Pembacaan Film "Castaway" (2000)

Second movie "reading" held by Philosophy of Knowledge Class. This time the movie chosen was Castaway with Tom Hanks taking the lead role and directed by Robert Zemeckis. The story revolved around Chuck Nolan (Hanks) who's drifted to an empty island by airplane crash and his struggle to survive without any modern tool. Interesting points of the movie is when he befriend Wilson, a volley ball with face drawn on it, keeping one package that he'd like to deliver when he finally be able to get home, and choices he made to survive situations in the island.

Oleh sebab peserta yang tidak banyak datang, maka kelas filsafat ilmu pertemuan ketujuh yang seyogianya membahas tentang Paul Feyerabend ditunda dahulu. Sebagai gantinya, kami menonton film "Cast Away" yang diperankan oleh Tom Hanks. 


Cast Away adalah film tahun 2000 yang disutradarai oleh Robert Zemeckis. Peran utama film ini diperankan oleh Tom Hanks sebagai Chuck Noland yang bekerja sebagai supervisor di jasa pengantaran FedEx. Pada suatu perjalanan menuju Malaysia, pesawat barang yang ditumpangi Chuck jatuh di Samudera Pasifik dan menyebabkan ia terdampar di suatu pulau. Di pulau tak berpenghuni tersebut, ia bertahan hidup selama empat tahun sebelum ditemukan oleh sebuah kapal besar lewat sebuah perjuangan membuat rakit hingga ke laut lepas.

Selain kepandaian Zemeckis dalam mengambil gambar, film ini juga menyuguhkan beberapa makna yang bagi saya cukup filosofis, inilah dia poin-poinnya:

Wilson si Bola Voli

Pada momen ketika Chuck merasa kesepian, ia menemukan "teman" dalam diri bola voli yang kebetulan ikut terdampar di dalam bungkus paket FedEx. Ketika Chuck berusaha membuat api dengan menggesekkan kayu, tangannya terluka sehingga ia merasa kesal dan melampiaskannya dengan melemparkan bola tersebut. Lalu ia temukan bahwa darah yang menempel pada permukaan si bola bisa dibentuk hingga menyerupai wajah. Akhirnya Chuck membuat wajah pada bola voli itu dan menamainya dengan "Wilson" sesuai merk bola itu sendiri. Wilson selalu diajak berbincang oleh Chuck dalam segala situasi. "Percakapan" antara Chuck dan Wilson kadangkala juga diliputi hal-hal yang emosional dan sentimentil, termasuk ketika Chuck "bertengkar" dan melempar Wilson ke laut, namun akhirnya menyesal lalu minta maaf.

Emmanuel Levinas menempatkan wajah sebagai sentral bagi eksistensi. Manusia berada di dunia oleh sebab wajah. Ini ditegaskan pula dalam novel Face of Another karangan Kobo Abe. Ini kisah seorang ilmuwan jenius yang kehilangan wajah oleh sebab kegagalan eksperimen di laboratorium. Karena ketiadaan wajah, ia tidak bisa berkomunikasi, bahkan ia ditolak sang istri. Dari situ ia menyadari bahwa wajah adalah gerbang komunikasi, suatu gerbang antara diri dengan dunia. Demikian mengapa ketika bola voli itu dilukis wajah, maka ia menjadi ada dan bereksistensi. Padahal bisa saja bola voli itu dilukis jantung, hati, atau otak, namun kita bisa membayangkan bahwa itu semua belum mewakili sebuah eksistensi.

