Rumah Kertas Rumah Bernas


Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”


Demikian bait pertama sajak Chairil Anwar yang berjudul “Sebuah Kamar”. Menarik sekali. Dari larik-larik tersebut segera dapat dipahami bahwa rumah (kamar dalam sajak itu dapat dibaca sebagai metonimi) adalah sebuah tempat pribadi yang mau tidak mau juga harus menjadi milik orang lain. Ia memblokade penghuninya di dalam, tapi sekaligus  memintanya keluar, juga, di sisi lain, mengajak orang lain masuk.
Jendela yang menempel di kamar—ruang yang notabena paling pribadi di rumah—adalah sebuah celah untuk menatap keluar. Di situ, jendela menjadi penanda yang mengirim pesan bahwa kita sebenarnya tidak pernah bisa bersembunyi: kita selalu ingin melihat dunia. Kita tidak bisa mengelak dari kehendak untuk selalu ingin mengerti dan memahami yang lain. Sebab hanya dengan itu, kita jadi berarti. Bukankah tubuh dan diri kita juga teridentifikasi karena ada tubuh dan diri orang lain.
Sedang pintu? Telah lama sekali kata ini diucapkan orang dengan menempatkan terlebih dahulu kata lain di depannya, yaitu daun sehingga panggilannya menjadi daun pintu. Istilah ini takurung mengundang tafsir. Di situ, pintu sebagai metafor dari ajakan, sebab daun, bukankah tampak melambai jika tertiup angin sepoi sekalipun. Maka pintu, dengan demikian, menjadi kebalikan dari jendela. Ia adalah celah yang mempersilakan orang lain masuk. Pintu adalah penanda bahwa kita sebenarnya adalah makhluk yang rindu dimengerti dan dipahami orang lain.
Begitulah rumah, keberadaannya menegaskan sifat-sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Dan Setiawan Sabana, saya pikir, telah menyadari hal tersebut sejak awal. Itu sebabnya seniman ini membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Lewat pintu garasinya— tentu saja ukuran pintu garasi lebih lebar dari pintu biasa— ia mempersilakan siapapun masuk. Sabana, di situ, tidak hanya meminta orang lain memahami dirinya, tapi juga mengajak orang lain memahami dunia. Ia mengajak siapapun yang masuk ke rumahnya untuk bersama-sama melihat keluar, membaca realitas, setidaknya realitas keseharian di lingkungan terdekat.
Wujudnya bisa beragam: diskusi, pameran, pentas musik dan sastra, hingga obral benda-benda seni. Seperti ingin diserahkan rumahnya itu pada khalayak, sebuah panggung pada pertunjukan seni tradisional.
Jauh lebih ke dalam di balik aktifitas demikian, saya membaca rumah Setiawan sebagai selembar kertas. Maksud saya, sebagai seniman yang selalu terus-menerus menggeluti kertas dalam proses kreatif berkeseniannya, Setiawan rupanya juga hendak menjadikan rumahnya sebagai kertas yang minta ditulisi: dengan apa saja, toh semua hal tidak pernah alfa dari makna, dari pesan.
Menulisi, dalam konteks itu, adalah memberi nyawa. Bukan hanya pada “lima anak” sebagaimana ditulis Chairil, melainkan pada apapun yang dengan nyawa itu menjadi hidup: bukankah tiang  yang menopang atap rumah  juga bisa berkata bahwa betapa setia Tuhan menunggu di situ (bayangkan jika Tuhan taklagi setia dan  berhasrat merobohkannya!).
Rumah yang minta ditulisi sedemikian tentulah akan menjadi lebih ber-nas. Suatu hari ia pasti akan menjadi semacam surat, untuk khalayak, juga yang penting untuk pemiliknya, bahwa betapa rumah telah menjadi saksi—yang dengan begitu ia berarti—bagi perjalanan peradaban. Rumah akan akan menggumpalkan refleksi: telah sejauh mana kita berjalan, telah berapa kali kita menikung.
Barangkali rumah masih akan tetap berdiri manakala kita mati. Barangkali ia akan lebih abadi daripada tubuh kita yang fana. Ya, ia akan abadi jika kita menulisinya, jika di dalamnya kita tak hanya mengembangbiakan anak. Setiawan, sekali lagi, saya yakin menghayati itu. Barangkali ia juga ingin menjadikan rumahnya sebuah nisan, daripada sekedar sebutir batu di kuburan. Maka rumah kertas adalah rumah yang ber-NAS!***

Bandung, Oktober 2011
Dr. Acep Iwan Saidi, M.Hum
Previous
Next Post »