kenyamanan tersendiri terutama dikaitkan dengan situasi bencana yang hebat. Dalam sebuah dialog di kelas filsafat Unpar, Pak Bambang Sugiharto membicarakan tentang situasi global yang agaknya semakin lama semakin menuju kehancuran. Bumi semakin panas oleh sebab pemanasan global, manusia juga semakin merusak alam serta dirinya sendiri. Para saintis berjuang sekuat tenaga menghindari problem ini, sedangkan kata seorang di kelas, “Bagi orang beragama yang percaya kiamat, bumi hancur, dunia hancur, ya sudahlah, memang sudah saatnya demikian.” Ini absurd, tapi jika diresapi secara jernih, memang iya menenangkan. 

Syarif Maulana 
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Artcoholic
AUTHOR
8 Desember 2011 07.25 delete

ending filmnya "ngaheureuykeun logika" pisan :)

Reply
avatar