Liputan Kelas Garasi: Filsafat Ilmu #6

Kamis, 15 Desember 2011

The class is reaching its final and the participants should prepare their essay. The challenge of writing an essay could be well understood since the tradition of writing an academic paper is not common in the society. Although in educational institution it is already a part of the curriculum but still it is used as a mere prerequisite for graduation. Rudi already got a fixed topic "The Concept of Self Based on the Movie Rango", Rahar with "Necrophilia", El and his "Visual Response", and  Eki with his really interesting topic: "The Phenomena of Women Wearing Hotpants in Shoping Malls."

Kelas filsafat ilmu sudah hampir mencapai pamungkasnya. Pertemuan keenam berarti dua kelas lagi menuju akhir. Tugas puncak berupa penelitian kecil sudah mulai sering didengungkan dan dibahas. Rudi adalah yang paling fokus karena ia sudah memantapkan judul penelitiannya yaitu "Konsep Diri menurut Film Rango", sedang Rahar masih berkutat dengan tema besarnya yaitu necrophilia, sama dengan El yang juga masih abstrak yaitu tentang respon visual. Peserta lainnya masih belum juga menemukan bayangan. 

Ini bisa sangat dipahami oleh sebab tradisi penelitian bukanlah sesuatu yang akrab dalam dunia pendidikan kita. Memang ada skripsi, tesis, disertasi, dan sebagainya, tapi kita bisa asumsikan yang demikian adalah memang "sudah seharusnya", karena menjadi semacam syarat mutlak kelulusan. Tidak ada denyut untuk melakukan penelitian freelance tanpa ada suruhan dari kampus. Padahal, di negara maju seperti Korea misalnya, peneliti sangat dihargai. Gajinya tinggi dan hidupnya terjamin. Ini hanya dimungkinkan jika tradisi penelitian memang hidup di negara tersebut. Di Indonesia kadangkala untuk dikabulkannya sebuah proposal penelitian, sulitnya minta ampun agar turun dana. 

Lebih jauh lagi, oleh sebab sedang membahas topik "Ilmu-ilmu Sosial", ditekankan pula bahwa peneliti di bidang sosial sedikit lebih banyak diperlukan masa sekarang. Penyebabnya, harus ada penyeimbang antara teknologi dengan humanitas itu sendiri. Sarjana sains menghasilkan banyak teknologi baru, sedang sarjana sosial harus sanggup menyelamatkan sisi kemanusiaan yang kadang tergerus oleh teknologi itu sendiri. Ambil contoh mudahnya adalah produksi mobil yang terus menerus. Mobil adalah jelas produk sains yang canggih. Namun lihat persoalan sosial yang ditimbulkan oleh makin banyaknya mobil, mulai dari kemacetan, keamanan, hingga kenyamanan. Ini harus dipecahkan oleh sarjana sosial dan sifatnya segera!

Ilmu sosial yang lebih berfungsi sebagai pemaknaan ketimbang peramalan, punya peran pragmatis seperti misalnya: Kampung Naga kenapa tetap lestari sampai sekarang, pasti ada peran peneliti disana, yang menyebutkan Kampung Naga sebagai unik dan punya cultural heritage. Coba bayangkan jika tidak ada bidang keilmuan yang pernah menyentuh Kampung Naga, mungkin pihak properti sudah menggusur dan menjadikannya mal untuk kepentingan bisnis. Jadi mulailah meneliti, mulai dari yang sederhana seperti tukang nasi goreng, hingga kata Eki, "Saya mau meneliti pemakaian hotpants di mal-mal." Apakah Eki sedang ngeres? Belum tentu, bisa jadi sangat menarik!

Syarif Maulana
Previous
Next Post »