Musik Klasik Mengapresiasi Masyarakat


Kamis, 6 Oktober 2011

Sebelum konser hari Jumatnya, Djava String Quartet diundang tampil terlebih dahulu di Garasi 10. Tidak hanya tampil, mereka juga membuka diri untuk ngobrol-ngobrol dan diskusi. Mereka membawakan tiga karya, yaitu karya Mozart, Beethoven, dan satu lagi Cublak-Cublak Suweng yang diaransemen oleh Budhi Ngurah. 

Di sela-sela lagu, selalu ada pertanyaan mencuat dari beberapa hadirin yang datang. Semisal, "Sejak kapan sih kalian main bersama?", "Gimana perasaan kalian menjelang konser?", "Hal-hal seperti ini, gimana prospek keuangannya?", dan lain sebagainya. Djava yang terdiri dari Rama (biola), Danny (biola), Ade (cello), dan Dwi (biola alto), menjawabnya dengan sabar dan ceria meskipun pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa jadi sangat mendasar. 

Tujuan dari pertemuan ini memang demikian: menjawab pertanyaan yang paling mendasar. Hal yang sulit dilakukan dalam konser musik klasik formal. Dalam konser lazimnya, penonton dan pemain bersikap "profesional", mereka sungguh-sungguh berjarak dan dilarang ikut campur satu sama lain. Penonton mengenal pemain hanya sebagai pemain, dan juga sebaliknya. Dalam garasi ini, penonton dan pemain dirapatkan untuk saling mengenal. Inilah bentuk konkrit dari "musik klasik mengapresiasi masyarakat". 


Acara ngobrol-ngobrol berlangsung tak terlalu lama karena Djava mesti istirahat untuk keesokan harinya. Sisa malam dihabiskan dengan makan-makan.
Previous
Next Post »