Ruang-ruang, Garasi-garasi

Oleh : Bilawa Ade Respati

Sebelumnya saya tidak pernah begitu memikirkan kata ini serta objek yang dituju olehnya: Garasi. Di tempat ini orang biasa menyimpan kendaraan atau menimbun barang-barang yang jarang digunakan. Ruang yang sepertinya di masyarakat perkotaan, yang kebanyakan memiliki setidaknya satu kendaraan jika lahannya mencukupi, akan memilikinya sebagai sebuah kelaziman. Tidak ada yang aneh. Sebuah kewajaran yang kemudian mengajak pemiliknya untuk kemudian berhenti memaknainya. 

Berbeda mungkin garasi itu dari ruang lain seperti kamar tidur, kamar mandi, atau dapur. Ia mungkin lebih mirip loteng atau gudang. Dengan kamar tidur, kamar mandi, dan dapur, sang pemilik terbentuk ikatannya akibat interaksinya yang tinggi frekuensinya dan seringkali emosional dengan ruang-ruang itu. Ia tanamkan kenangan, kenikmatan, dan ia lakukan kegiatan tertentu di ruang-ruang itu. Sementara garasi, seperti gudang dan loteng, untuk kebanyakan orang mereka hanya semacam tempat penitipan saja. Dibuka kalau butuh, dilewati kalau perlu.

Garasi yang satu ini rupanya mencoba menantang kesan yang lekat dengan dirinya: sekedar tempat penitipan barang, baik kendaraan maupun benda-benda lainnya. Ia juga menantang fungsi-fungsi sekunder yang dialamatkan pada dirinya, tidak cukup untuk sekedar jadi tempat tambahan saat ada hajatan di rumah atau lokasi beranak-pinaknya binatang peliharaan. Seperti seolah memberi pertanyaan yang cukup sulit, “Apakah suatu ruang berfungsi karena nama yang dialamatkan padanya atau karena ia memang dibangun untuk fungsi tersebut?” 

Berkenalan dan berinteraksi dengan Garasi 10 dalam beberapa tahun terakhir ini membuat saya menyimpulkan bahwa isi suatu ruang sepenuhnya adalah kehendak sang pemilik ruang. Hal-hal apa yang ingin ia tempatkan di dalamnya,pengalaman serta ikatan seperti apa yang ingin ia lekatkan dengan ruang tersebut, sepenuhnya ada di kehendak para pemilik ruang tersebut. Sementara kebanyakan orang hanya menumpang menitipkan barang mereka di dalam garasi, Garasi 10 diisi dengan banyak hal selain kendaraan.

Apa yang saya temukan di dalam garasi yang satu ini sangat beragam. Saya menemukan pertunjukan musik, pameran karya-karya seni, pengetahuan-pengetahuan filsafat serta teori musik; saya menemukan diskusi-diskusi, presentasi, dan sekedar wadah mengobrol bersilaturahmi; bahkan di salah satu sudut garasi itu, saya menemukan bagian diri saya sendiri. Di satu sudut saya menemukan diri saya yang bermain musik dan teman-teman lain mengapresiasi. Di sudut lain saya menemukan diri saya menjadi seorang pendengar, mendengar siapapun yang sedang berbagi pengetahuan atau sekedar curahan hatinya saja. Di sudut yang lain lagi saya temukan diri saya menikmati dinding-dinding garasi yang tergantung di hadapannya bermacam karya, pernah pula saya memandangi lantai garasi bertabur karya saya sendiri dan mencoba mempelajari “ajaran tanpa kata-kata” yang saya terima di ruang tersebut. 

Di tengah persoalan-persoalan mengenai “ruang”, Garasi 10 memilih untuk mengingatkan dengan halus bahwa ruang adalah tentang apa yang kita isikan ke dalamnya. Isikan ke dalamnya jamban dan bak air, jadilah ia kamar mandi. Isikan ke dalamnya tempat tidur dan meja belajar jadilah ia kamar tidur. Garasi 10 mengisi garasi ini tidak hanya dengan kendaraan dan beberapa barang yang memang tidak bisa diletakan di dalam rumah. Diisikan ke dalam Garasi 10 itu kesempatan untuk berkarya dan mengapresiasinya, diisikan ide-ide serta pengetahuan, diisikan kecintaan dan harapan untuk menjadi ruang yang bermanfaat untuk banyak orang, diisikan ke dalamnya tawaran-tawaran solusi. Di tengah-tengah peradaban yang lebih akrab dengan berbagai kemelut komentar, analisis, kritik, dan hasil pengamatan, Garasi 10 memilih jalur sunyi yang arif untuk mengambil tindakan demi tindakan dalam mewujudkan visinya.

Ruang adalah apa yang kita isikan ke dalamnya. Garasi ini sudah diisikan ke dalamnya diskusi filsafat, pameran, pertunjukan musik, hingga permainan tenis meja. Tetapi yang lebih penting lagi, ruang ini diisi dengan keterjalinan hubungan manusia yang satu dengan yang lain, menerjemahkan bahasa satu komunitas ke komunitas yang lain. Garasi seringkali adalah wilayah pribadi seseorang, yang jika ada pihak lain masuk bisa jadi dianggap tamu atau penyerang wilayah pribadi. Tetapi bukan untuk garasi yang ini hal itu berlaku, karena pintunya bahkan terus dibuka lebar, tidak takut kedatangan penipu atau pencuri. Ia malah berkata, “Mari datanglah, berbagi bersama kami!” Apa yang bisa dicuri, saat segala sesuatunya telah dibagi-bagikan oleh ruang ini?
Previous
Next Post »