Musik Garasi: Mengapresiasi Cianjuran di Garasi


Jumat, 23 Desember 2011
Di malam hari itu, Garasi 10 kedatangan sejumlah orang dari Sanggar Candrawulan yang siap bermain Cianjuran. Meski awal mulanya kegiatan ini sepi peminat, namun seiring dengan musik yang berjalan, berduyun-duyun orang berdatangan.




Secara stereotip, permainan Cianjuran ini membawa suasana menjadi seperti di kawinan atau hajatan, karena memang biasanya di acara seperti itu Cianjuran digunakan. Namun apa yang ditampilkan di Garasi 10 itu menjadi lain karena Cianjuran diapresiasi murni: dilihat, didengar, dirasakan tanpa melakukan kegiatan lainnya. Cianjuran bisa dibilang format "minimalis" dari kesenian Sunda. Ia hanya bermodalkan kacapi indung, kacapi rincik, suling, dan penembang. Saya pribadi menemukan format seperti ini di hotel-hotel. Di kawinan biasanya saya mendapati "orkestra" degung yang memang formatnya "maksimalis".

Dengan format minimalis ini, auranya memang menjadi sangat cocok untuk ditampilkan di garasi, sebagaimana halnya string quartet untuk di ruang konser yang hanya sebesar "kamar". Alunan tembang yang beradu dengan suling amat serasi dan ngawawaas. Kang Trisna yang berada di sebelah saya sampai bilang, "Pengen nangis dengernya." Kelebihan konser di garasi seperti ini adalah kesamarataan pemain dan apresiator, sehingga bisa diadakan tanya jawab di sela-sela acara. Kang Dodong Kodir, seorang praktisi karawitan dan juga musik kontemporer, menyatakan, "Kesenian Sunda itu kaya sekali, nanti kita bisa lihat ragam tangga nadanya mulai dari pelog, salendro, hingga madenda. Nanti malah bisa iringan salendro tapi nyanyinya pelog, jadi dua tangga nada yang berbeda ditabrakkan."

Dalam pertunjukkan dua jam setengah itu, berbagai eksperimen dicoba untuk memperkaya pendengarnya. Konser hari itu juga untuk pertama kalinya Garasi 10 menggunakan sound system agar output suara lebih optimal. Demikian pertunjukkan tersebut agaknya menjadi cukup penting, kata Bu Elis, salah seorang budayawan: "Anak muda sekarang kurang mengenal budaya Sunda, kita sering-sering saja mengadakan acara seperti ini agar budaya Sunda terus lestari."

Oleh Syarif Maulana
Previous
Next Post »