Kelas Garasi: Filsafat Ilmu

Sumber gambar: Fapsi
Pengantar
Seorang kawan bernama Palupi bercerita tentang kejadiannya semasa kuliah, “Waktu belajar kalkulus dulu, seorang dosen mengajar langsung pada materi kalkulus. Setelah saya baca bukunya, si dosen itu sebenarnya telah melewati sebuah bab yang mendasar, yaitu dasar keilmuan dan asal muasal kalkulus itu sendiri.”

Cerita Palupi tersebut mengindikasikan adanya penganaktirian peran filsafat bagi sebuah bangunan keilmuan. Filsafat ilmu, yang hampir selalu ada dalam setiap fakultas di kampus-kampus, seringkali menjadi mata kuliah sekunder dan diajarkan selewat-selewat saja. Padahal filsafat ilmu adalah fondasi yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan.

Filsafat ilmu adalah pengembangan dari cabang filsafat yang bernama epistemologi (episteme = pengetahuan, logos = ilmu). Pengembangan tersebut membawa filsafat ilmu pada penjelajahan asal muasal ilmu pengetahuan hingga ke akar-akarnya:
  • Apa yang sanggup diketahui manusia dan apa yang tidak?
  • Betulkah ada pengetahuan yang objektif?
  • Apakah yang diluar penginderaan seperti jiwa, ruh, Tuhan, dan malaikat selayaknya punya tempat dalam ilmu pengetahuan?
  • Bagaimana menguji sebuah pernyataan agar valid dan tak terbantahkan?
  • Dari mana asalnya teori?
  • Bagaimana peran bahasa dalam menggambarkan fakta?
  • Dari mana saja kita mendapatkan sumber pengetahuan?
  • Apa yang dimaksud dengan paradigma?
  • Apakah teknik pengobatan seperti akupuntur dan yoga bisa disebut ilmiah?
  • Dan seterusnya, dan seterusnya.
Lewat intensitas pertanyaan tersebut, bangunan ilmu pengetahuan bisa saja runtuh, tapi bisa saja menjadi lebih kokoh, tergantung bagaimana sains itu sendiri sanggup mengatasi tantangan-tantangan kritis itu. Yang terpenting, filsafat ilmu bukan bertujuan untuk merusak, melainkan mengajak kita untuk memahami batas-batas ilmu pengetahuan, apa yang bisa dijangkaunya dan apa yang tidak, apa yang “pantas” diperbuatnya dan apa yang tidak, serta apa kekuatan sekaligus kelemahannya. Dengan demikian sikap na├»f dan fanatisme berlebihan dalam hal sains bisa terhindarkan, seperti yang sering terdengar dalam khutbah-khutbah: “Sering sekali manusia terjebak dalam ilmu dunia, seperti biologi, matematika, fisika atau kimia. Padahal yang terpenting justru belajar ilmu agama.”

Helllooo?

-Syarif Maulana

Target Peserta:
Sangat disarankan bagi peserta yang menggeluti bidang akademik terutama yang sedang menyelesaikan semacam skripsi ataupun tesis. Namun kelas ini juga tidak tertutup bagi siapa saja yang tertarik.

Pertemuan ke-1: Pengantar
Pengantar ini berkaitan dengan arti filsafat itu sendiri. Setelah membelah diri bidang kajiannya menjadi tiga, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi, pendalaman akan dilakukan pada epistemologi yang menjadi cikal bakal filsafat ilmu. Selanjutnya akan diberikan pengantar logika, yaitu cabang filsafat yang merenungkan hakikat berpikir. Menjadikan logika sebagai bab pengantar adalah upaya untuk mengajak peserta menghindari kerancuan berpikir, mengenali metode induktif dan deduktif, serta mengetahui pernyataan-pernyataan yang dianggap valid dan benar.

Pertemuan ke-2: Sumber pengetahuan
Dari mana asal muasal pengetahuan kita? Apakah bawaan dari lahir atau berasal dari pengindraan? Sesi ini akan mengajak peserta berpetualang pada pemikiran rasionalisme yang menyatakan bahwa pengetahuan sejati terbawa sejak kita lahir. Berikutnya para rasionalis mendapatkan perlawanan sengit dari empirisisme yang mengatakan bahwa manusia lahir kosong, dan pengindraan mulai sedikit demi sedikit menulisi kertas kosong itu menjadi pengetahuan. Rasionalisme dan empirisme didamaikan dengan manis oleh Immanuel Kant yang juga akan dibahas pada sesi ini.

Pertemuan ke-3: Positivisme
Membicarakan bangunan besar ilmu pengetahuan tanpa menyebut positivisme dengan tokohnya, August Comte adalah bagai sayur tanpa garam. Comte adalah orang yang betul-betul optimis dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Ia  menyatakan bahwa evolusi sosial yang sehat haruslah berujung pada fase positif. Fase positif artinya fase dimana ilmu pengetahuan memegang kendali kehidupan dengan basis observasi, eksperimen, perbandingan, dan metode-metode saintifik yang ketat. Meskipun mendapat banyak kritik belakangan, pemikiran Comte pernah sangat merajalela dan pengaruhnya kuat dalam perkembangan sains abad ke-19 hingga abad ke-20. Kaum revisioner berlabel post-positivisme yang mengritik beberapa gagasan positivisme Comte akan juga dibahas pada sesi ini.

