Sahur Bareng di Garasi 10

Buka bareng sudah menjadi ritual yang lazim di bulan Ramadhan. Sementara itu, KlabKlassik dan Garasi 10 bekerjasama untuk mencoba menjalin silaturahmi dengan cara sahur bareng. Sahur bareng tidak hanya sekadar makan dan minum, tapi juga ada asupan ilmu yang semoga memperkuat puasa kita nantinya. Acara akan dimulai dari pukul 7 malam, berupa acara rutin Pengajian Filsafat. Setelah itu dilanjutkan dengan Tadarus Musik hingga sahur. Seluruh acara dilaksanakan di Garasi 10, Jl. Rebana no. 10, Bandung pada hari Kamis, 11 Agustus 2011. Konsumsi dan makan sahur gratis diberi oleh Allah SWT. Acara terbuka untuk umum. Peserta juga tidak dilarang untuk istirahat dan tidur ketika pengajian atau tadarus berlangsung jika memang tubuh tidak memungkinkan. Berikut deskripsi acaranya:

Jam 19.00 - 21.00
Pengajian Filsafat Garasi 10 #2: Konfusius
Oleh : Syarif Maulana
Ketika Thales di Yunani sana sibuk merumuskan alam semesta ini terbuat dari apa, Konfusius tidak lagi meributkan itu. Ia langsung berbicara tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap dengan sesama. Ketika ditanya hal-hal yang ontologi, ia pun menanggapi dengan dingin, "Kamu tidak akan paham kematian sebelum paham kehidupan." Konfusius hadir ketika Cina tengah dilanda kekacauan parah di segala bidang. Dengan tenang, ia mengajarkan pada kaum muda bagaimana menjaga jalan tengah lewat pembetulan nama-nama. Bahwa sesungguhnya negara kacau oleh akibat menteri tidak lagi menjadi menteri, ayah tidak lagi menjadi ayah, raja tidak lagi menjadi raja. Bahasanya sangat simbolik dan kadang-kadang sukar dipahami, tapi sulit membayangkan apa jadinya Cina tanpa landasan ajaran Konfusius.


Jam 21.00 - 03.00
Tadarus Musik Garasi 10: Meniti Sejarah Musik di Indonesia
Oleh : Diecky K. Indrapraja
Sejarah musik di Indonesia bukanlah sesuatu yang tertata rapi sebagaimana halnya di Barat. Menyebutkan sejarah musik di Barat yang rentangnya hingga ribuan tahun terasa lebih mudah ketimbang meniti sejarah musik di Indonesia yang sebenarnya baru terlewati puluhan tahun ke belakang! Jikapun ada sejarahnya, sumbernya sangat terbatas dan tokoh yang dihadirkan relatif itu-itu saja. Tidak ada upaya penggalian yang serius. Alangkah baiknya jika penggiat atau akademisi musik di Indonesia mengenal juga Slamet Abdulsjukur, Rahayu Supanggah, Sapto Rahardjo, Tony Prabowo, Otto Siddharta, Franky Raden, dsb beserta kemungkinan "periode" yang mereka usung. Tidak cuma mengenal, tapi membuka kemungkinan untuk mensistematisasikan nama-nama itu dalam khazanah sejarah musik di Indonesia yang barangkali belum ada literatur yang mumpuni tentangnya. Tadarus musik ini adalah upaya untuk mengenal dan melestarikan sejarah musik di Indonesia.
Previous
Next Post »