Filsafat Ilmu: Positivisme Logis vs Karl Popper

At the beginning of the 20th century, western philosophy was dwelling on the problems of the language. The growing of scientific method with positivism as its base, was taking some thinker to take hard stance on deciding which one is real and which isn’t. Serious attempt on destroying metaphysics was initiated by a group of Vienna scientist and philosophers, known as the Circle of Vienna or the Logical Positivism. Their thoughts were inspired by the thoughts of Ludwig Wittgenstein, an Austrian philosopher.

Awal abad ke-20, filsafat Barat disibukkan dengan problem bahasa. Berkembangnya metode ilmiah dengan positivisme sebagai sandarannya, membawa beberapa pemikir untuk lebih tegas terhadap mana yang riil dan mana yang bukan. Ada upaya penghancuran metafisika secara serius oleh kelompok ilmuwan dari Wina yang disebut dengan Lingkaran Wina atau Positivisme Logis. Pemikiran mereka terutama diinspirasi oleh pemikiran Ludwig Wittgenstein, seorang pemikir Austria yang lucunya, tidak pernah merasa pemikirannya diadopsi dengan baik oleh Lingkaran Wina. 

Positivisme Logis

Kelompok Lingkaran Wina atau Positivisme Logis berkembang pada tahun 1920-an. Isinya adalah para ilmuwan terkemuka di Wina masa itu seperti Moritz Schlick, Rudolf Carnap, dan Otto Neurath. Bersama-sama mereka bersemangat untuk membuat sains terpadu atau unified science. Cita-citanya, sains diterapkan oleh satu bahasa yang sama, sehingga menghindari kekeliruan dalam membedakan mana yang bermakna (meaningful) dan mana yang tidak bermakna (meaningless). Untuk mencapai hal tersebut, terlebih dahulu diungkapkan sebuah pernyataan yang terkenal: “Pernyataan yang bermakna adalah yang terbuka kemungkinan terhadap verifikasi”. 

Artinya, jika aku menyebut “Uang di tasmu ada seratus ribu rupiah” adalah bermakna karena membuka kemungkinan terhadap verifikasi. Persoalan apakah di tasnya ternyata hanya ada uang seribu rupiah itu lain soal karena yang terpenting adalah pernyataannya itu sendiri mempunyai makna. Demikian halnya dengan pernyataan “Apakah hari ini hujan?”, “Di Mars terdapat kehidupan”, atau “Apakah ya besok kita akan berjumpa?” adalah bermakna karena bisa dicek kebenarannya. Sebaliknya, pernyataan seperti “Membunuh itu dosa”, “Di akhirat ada bidadari perawan” atau “Tuhan duduk di atas singgasana” adalah meaningless oleh sebab tidak punya kemungkinan untuk dilakukan verifikasi. 

Positivisme Logis kemudian lewat rumus tersebut dengan tegas menolak metafisika karena dianggap, “Tak lebih dari sekedar serangkaian pernyataan tak bermakna.” Mereka berharap setelah demarkasi tegas ini, sains bisa bersatu dalam satu bahasa yang bermakna. 


Karl Popper 


Karl Popper, meskipun sama-sama orang Wina, namun ia menolak dengan tegas pemikiran kaum Positivisme Logis. Katanya, pernyataan metafisika, meskipun tidak ilmiah dan tidak terbuka terhadap verifikasi, namun bukan berarti tidak bermakna. Ia bisa saja bermakna, bahkan bisa jadi benar. Untuk yang satu ini, ia menolak verifikasi dan lebih memilih metode falsifikasi. Katanya, “Sains dibangun berdasarkan falsifikasi dan bukan verifikasi.” Falsifikasi bermula dari hipotesis, misalnya, “Semua angsa berwarna putih”. Hipotesis itu dianggap benar hanya selama belum ditemukan angsa berwarna hitam. Kata Popper, “Semakin teori terbuka terhadap falsifikasi, maka semakin ilmiah teori itu.” Maka itu pernyataan seperti, “Hidup itu penuh anugerah” barangkali bermakna, namun ia tidak bisa menjadi suatu pernyataan ilmiah karena pernyataan semacam itu tidak terbuka cara untuk memfalsifikasi. 

Atas dasar itu, Popper menegaskan, “Bagi saya tidak ada yang namanya kebenaran. Yang ada adalah penangguhan: Segala sesuatu adalah benar sampai dibuktikan salah.” Pemikiran Popper ini menjadi cikal bakal metode post-positivism yang menekankan metode triangulasi, observasi partisipan, serta studi pustaka yang memadai. Post-positivism ingin memperbaiki paradigma positivisme yang terlalu kental dengan observasi yang terpisah, bebas nilai, dan behavioralistik. Post-positivism juga menolak klaim universalitas yang diambil dari partikularitas. Sesuatu yang bagi Popper dianggap sebagai “arogansi” positivisme. 

Syarif Maulana 
Previous
Next Post »