Ketika Wilson hadir dan bereksistensi, gerak gerik Chuck agak berubah. Dalam suatu peristiwa ketika Chuck berkonsentrasi membuat api, ia merasa "diawasi" oleh Wilson yang "berwajah". Chuck menjadi agak was-was dan memperlihatkan gestur cemas. Ini sesuai dengan analogi lubang kunci Jean Paul Sartre. Katanya, "Jika kita sendirian di kamar, maka kita bebas. Tapi jika ada seorang yang mengintip dari lubang kunci, maka eksistensi kita terobjekkan oleh eksistensi yang lain." Jadi keberadaan Wilson, meski imajiner, tapi secara psikologis mengubah kesadaran Chuck menjadi "merasa diobjekkan". Ini penting untuk diingat dalam konsep Tuhan. Tuhan diciptakan, jangan-jangan agar manusia merasa diawasi terus menerus sehingga was-was dalam segala keadaan. "Jika Allah tidak ada, semuanya boleh," kata Dostoyevsky.

Paket yang Tidak Dibuka

Ketika Chuck terdampar, bersamanya juga terdampar paket-paket FedEx. Ia membuka semuanya, kecuali satu yang bergambar sayap. Sampai ia selamat dan kembali ke kota, paket itu tetap tersegel dan ia kirim ke alamat yang dituju meski sudah lewat empat tahun. Hingga akhir cerita, isi paket itu tidak pernah diketahui.

Dalam mitologi Yunani dikenal wanita pertama yang diciptakan di muka bumi ini namanya Pandora. Penciptaan ini dilakukan oleh Hephaestus atas titah Zeus. Karena dendam pada Prometheus yang mencuri api dari Zeus, Zeus kemudian "menyusupkan" Pandora pada Epimetheus, yang merupakan saudara dari Prometheus. Tidak hanya Pandora yang disusupkan, melainkan bersamanya juga sebuah kotak terlarang yang tidak boleh dibuka dalam keadaan apapun. Namun kepenasaranan Pandora tak tertahankan. Kotak itu dibuka dan keluarlah berbagai macam kejahatan yang kemudian tersebar ke seluruh dunia. Pandora menutupnya cepat-cepat hingga tersisa satu hal yang berada di dasar yaitu Harapan. Kotak FedEx yang tidak pernah dibuka itu adalah simbol dari kotak Pandora. Bahwa harus selalu ada yang disisakan untuk tak dijamah, karena yang demikian berisikan harapan.

Antara Rakit dan Wilson

Ketika Chuck melakukan perjuangannya yang terakhir untuk selamat dengan membuat rakit besar, terjadi badai di laut lepas yang membuat rakitnya separuh hancur plus ia kehilangan Wilson. Pada titik ini ia mengalami dilema, apakah mau menyelamatkan Wilson atau bertahan di rakitnya. Untuk ini ia mempunyai solusi sementara, yaitu mengikatkan tangannya pada rakit sementara ia berenang mengambil Wilson. Pada akhirnya Wilson terombang-ambing semakin jauh dan Chuck memilih kembali ke rakit dengan teriakan memilukan, "Maafkan aku, Wilson!

"Manusia adalah tali yang terikat antara binatang dan adimanusia," kata Friedrich Nietzsche. Rakit adalah simbol binatang, karena disana mengandung elemen survival yang kuat, dengan menaiki rakit berarti tingkat kemungkinan bertahan hidupnya lebih tinggi. Sedangkan Wilson adalah simbol adimanusia. Adimanusia menurut Nietzsche adalah mereka yang menciptakan nilai-nilai alih-alih diperbudak oleh nilai-nilai. Wilson sendiri bagaimanapun adalah ciptaan Chuck beserta nilai-nilai di dalamnya.

Demikian apa yang bisa saya maknai dari film Cast Away. Tentunya pemaknaan ini adalah pemaknaan di balik fenomena. Fenomenanya sendiri tidak perlu saya bahas karena sungguh film ini sudah bagus dan memikat. Moga-moga pemaknaan ini memang betul-betul mengada-ada, seperti lazimnya kegiatan para filsuf yang rajin mengada-ada.

Oleh Syarif Maulana
Diambil dari blog Penggalau Sejati (http://syarifmaulana.blogspot.com/)
Previous
Next Post »