Dua Senorita di Garasi

For two days, Garasi 10 had a special guest from Spain. Two senoritas, Marina Bollain and Teresa Folgueira, shared their knowledge in guitar, vocal, castanet, and the art of Spanish music. The first day was the Introduction to Castanet Playing Class. The participant was very curious because the different of castanet they usually found in Indonesia compared to the Spanish one. The sound “taratak-taratak” echoed through the garage as the participant tried the castanet in joy.  There were Mutia (the manager), Syarif, Sansan, and Marsella in the class. 

The second day was the Guitar and Vocal Master Class. Bilawa Ade Respati worked with guitarist Teresa Folgueira while Adrian Benn worked with singer Marina Bollain separately. Later they gave performance of Garcia Lorca’s work for guitar and vocal while receiving feedback and suggestion from Marina and Teresa. The two senoritas got their first wayang golek as a gift from Garasi 10 by the end of the day and they gave the Spanish castanet in exchange.

---

Dua hari berturut-turut dua orang Spanyol bertandang ke Garasi 10. Namanya Marina Bollain dan Teresa Folgueira. Keduanya hadir dalam rangka konser di Auditorium CCF hari Selasa, 22 November. Sebelum konser, mereka menyempatkan hadir untuk memberikan workshop vokal, kastanyet, dan gitar. Nah inilah dia, dua senorita di garasi.


Minggu, 20 November 2011

Hari Minggu adalah khusus untuk workshop kastanyet. Kastanyet adalah instrumen khas Spanyol berupa sepasang kayu berbentuk pipih yang diselipkan di ibu jari. Bunyinya taratak-taratak, menjadikan musik yang dihasilkan oleh gitar menjadi sangat aksentual dan ritmikal. Ini adalah sesuatu yang menarik karena kastanyet, meskipun sangat sering dijumpai di Indonesia, namun ternyata yang dibawa oleh mereka sangatlah lain. Marina membawa kastanyet asli Spanyol yang mampu membuat ritmik khas Spanyol juga. Kata Marina, "Kastanyet yang kalian pakai tidak bisa suara yang bervariasi."


Marina kemudian meminjami kami, yang jumlahnya berlima (Saya, Bilawa, Mutia, Sansan, dan Marsella) kastanyet asli Spanyol. Ia mengajari pelan-pelan bagaimana cara memainkannya, dengan Teresa di sampingnya, yang dengan sabar memainkan gitar sebagai pendamping kastanyet. Hasilnya, diantara kami semua, Bilawa tampil sebagai yang paling berbakat. Kata Teresa, "Kamu pasti berdarah Spanyol."

Marina menutup pertemuan hari itu dengan memberikan satu pasang Kastanyet pada Mutia. Harapan kami, pengrajin di Bandung bisa menirunya untuk diimitasi. Bukankah pengrajin kita banyak yang kreatif?

---

Senin, 21 November 2011


Keesokan harinya, kembali datang mereka berdua. Sekarang kedua-duanya memberikan masterclass secara bersamaan. Marina di perpustakaan mengajari Beben, Teresa di garasi mengajari Bilawa. Mereka hanya sendiri-sendiri, seperti privat les maka itu suasana amatlah khusyuk. Setelah sekitar satu jam digembleng, akhirnya Bilawa dan Beben dipertemukan dan diperduetkan. Komposisi Federico Garcia Lorca untuk gitar dan vokal mengalun dari keduanya. 


Setelah rangkaian masterclass itu berakhir, Garasi 10 memberikan suvenir bagi mereka, yakni wayang golek. Teresa mendapat Gatotkaca, Marina mendapat Hanoman. Keduanya menganga tak percaya. Kata Marina, "Betulkah sepadan dengan apa yang sudah kami berikan?" Mereka sungguh gembira, bahkan Teresa tidak mau melepaskan Gatotkaca dari pelukannya. Bersama Mutia, sang manajer, mereka pulang untuk menyiapkan konser keesokan harinya.


Ditulis oleh Syarif Maulana. Foto oleh Mutia Dharma (Classicorp Bandung).
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Mutia Dharma
AUTHOR
29 November 2011 03.34 delete

Catatan kaki:
Membalas kemurahhatian dari Syarif, Marina dan Teresa kemudian balas menghadiahkan 2 pasang kastanyet Spanyol untuk Bilawa dan Syarif :-)

Reply
avatar