Filsafat Yoga Bersama Dada Liliananda



Last Thursday (27/10/2011) Garasi 10 had a really special guest in the “classroom”. Dada Liliananda shares his knowledge in Yoga to the people who attended the Philosophy and Psychology of Yoga Class. Dada Liliananda encourages Yoga as one of the mean to reach a spiritual insight which brings peacefulness in life: an important issue in a stressful civilization. He emphasizes the importance of practice. One cannot really understand Divine Beings and enlightment until one really search for it and practicing it. 


"Bagaimana seorang Yogi itu memandang dunia?"

"Akan aku ceritakan sebuah kisah. Syahdan, seorang bapak dengan kekayaan sebanyak tujuh belas gajah tengah sekarat. Menjelang akhir hayatnya ia berbicara tentang wasiat pada ketiga anaknya. Katanya, 'anak sulung aku beri seperdua, anak tengah aku beri sepertiga, anak bungsu aku beri sepersembilan'. Setelah berkata itu si bapak langsung meninggal dunia, meninggalkan kebingungan di tengah anak-anaknya tentang bagaimana membagi tujuh belas gajah dengan bilangan-bilangan itu? Tentu saja, hasilnya tidak akan bulat. Di tengah kebingungan lewat seorang yang menaiki gajah, ia tertarik dengan apa yang tengah dibicarakan. Anak-anak itu bercerita semuanya, dan orang dengan gajah itu memberikan gajahnya agar menjadi genap delapan belas. Dengan jumlah gajah yang delapan belas, tentunya tidak sulit membaginya lagi. Anak sulung mendapat sembilan, anak tengah mendapat enam, anak bungsu mendapat dua, dan hey, berapa total semua itu? ternyata tujuh belas! artinya satu gajah lagi milik orang yang memberi, dikembalikan lagi."

"Dunia itu bagi seorang Yogi adalah seperti gajah ke-18. Ia diperlukan untuk menggenapkan hitungan, tapi setelah hitungan selesai dan warisan dibagikan, maka dunia itu dikembalikan lagi."



Demikian paparan panjang dari Dada Liilananda, seorang Yogi dari Italia yang sekarang menetap di Bandung. Paparannya disampaikan dengan ketenangan yang menakjubkan, dengan cara bertutur yang meyakinkan. Ia datang ke Garasi 10 untuk berbagi mengenai filsafat dan psikologi Yoga. Menyambut kedatangannya ini, Garasi 10 cukup disesaki orang-orang dari berbagai latar belakang dan disiplin. Ada mahasiswa, ada penggelut Teosofi, ada pula penyuka filsafat. 


Dada (panggilan Sanskrit untuk Abang atau Kakak) Liilananda didampingi oleh seorang guru Yoga bernama Riki. Ia mendampingi dalam perannya sebagai penerjemah. Sebelum mulai bicara, Dada berdiam sejenak sambil memejamkan mata selama hampir dua menit, semacam meditasi singkat. Setelah itu barulah pengetahuan demi pengetahuan keluar lancar dari mulutnya. Ia memulainya dari sejarah Yoga itu sendiri yang konon bermula dari tradisi Tantra. Tantra adalah tradisi spiritual yang lahir jauh sebelum agama Hindu-Buddha lahir. Dari tradisi Tantra itu sudah dikenal pose, mantra, pernapasan, dan filosofi yang menjadi cikal bakal praktek Yoga yang berkembang hingga sekarang.

Dada Liilananda kemudian menyebutkan problem setiap manusia ada pada kenyataan bahwa dalam dirinya mengandung hasrat atau keinginan. Keinginan ini adalah asal muasal derita. Kata Dada Liilananda, "Kepuasan material tidak pernah mengandung kesenangan saja atau kesakitan saja. Kepuasan material selalu mengandung keduanya, pleasure dan pain sekaligus." Tapi, lanjutnya, kepuasan spiritual adalah unlimited pleasure. Pertanyaan berikutnya, bagaimana mencapai unlimited pleasure itu? Dada selalu menjawab dengan, "Latihan."




Meskipun ia menyebut latihan Yoga sebagai kuncinya, namun ia percaya dalam setiap tradisi pun ada latihan-latihan sendiri untuk mendisiplinkan tubuh agar mencapai kepuasan spiritual itu. Dada Liilananda juga menekankan pentingnya menertibkan pikiran. Katanya, "Pikiran adalah seperti monyet disengat kalajengking. Ia tidak bisa berhenti dan berlompatan kesana kemari." Celakanya, pikiran juga sanggup menjadikan sesuatu menjadi apa yang kita pikirkan. Misalnya, kata Dada Liilananda, "Jika kita terus-terusan berpikir tentang musuh, maka kita akan menjadi musuh itu juga." Lebih jauh juga ia mengatakan, "Ketika kita memikirkan sesuatu tentang Tuhan, maka sudah jelas ia bukan Tuhan. Tuhan tidak bisa dipikirkan. Ia unlimited sedangkan pikiran kita limited."

Acara yang berlangsung selama lebih dari dua jam itu ditutup dengan sesi tanya jawab yang cukup seru. Jika tidak ditutup, "Saya bisa berbicara hingga satu minggu," kata Dada Liilandanda. Demikian diskusi filsafat malam itu, sembari Dada Liilananda tak lupa memberi pesan, "Diskusi ini hanya berguna untuk merangsang kesadaran. Tanpa praktek, tanpa latihan, diskusi ini tidak artinya sama sekali untuk mencapai spiritualitas."

Oleh: Syarif Maulana
Previous
Next Post »