Bermain di Garasi Profesor


Playing is closely related to spontaneity, authenticity, and self-actualization. The playing world is very human, spontaneous, and genuine in man; expected to balance the distortion of rationality, whose true face are irrationality and absurdity. The Professor’s Garage is a space with valuable meanings, concretely bounded by fields, ceilings, floors, doors, etc. It can be filled by human activities that can produce knowledge, concern, and discourse, as well as ngawawaas through discussions, workshops, entertainment, etc. The Professor’s Garage was born from the 'idea' of the professor himself, namely Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA. The Professor’s Garage then become a spirit, which its strength lies in intellectual and creative power to invite the community to give value and meanings in life.

Kata “Bermain” bukanlah istilah yang selalu identik dengan anak-anak saja, tetapi “bermain”sangat erat hubungannya dengan spontanitas, autentisitas, dan aktualisasi diri. Dunia bermain merupakan suatu dunia yang sangat manusiawi, spontan, dan asli dalam diri manusia, yang diharapkan dapat mengimbangi distorsi dunia rasionalitas yang ternyata adalah irasionalitas dan absurd. Sehingga kebermainan manusia yang asli dan murni sangatlah vital. Kebermainan adalah ekspresi, dimana merupakan bagian dari eksistensi manusia dalam mengaktualisasi diri sekaligus aktualisasi semesta, hal ini dapat dilihat dalam permainan tradisional Jawa Barat yang memiliki nilai dan makna secara transendental kepada Sang Pencipta, Tuhan Semesta Alam. Ekspresi murni ini secara aktif mengkonstruksi keberadaan akan penghayatan kemerdekaan, kreativitas serta spontanitas terhadap semesta yang juga kreatif mengaktualisasi diri di dalam diri kita ke arah harmoni semesta yang seindah mungkin.

Dalam kenyataan, “bermain” dimaknai sebagai sebuah ‘ketegangan’, ‘kegembiraan’, dan ‘keisengan’. Makna tersebut akan mengalami pergeseran nilai ketika dikaitkan dengan ‘di mana’ lokas bermain itu berada, misalnya akan berbeda ketika bermain bola di lapangan ‘becek’ dengan bermain bola di Stadion Siliwangi. Di satu sisi permainan penuh dengan keisengan, sedangkan di sisi lain permainan bola berubah menjadi sebuah pertandingan. Sehingga “Bermain di Garasi Profesor”, tentunya memiliki nilai dan makna yang sangat mendalam, terutama kaitannya dengan metafora kata yang di-‘main’-kan.

Mari kita mulai bermain di Garasi Profesor ini dengan bermain kata. Istilah Garasi pada umumnya merupakan bagian dari rumah yang berfungsi sebagai tempat menyimpan mobil. Mobil ini dapat dimaknai sebagai bagian dari kekayaan atau investasi yang berharga yang kita miliki. Bagi seorang profesor, salah satu barang berharga dari sekian banyak barang berharga yang dimilikinya, adalah pengetahuan yang didapat melalui proses yang cukup lama, baik secara proses mental, penalaran, dan pengalaman tentunya. Sehingga keberadaan Garasi Profesor merupakan sebuah ruang yang memiliki nilai makna.

Garasi Professor sebagai sebuah ruang daerah 3 dimensi, di dalamnya terdapat objek dan peristiwa terjadi. Perspektif lain memaknai adanya ‘ruang kosong’ (yaitu ruang yang dibatasi oleh bidang-bidang) dan ‘ruang isi’ (yaitu ruang yang ditempati massa). Artinya dalam Garasi Profesor, secara kongkrit dibatasi oleh bidang-bidang, langit-langit , lantai, pintu, dll. dan dapat diisi oleh aktivitas manusia yang dapat memproduksi pengetahuan-pengetahuan, kepedulian, dan wacana, serta ngawawaas melalui diskusi, workshop, entertainment, dll.

Perlu ditambahkan juga dalam bermain makna pada Garasi Profesor, paradigma ruang dari budaya timur yang mengatakan bahwa ruang tidak harus memiliki sebuah batas yang jelas. Menurut Lao Tzu, “yang tidak nyata justru menjadi hakekatnya dan dinyatakan dalam bentuk materi.” Sebuah ruang tidak memerlukan pembatas yang jelas/tegas, tetapi mengandalkan perasaan.