Pertemuan ke-4: Positivisme Logis vs Karl Popper
Pesona positivisme tidak luntur meskipun dikritik oleh post-positivis. Sebuah kelompok intelektual di awal abad ke-20 bernama Lingkaran Wina mengembangkan sebuah positivisme yang lebih ketat. Obsesi mereka cukup besar: Menghapuskan metafisika dan menyatukan sains. Lingkaran Wina mencoba mempertanyakan kembali bahasa-bahasa yang tidak bermakna dan tidak bisa diverifikasi. Kata mereka, “Yang benar adalah yang bisa diverifikasi.” Ekstrimisme Lingkaran Wina mendapat tentangan dari Karl Popper yang mengusulkan falsifikasi sebagai jalan keluar bagi pengujian ilmiah.

Pertemuan ke-5: Paradigma
Lewat bukunya, The Structure of Scientific Revolution (1962), Thomas Kuhn menggoncang kemapanan dunia sains saat itu. Alih-alih memercayai alur sains yang linier, ia mengajukan suatu pandangan bernama paradigma. Paradigma secara umum diartikan sebagai sepertangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun sesorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Paradigma itu sendiri tidak universal, melainkan berkubu-kubu, tergantung “komunitasnya”. Setelah pembahasan tentang paradigma itu sendiri, sesi ini akan membahas garis besar tentang empat paradigma yang umum diketahui, yakni positivisme, post-positivisme, konstruktivisme, dan critical theory. Hanya saja, titik berat akan dilakukan pada dua nama terakhir setelah positivisme dan post-positivisme sudah dibahas pada sesi tersendiri.

Pertemuan ke-6: Ilmu-ilmu sosial
Usia ilmu-ilmu sosial belumlah seberapa tua. Dahulu yang dianggap sains adalah terbatas pada ilmu-ilmu alam. August Comte jualah yang punya andil terhadap lahirnya ilmu sosial. Pemikirannya mengilhami kemunculan sosiologi yang diteruskan secara serius oleh Emile Durkheim. Namun metode ilmu sosial kala itu masih tergolong ketat dan menggunakan kaidah-kaidah ilmu alam yang relatif ketat. Berikutnya terdapat upaya untuk mendekati ilmu sosial lewat teori-teori yang lebih “lentur”. Pada sesi ini, titik berat pembahasan akan berada pada fenomenologi Edmund Husserl oleh sebab kekuatan kritiknya pada argument kaum positivis dan signifikansinya pada perkembangan keilmuan di fase-fase berikutnya.

Pertemuan ke-7: Paul Feyerabend
Setelah mempelajari struktur bangunan ilmu pengetahuan di pertemuan-pertemuan sebelumnya, sekarang mari berkenalan dengan Paul Feyerabend yang nyaris memporakporandakannya. Bukunya, Against Method (1975), menunjukkan suatu semangat anarkis yang menyerang segala metode dalam sains.

Pertemuan ke-8:  Penutup
Penutupan akan dilakukan dalam bentuk review pertemuan-pertemuan sebelumnya disertai diskusi ringan tentang dunia ilmu pengetahuan hari ini. Bambang Sugiharto tengah dalam konfirmasi untuk menjadi pembicara sekaligus penutup kelas filsafat ilmu ini.

Persyaratan:
  1.  Kelas dibatasi untuk 10 (sepuluh) orang peserta.
  2.  Kelas diselenggarakan setiap hari Kamis mulai 3 November 2011 pukul 18.30 sampai pukul 21.00 di Garasi 10, Jl. Rebana no. 10, Bandung.
  3. Biaya Rp. 150.000 untuk 8 (delapan) pertemuan akan sepenuhnya dikembalikan pada peserta dalam bentuk konsumsi, hand-out, sertifikat, dan operasional kelas itu sendiri. Pembayaran dapat melalui rekening BCA no. rekening 777 031 8941 a/n Bilawa Ade Respati. 
  4. Selama masih ada tempat duduk, non-peserta boleh mengikuti kegiatan kelas ini.
  5. Informasi hubungi Bilawa (0812-245-0929) 
  6. Pendaftaran dapat dengan mengisi form berikut ini.

Profil Pengajar:
Syarif Maulana lahir di Bandung, 30 November 1985. Lulus S1 Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan tahun 2008 dan melanjutkan Magister di bidang Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran pada tahun yang sama. Setelah lulus tahun 2011, Syarif mengajar di D3 Fakultas Sastra Unpad untuk mata kuliah Logika dan Komunikasi Bisnis. Saat ini Syarif juga mengajar S1 Fakultas Sastra untuk mata kuliah Logika dan Dasar-Dasar Filsafat. Ketertarikannya pada filsafat dimulai sejak mengikuti Extension Course Filsafat Unpar pada tahun 2007. Selain dari berkali-kali mengikuti ECF Unpar, pengetahuan filsafat Syarif diperoleh dari diskusi Madrasah Falsafah Tobucil dan juga hasil membaca buku sendiri serta berdiskusi dengan bapaknya. Selain mengajar gitar klasik, aktivitas Syarif diisi dengan mengajar filsafat di Kelas Filsafat untuk Pemula Tobucil dan juga di garasi rumahnya sendiri. 
Previous
Next Post »