Kelas Garasi: Filsafat dan Psikologi Yoga


Yoga: Bukan Sekedar Olah Tubuh
Saat kita mendengar kata Yoga, asosiasi kita mungkin akan mengarah pada postur-postur tubuh eksotis yang dilakukan berjam-jam oleh para pertapa di India. Mungkin juga asosiasi kita jatuh pada semacam senam olah tubuh ketimuran yang bermanfaat bagi kesehatan dan juga kecantikan. Sejak mulai populer di belahan dunia barat pada abad ke-19, Yoga seolah identik pada penggunaan postur dan olah tubuhnya saja. Padahal, Yoga merupakan salah satu cabang dalam filsafat India klasik yang terkait dalam usaha-usaha mencapai pencerahan dalam hidup.

Apa yang sering kita asosiasikan dengan Yoga dalam keseharian adalah Hatha Yoga, yaitu sistem Yoga yang menekankan pada postur (asanas) dan teknik pernafasan (pranayama). Ia merupakan bagian dari Yoga itu sendiri sebagai suatu metoda asketik dalam mendisiplinkan tubuh untuk persiapan meditasi yang lebih tinggi. Yoga adalah kesatuan filosofi dan sistem praktikal yang diajarkan oleh pertapa Patanjali untuk mencapai suatu kesempurnaan spiritual dalam rangka mendekatkan diri pada suatu supreme being (Isvhara) dan mengalami “pembebasan” (moksha) (Muni, 2001).

Yoga erat kaitannya dengan spiritualitas India. Mereka percaya bahwa terdapat “kebenaran” tinggi (tattva) yang hanya bisa dilihat saat manusia bisa melihat lebih jernih menembus ilusi kosmik (maya). Untuk mencapai kebenaran tinggi ini, manusia harus terlebih dahulu bisa membebaskan jiwanya (purusha) dari alam kasar (prakriti).  Hal ini diperlukan agar manusia mencapai nirvana, terbebas dari karma buruk dan lingkar kausalitas universal (Eliade, et al., 2009). Yoga adalah salah satu jalan yang bisa digunakan. Ia ibarat kendaraan untuk mencapai suatu tujuan, namun bukanlah tujuan itu sendiri.

Terlihat bahwa Yoga sesungguhnya adalah satu kesatuan antara spiritualitas, kesadaran intelektual, dan juga pendisiplinan tubuh. Di tengah hingar-bingar arus kehidupan yang terus membentur batin manusia modern, Yoga menawarkan salah satu cara untuk kembali mengolah rasa dan menemukan ketenangan batin dalam diri seseorang, di samping manfaatnya untuk kesehatan tubuh. Mengenali aspek filosofis Yoga serta kaitannya dengan lingkup sosial, historis, dan budaya akan memberikan kita gambaran lebih luas dan menyeluruh dari ilmu yang eksotis ini; sehingga manfaatnya dapat kita petik tidak hanya dari sisi olah tubuh tetapi juga secara batiniah.

Bilawa A. Respati

Profil Narasumber
Dada Liilananda adalah seorang rahib yoga yang berdedikasi di Ananda Marga - Tradisi Yoga Tantra sekaligus pengajar yoga dan meditasi. Ia dilahirkan di Italia dan mulai berlatihan yoga pada tahun 1977.

Menjadi seorang pengajar yoga pada tahun 1979 dan ia menyelesaikan pelatihan sebagai seorang rahib yoga di Ananda Marga sekaligus sebagai pengajar meditasinya di kota Kathmandu (Nepal) dan Varanasi (India) pada tahun 1982. 

Dia telah bekerja dalam kapasitasnya di organisasi yang berbeda-beda di Ananda Marga di banyak negara di Asia Tenggara, Afrika dan seluruh Amerika Selatan. Saat ini ia berada di Bandung dan sebagai Humas, Penerbitan, dan Sekertaris Hukum untuk Ananda Marga di Asia Tenggara, dan dengan tugas tambahan sebagai koordinator Ananda Marga untuk kegiatan di Indonesia. Karena beliau telah bertahun-tahun mempraktekan dan belajar, dada menjadi sangat bagus dan fasih dalam menjelaskan Filsafat yoga dan Psikologi yoga. Aspek yoga yang berkaitan dengan kesehatan dan dampak dari yoga dalam kehidupan individual dan sosial di masarakat, termasuk aspek sosial-ekonomi.

27 Oktober 2011 | 18.30 WIB
Garasi 10, Jl. Rebana No.10, Bandung
Terbuka untuk umum
Info: Syarif - 0817 212 404
Previous
Next Post »