Sebenarnya, keberadaan Garasi Profesor ini disebabkan oleh ‘ide’ dari professor yang bersangkutan, yaitu Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA. Sehingga Garasi Profesor ini menjadi sebuah jiwa, yang sepenuhnya bersumber pada kekuatan intelektual dan kekuatan kreatif untuk mengajak masyarakat member nilai dan memaknai kehidupannya sehingga hidup ini memiliki arti.

Dalam catatan sejarah, beberapa kegiatan-kegiatan penting dari kehidupan manusia semuanya terjalin dengan permainan. Misalnya hukum dan ketertiban, perdagangan, industri, kerajinan tangan, kesenian, puisi, filsafat, dan ilmu pengetahuan semuanya berakar dari permainan. Bermain di garasi dapat juga merubah dunia, sebagai contoh Hewlett-Packard di Silicon Valley yang memulai bisnis mereka pada tahun 1939 di garasi yang kemudian menjadi suatu landmark sejarah. Dari sambil bermain, akalbudi yang membentuk bahasa berulang-ulang meloncat dari alam kebendaan ke alam pikiran. Di balik setiap ungkapan yang abstrak terdapat suatu metafora, dan dalam setiap metafora terdapat permainan kata-kata. Dengan demikian manusia terus menerus menciptakan ungkapan-ungkapannya mengenai keberadaan, suatu dunia kedua yang dikhayalkan, di samping dunia yang dialami. Garasi Profesor ini mencoba membangun mimpi dari kekuatan intelektual dan kekuatan kreatif untuk dapat memberi nilai dan makna di kehidupan kita kemarin, saat ini, dan esok menjadi sebuah kenyataan/realitas.

Bermain lebih jauh dan lebih lama di Garasi Professor ini akan membawa kita melihat posisi strategis Garasi Profesor yang telah banyak memaknai nilai-nilai kehidupan, salah satunya Legenda Kertas. Garasi bagaikan sebuah tempat bermain untuk mengeksplorasi, mengenal lebih dalam, lebih akrab, dengan interaksi dan dialog, memunculkan nilai-nilai filosofis akan kepedulian terhadap eksistensi kertas. Padahal kita tahu bahwa berabad-abad kertas telah membawa peradaban manusia menjadi maju seperti saat ini. Di Garasi Profesor inilah ‘teriakan’, ‘jeritan’, ‘rintihan’, dari sebuah kertas dihadirkan kembali untuk membangun apresiasi masyarakat agar peduli terhadap kertas yang ‘pernah’ melegenda.

Lintas budaya, lintas generasi, lintas etnik/etnis, dan lintas-lintas lainnya, membawa Garasi Profesor ini seakan menjadi ruang publik yang ditawarkan profesor Setiawan Sabana, menjadi ruang dialog, ruang kreatif, dan bentuk ruang-ruang lainnya. Karena konsep yang telah berjalan dan muncul dari Garasi Profesor ini adalah menjadi ruang yang tidak memiliki batas, baik secara fisik atau non fisik. Kebebasan inilah yang menjadikan Garasi Profesor dapat dijadikan arena ‘bermain’ bagi kita semua.

Di saat saya masih anak-anak, terlintas dalam pikiran saya bercita-cita ingin menjadi seorang professr dengan asumsi saat itu profesor adalah sebuah entitas kepintaran dari keilmuan seseorang. Secara persepsi dibenak anak-anak saat itu, profesor distereotipkan melalui konstruksi media sebagai sosok yang pintar, konservatif, kutu buku, pelupa, sudah ‘tua’, dan sulit berkomunikasi. Namun itu semua tidak merubah keinginan saya untuk memiliki entitas kepintaran sebagai seorang profesor. Di Garasi Profesor ini, saya bertemu dengan profesor yang berbeda dengan stereotip yang pernah muncul saat waktu kecil. Bermain di Garasi Profesor ini benar-benar sangat menyenangkan.

Dr. Intan R. Mutiaz, M. Ds.

Previous
Next Post »