Liputan Kelas Garasi Filsafat Ilmu #4

Kamis, 1 Desember 2011

After an absence in the last class, I was back at the class on December the 1st. The topic was Logical Positivism vs. Karl Popper. Before getting to deep on the area of Logical Positivism, a brief explanation on the philosophy of language analytic by Ludwig Wittgenstein was conducted.

Setelah absen di pertemuan sebelumnya, saya kembali hadir di pertemuan Kamis tanggal 1 Desember. Topiknya adalah Positivisme Logis vs Karl Popper. Namun sebelum masuk ke ranah pembahasan Positivisme Logis, terlebih dahulu dibahas secara singkat pemikiran filsafat analitik bahasa oleh Ludwig Wittgenstein.

Awal abad ke-20 ditandai dengan kasak-kusuk para filsuf tentang bahasa. Setelah sebelumnya Bertrand Russell, muridnya pun meneruskan dengan sangat serius, namanya Ludwig Wittgenstein. Wittgenstein menyatakan dalam bukunya, Tractatus Logico Philosophicus, bahwa bahasa adalah gambar fakta. Bahwa dunia ini adalah sekumpulan fakta, oleh sebab itu cara menggambarkannya adalah dengan bahasa. Efeknya, metafisika sebagai sekumpulan "bahasa tanpa fakta" dihancurkannya. "Lucunya," saya bilang, "Ia menulis buku kedua, judulnya Philosophical Investigations, yang dengan gamblang menentang pemikiran buku pertama." Sayangnya, buku Tractatus terlanjur diadopsi secara serius oleh sekelompok cendekiawan di kota Wina yang menamai diri Lingkaran Wina, yang bergerak di ranah Positivisme Logis (Lengkapnya baca di sini).

Sekedar intermezzo, di tengah-tengah kegiatan belajar yang waktu itu peserta banyak yang sedang berhalangan sehingga hanya berempat saja, ada orang tiba-tiba masuk ke Garasi. Perempuan tua lusuh dan dapat diasumsikan kurang waras. Ia masuk dan tertawa sedikit, melihat makanan sebentar, lalu bergegas pergi. Kami semua terdiam seribu bahasa dengan perasaan yang amat tegang. Setelahnya kami tertawa-tawa dan berkata, "Kedatangan ibu tadi, jangan-jangan ia seorang filsuf besar." Saya jadi ingat Diogenes, filsuf dari Kaum Sinis yang terkenal di era Hellenisme. Ia lusuh dan hidup di tong, namun berani berkata pada Alexander Agung, "Jangan berdiri di sana, kamu menghalangi sinar mentari." Setelah momen itu, pelajaran kembali dilanjutkan dengan membahas Karl Popper. Ia menjadi cikal bakal paradigma baru bernama post-positivisme yang merupakan kritik keras terhadap kaum positivisme yang terlalu naif menganggap penelitian itu harus bebas nilai.

Proyek penelitian kembali dibahas setelah digaungkan minggu lalu. Rahar sudah punya ide, ia ingin membahas necrophilia, Rudi ingin membahas agama, dan El ingin membahas tentang fotografi. Semuanya boleh, semuanya asyik, asalkan sanggup memilih metode yang paling pas. Ikuti terus!

Syarif Maulana
Previous
Next Post »