Liputan Kelas Garasi Filsafat Ilmu #1

"What is philosophy?" I asked. "Love of wisdom," answered by most of the participants, there were eight people. Such answer is of course taken from the root of the word ‘philo’ which means wisdom and ‘sophein’ which means love. This is the debut from Kelas Garasi (Garage Class) Philosophy of Science. This class is planned to be held every Thursday at 18:30 WIB of eight session. The first session last thursday was to discuss the definition and introduction to philosophy of science itself. Starting from what is philosophy, what is science, and what is the philosophy of science?


3 November 2011, Hujan deras mengguyur Bandung.
"Apa itu filsafat?" tanya saya. "Cinta kebijaksanaan," demikian jawab sebagian besar peserta yang jumlahnya ada delapan orang. Dasar jawaban itu tentu saja diambil dari akar kata filsafat itu sendiri yaitu philo yang artinya kebijaksanaan dan sophein yang artinya cinta. Inilah debut dari Kelas Garasi yang bertemakan Filsafat Ilmu. Kelas ini rencananya akan digelar setiap kamis pukul 18.30 dengan paket delapan pertemuan. Pertemuan perdana kemarin membahas mengenai pengertian maupun pengantar filsafat ilmu itu sendiri. Mulai dari apa itu filsafat, apa itu ilmu, dan apa itu filsafat ilmu? 

Filsafat memang iya, sesuai namanya, ia adalah cinta kebijaksanaan. Namun dalam perkembangannya, filsafat ini kadangkala menjadi eksklusif, menjadi punya metode-metode yang ketat. Di Barat era Modern, filsafat menjadi cara berpikir yang wajib mempunyai tiga syarat: kritis, sistematis, radikal. Selain itu dibedakan pula bahwa kebanyakan pemikiran timur yang termasuk ke dalamnya agama, adalah bukan filsafat, oleh sebab tiadanya kesempatan berpikir dan hanya menerima dogma-dogma. Hal ini tidak sepenuhnya benar karena timur juga mempunyai caranya yang khas dalam mencintai kebijaksanaan, dan punya kekritisannya sendiri dengan cara yang juga khas.

Problem apa itu ilmu, dan apa itu pengetahuan lebih ke persoalan bahasa. Akhirnya disepakati bahwa ilmu adalah "pengetahuan yang terstruktur", sementara pengetahuan itu sendiri adalah apa yang menjadi dasar ketahuan kita baik lewat sumber apriori maupun aposteriori. Jika menyebut sains, maka itu kurang lebih sama dengan menyebut ilmu, walaupun ada pergeseran definisi yang kemudian menjadikan sains identik dengan "ilmu pengetahuan alam". 

Filsafat ilmu adalah suatu metode untuk menelaah ilmu secara ontologis, epistemologis dan aksiologis. Misal, ontologisnya, "Apa itu hakikat ilmu? Dari mana ia datangnya?" epistemologisnya, "Bagaimana kita tahu apa yang valid dan yang tidak? Apa saja yang mampu kita ketahui?" sedang aksiologis berkutat di ranah, "Bagaimana ilmu itu disebut baik? Apa itu etika keilmuan?" 

Setelah materi tentang "penertiban istilah" di atas, berikutnya dibahas tentang pengantar logika. Ini dibicarakan agar peserta terbiasa berpikir tertib, tahu apa yang valid dan tidak, tahu dimana letak kerancuan berpikir, dan tahu apa perbedaan berpikir induktif dan deduktif. Ini merupakan dasar yang tak kalah penting karena segala argumen keilmuan biasa dibangun atas dasar logika-logika yang "lurus dan tepat".

Kelas itu sendiri berakhir pukul sepuluh lebih oleh sebab diskusi non-formal yang asyik dan berkepanjangan. Kelas ini diharapkan tidak mengurangi esensinya sebagai kelas dalam arti sebenarnya, yaitu ruang tempat ilmu ditukarkan, ditransfer, dan diolah dalam rangka mengasah akal budi dan batin yang jernih. Minggu depan akan membahas sumber pengetahuan yang termasuk di dalamnya adalah pemikiran rasionalisme Descartes, empirisisme Hume, dan kritisisme Kant. Sudah terlambat untuk mendaftar? Rasanya belum, ini info lengkapnya.

Syarif Maulana
Previous
Next Post »