Filsafat Ilmu: Positivisme

The starting point of scientific methods, the Renaissance Era, marks a new era as people starts to think using their own logics. The Middle Age is passed and people finding another way of thinking outside the dogma of the church. Renaissance Era is a foundation of the modern world, where great advancement in arts, science, and philosophies was reached.

Berakhirnya Abad Pertengahan di Eropa -yang mana merupakan semacam era dimana keyakinan terhadap Tuhan melebihi segala-galanya- menciptakan suatu era baru bernama Renaisans. Inilah “era manusia”, ketika manusia menemukan gairah untuk berpikir atas nalarnya sendiri. Renaisans disebut-sebut sebagai pijakan awal suatu jaman yang disebut dengan modern. Ada perkembangan serius dari sains, seni, maupun filsafat. Terutama pada sains, Renaisans adalah cikal bakal dimulainya suatu metode penyelidikan ilmiah. 

Francis Bacon 

“Ukurlah apa yang dapat diukur dan buatlah agar dapat diukur sesuatu yang tidak dapat diukur.” –Galileo Galilei 

Itulah tagline terkenal dari Galileo Galilei, seorang pemikir asal Italia. Ia berpendapat bahwa buku alam ditulis dengan bahasa matematika. Nyaris bersamaan, di Inggris muncul seorang bernama Francis Bacon yang lahir tahun 1561 (Galileo lahir tahun 1564). Bacon disebut sebagai “Bapak metode ilmiah”. Orang pertama yang mencetuskan suatu cara untuk menelaah sesuatu yang sekarang disebut ilmiah alias scientific method. Bacon mengatakan bahwa yang ilmiah adalah memang digeneralisasi dari apa yang kelihatan atau empirik. Itu mengapa metodenya disebut dengan metode empiris. Namun bukan itu saja, ia mengajak kita berhati-hati, sebelum menggeneralisasi, ada baiknya mengenali empat kesalahan/godaan berpikir, yang ia sebut sebagai idola: 
  1. Idola trubus: Menarik kesimpulan tanpa dasar secukupnya, berhenti pada sebab-sebab yang diperiksa secara dangkal. Kecenderungan untuk percaya pada bukti yang disodorkan pancaindra dengan membiarkan penilaian kita diwarnai oleh perasaan. 
  2. Idola specus: Menarik kesimpulan berdasarkan prasangka, prejudice, dan selera a priori. Seperti subjektivitas yang diliputi oleh chauvinisme, seksisme, atau latar belakang budaya dan agama.
  3. Idola fori: Menarik kesimpulan berdasarkan pendapat umum, atau bisa juga oleh kesalahpahaman bahasa. Ada dua cara kata-kata menipu kita, kata Bacon. Pertama, kata yang sama dapat memiliki sejumlah arti yang berbeda bagi orang-orang yang berbeda. Kedua, manusia memiliki kecenderungan untuk mencampuradukkan bahasa dengan kenyataan. 
  4. Idola theatri: Menarik kesimpulan berdasarkan ideologi, kekuasaan, atau pendapat-pendapat para filsuf. Bisa juga oleh sebab dogma serta kepercayaan mistis. 
Bacon adalah cikal bakal positivisme, suatu pandangan yang berdasarkan pengamatan empirisnya, kemudian mengklaim bahwa sains mestilah objektif dan bebas nilai, serta mempunyai sifat universal. Hal yang diteruskan dengan sangat bersemangat oleh August Comte ratusan tahun kemudian. 

August Comte 

Comte dilahirkan tahun 1798. Ia percaya bahwa perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap. Yang pertama, yang paling primitif, adalah tahap teologis. Ini adalah fase dimana manusia memandang segala sesuatu berasal dari dewa, ruh, atau Tuhan. Yang berikutnya adalah tahap metafisik, yang memandang segala sesuatu atas pengertian-pengertian metafisik seperti subtansi, sebab, prinsip pertama atau form. Yang terakhir adalah tahap positif, tahap dimana alam pikir manusia mengadakan pencarian pada ilmu absolut, mencari kemauan terakhir dan sebab pertama berdasarkan metode ilmiah. Metode ilmiah yang dimaksud Comte adalah observasi, eksperimentasi, dan komparasi. 

Comte juga mengajak kita untuk memahami objek positif, yang terlebih dahulu memilah dengan pasti tentang mana ‘yang nyata’ dan mana ‘yang khayal’; mana ‘yang pasti’ dan mana ‘yang meragukan’, mana ‘yang berguna’ dan ‘yang sia-sia’, mana ‘yang mutlak’ dan ‘yang relatif’. Comte adalah peletak dasar distingsi ilmu pengetahuan yang ketat dengan metode-metodenya yang juga ketat. Ia percaya pada ‘agama kemanusiaan’, semacam agama yang disandarkan pada sains dan kesahihan metodenya. Comte tidak hanya berkutat di wilayah ilmu pengetahuan alam, ia juga masuk ke ranah sosial, dimana kepercayaannya juga disertakan. Ia percaya bahwa hubungan manusia bisa dibaca secara pasti, empirik, dan objektif. Maka itu lewat Comte turut lahir juga ilmu sosiologi. 

Kita bisa mengakui bahwa Bacon dan Comte memberikan sumbangsih tak terkira bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Ada suatu optimisme bahwa segala persoalan bisa diselesaikan jika kita mau berpikir secara ilmiah. Apa pendapatmu? Apakah pemikiran mereka mengandung kelemahan? 

Syarif Maulana 
Previous
Next Post »