Liputan Kelas Filsafat Ilmu #2

The discussion today was pretty solid. After discussing Descartes' cogito ergo sum we went into the thinking of skeptic warrior David Hume and a very disciplined critics Immanuel Kant. The objectives is to discipline our thinking about where the real source of knowledge comes from. After our way of thinking is disciplined, about where the source of our knowledge comes from, the next discussion will begin on the pursuit of positivism: the foundation to uncover the secrets of the universe and social life. Keep following our journey!




Kamis, 10 November 2011

"Apa yang sejati dari sebatang lilin?" tanya saya. Ada yang menjawab warna, rasa, bau, ada yang menjawab ukuran, dimensi, volume. Namun mari kita tanya Rene Descartes dalam percobaannya pada lilin yang dibakar. "Warna, rasa, dan bau berasal dari persepsi indra kita. Namun sifat sejati lilin adalah dimensinya. Itulah yang bisa kita ukur secara objektif," demikianlah sang rasionalis bersabda. 

Pembahasan hari itu cukup padat. Setelah membahas Descartes dengan cogito ergo sum-nya. Kami masuk ke pendekar skeptik David Hume dan pengkritik disiplin bernama Immanuel Kant. Tujuannya adalah: Menertibkan pemikiran kita tentang darimana sesungguhnya sumber pengetahuan. Descartes menjawab bahwa sumber pengetahuan adanya di akal kita, atau ia menyebutnya sebagai innate alias ide bawaan. Hume mengatakan innate itu ilusi, pengetahuan kita hanyalah berasal dari pengindraan. Sedangkan Kant mengritik keduanya dengan mengatakan bahwa memang sumber pengetahuan adanya di pengindraan, namun pengindraan selalu menempatkan apapun yang ia cerap dalam ruang dan waktu dan dua belas kategori

Bilawa, seorang fisikawan, bertanya, "Bukankah sebab-akibat itu fakta?" Pertanyaan ini datang setelah merespon pernyataan Hume yang mengatakan bahwa sebab akibat adalah ilusi, tidak ada pengindraan kita yang menyatakan sebab akibat. Yang ada adalah: dua fenomena berdekatan yang kelihatan bahwa yang satu mendahului yang lain, sehingga terlihat yang satu bergerak oleh karena yang satu lagi. Tapi lanjut Hume, "Oleh karena itu adalah ilusi." Namun jika Hume menjawab pertanyaan Bilawa, ia sesungguhnya akan mengatakan bahwa sebab-akibat adalah kebiasaan kita saja. Bahkan tidak ada satu pengetahuan pun tentang hari esok adalah seperti apa, atau akankah matahari tetap bersinar? (Bagaimana kita bisa janjian dengan David Hume ya?)

Setelah ditertibkan tentang darimana sumber pengetahuan kita berasal, minggu depan pembahasan akan mulai mengerucut ke cara pandang positivisme yang menjadi cikal bakal pendekatan menyibak rahasia alam semesta dan juga kehidupan sosial. Ikuti terus perjalanannnya!
Previous
Next Post »